Oleh: Dea Clarisa Haris A.R
Dalam lanskap ekonomi yang terus berubah, perdebatan antara ekonomi kerakyatan dan ekonomi pasar masih menjadi sorotan utama. Keduanya sering kali diposisikan sebagai dua kutub yang berseberangan—yang satu berbasis pada partisipasi rakyat, dan yang lainnya digerakkan oleh mekanisme pasar. Tapi apakah benar kita harus memilih salah satunya?
Ekonomi kerakyatan, dengan akar pada nilai gotong royong dan kemandirian lokal, menawarkan solusi untuk ketimpangan yang selama ini kerap diabaikan oleh pasar bebas. Melalui koperasi, UKM, dan kegiatan ekonomi berbasis komunitas, pendekatan ini mampu memberdayakan mereka yang sering kali tak terjangkau oleh sistem ekonomi arus utama. Ini bukan hanya soal angka-angka pertumbuhan, tapi soal bagaimana masyarakat bisa hidup lebih sejahtera dan bermartabat.
Sebaliknya, ekonomi pasar dikenal karena kemampuannya mendorong inovasi, efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi. Mekanisme penawaran dan permintaan membuka ruang bagi kompetisi sehat dan perkembangan teknologi. Namun, tanpa regulasi yang tepat, sistem ini dapat menciptakan jurang antara si kaya dan si miskin, meninggalkan banyak kelompok yang rentan dalam pusaran ketimpangan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Mana yang lebih unggul?”, melainkan: “Bagaimana keduanya bisa saling melengkapi?” Kita membutuhkan pendekatan yang mampu menggabungkan efisiensi dan daya saing pasar dengan nilai-nilai keadilan dan inklusivitas sosial yang ditawarkan oleh ekonomi kerakyatan.
Contoh keberhasilan bisa kita lihat dari negara-negara seperti Jerman dan Singapura. Di Jerman, koperasi dan UKM menjadi tulang punggung ekonomi. Di Singapura, negara mampu merangkul pasar bebas sambil tetap menjaga perlindungan sosial warganya. Ini membuktikan bahwa sintesis antara dua sistem bukan hanya mungkin, tapi juga efektif.
Indonesia dengan keragaman dan kekayaan sumber daya lokalnya, seharusnya bisa menjadi contoh baru dari keberhasilan hibrida ekonomi ini. Tantangannya ada pada kemauan politik, kebijakan yang berpihak pada rakyat, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pembangunan ekonomi.
Sudah saatnya kita berhenti memandang ekonomi kerakyatan dan ekonomi pasar sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Justru dalam kombinasi keduanya terdapat peluang untuk membangun sistem ekonomi yang bukan hanya tumbuh, tetapi juga merata dan berkelanjutan. Sebab pada akhirnya, ekonomi yang baik bukan hanya soal seberapa cepat kita berlari, tetapi seberapa banyak yang bisa kita ajak berlari bersama.










