Pergi Melaut, Tak Pernah Kembali: Misteri Hilangnya Dua Nelayan Taliabu

Breaking News983 Dilihat

POSTTIMUR.com, TALIABU- Tahun 2025 menjadi tahun kelam bagi komunitas nelayan di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara. Dua orang nelayan dilaporkan hilang saat melaut dan hingga kini tak pernah ditemukan. Keduanya adalah Rudi Liambana (49) dari Desa Kawalo, Taliabu Barat, dan Coh (32) dari Desa Nunca, Taliabu Utara.

Peristiwa ini terjadi di bulan yang berbeda namun dengan akhir cerita yang serupa: hilang ditelan laut tanpa jejak.

Rudi Liambana dinyatakan hilang pada 2 Januari 2025 saat melaut di sekitar perairan Telaga Likitobi, menggunakan perahu mesin ketinting. Cuaca saat itu diketahui buruk, dengan angin dan gelombang tinggi yang biasa terjadi di perairan selatan Taliabu pada awal tahun.

Warga setempat melaporkan bahwa Rudi berangkat seorang diri. Setelah tidak kembali, upaya pencarian langsung dilakukan oleh tim gabungan SAR, pemerintah daerah, dan masyarakat. Tim hanya menemukan perahu Rudi dalam kondisi terisi air laut, mesin dan alat pancing masih utuh di dalamnya.

Baca Juga:

Ironi Penegakan Hukum: Korban KDRT Dikriminalisasi, Pelaku Polisi Hanya Dituntut Ringan

Reinterpretasi Hari Asyura: Peristiwa Sejarah dan Kearifan Universal

Misi pencarian dilakukan selama tujuh hari, namun tidak membuahkan hasil. Hingga saat ini, keberadaan Rudi masih menjadi misteri.

Peristiwa kedua menimpa Coh, nelayan asal Desa Nunca. Ia dilaporkan hilang pada 24 Juni 2025 saat memancing ikan tenggiri di perairan utara Taliabu. Berbeda dengan Rudi, kondisi laut saat itu cenderung tenang.

Coh tidak sendiri. Ia melaut bersama rekannya dengan dua perahu yang diikat satu sama lain. Menurut laporan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Ternate, Iwan, sekitar pukul 23.00 WIT, rekan Coh mendengar suara dentuman keras dari arah perahu Coh.

Ketika didekati, Coh sudah tidak terlihat di atas perahu. Rekannya segera kembali ke desa untuk melaporkan kejadian tersebut. Pencarian pun dilakukan, melibatkan Basarnas Banggai Laut, Basarnas Ternate, BPBD Taliabu, Kantor SAR Palu, TNI/Polri, dan warga setempat, namun tidak membuahkan hasil hingga operasi dihentikan tujuh hari kemudian.

Kabupaten Pulau Taliabu memang dikenal sebagai wilayah habitat buaya air laut, salah satu predator terbesar di dunia. Wilayah seperti Telaga Likitobi di Desa Kawalo disebut sebagai lokasi yang sering memakan korban, terutama nelayan.

Meski demikian, tim SAR belum menemukan bukti langsung bahwa hilangnya Rudi maupun Coh berkaitan dengan serangan buaya. Bahkan menurut Asmadin, mantan Kepala BPBD Taliabu, perahu Rudi yang ditemukan di mulut telaga tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat serangan hewan buas.

“Perahunya ditemukan berisi air laut, mesin dan alat tangkap masih lengkap. Cuaca saat itu memang ekstrem. Bisa jadi korban jatuh karena ombak atau faktor lainnya,” jelas Asmadin.

Hilangnya dua nelayan ini menjadi pengingat serius akan risiko tinggi yang dihadapi para pencari ikan di laut. Pemerintah daerah dan tim SAR mengimbau agar para nelayan selalu mempertimbangkan kondisi cuaca, keselamatan, dan kesehatan fisik sebelum melaut.

Meski operasi resmi telah dihentikan, informasi keberadaan kedua nelayan ini tetap disiarkan kepada para nelayan dan kapal-kapal yang melintasi kawasan hilangnya korban. Jika ada tanda-tanda keberadaan korban, masyarakat diharapkan segera melapor ke pihak berwenang.

Editor: Ikhy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *