Taliabu Kalah Tanpa Bertanding: Luka di Tengah Gubernur Cup U-13

Opini1556 Dilihat

Oleh: Marlan Aufat

Sebagai mahasiswa dari Kabupaten Pulau Taliabu, saya merasa terpanggil untuk menyuarakan kekecewaan dan kegelisahan mendalam atas perlakuan tidak adil yang diterima adik-adik kami dari SSB Tabona dalam ajang Gubernur Cup U-13 Maluku Utara.

Mereka datang dari jauh menempuh laut, membawa harapan, semangat, dan kerja keras berbulan-bulan. Namun sesampainya di lokasi pertandingan, mereka langsung dinyatakan kalah walkover (WO). Bukan karena tidak hadir, bukan karena tidak siap, tetapi karena kapal yang mereka tumpangi mengalami keterlambatan.

Lantas, apakah ini kesalahan mereka? Apakah anak-anak Taliabu harus dihukum karena kondisi geografis yang selama ini menjadi tantangan nyata dan diketahui semua pihak? Apakah ketimpangan infrastruktur dan keterbatasan akses transportasi laut pantas menjadi alasan untuk mencabut hak mereka bertanding?

Taliabu tidak seperti wilayah lain yang bisa dijangkau dengan jalur darat atau udara yang cepat dan pasti. Kami bergantung sepenuhnya pada transportasi laut, yang keberangkatannya kerap tidak menentu. Ketika panitia tak menunjukkan sedikit pun toleransi, bahkan menolak opsi pertandingan ulang, maka jelas: ada ketidakadilan yang sistemik.

Yang paling menyakitkan, ketidakadilan ini terjadi dalam turnamen resmi tingkat provinsi, yang seharusnya menjadi ruang untuk membina semangat sportivitas, memperkuat persatuan wilayah, dan memberi ruang bagi potensi muda di seluruh Maluku Utara. Tapi kenyataannya, adik-adik kami dari pulau terluar diperlakukan seperti tamu yang tak diundang, dikesampingkan tanpa diberi kesempatan.

Baca Juga:

Reinterpretasi Hari Asyura: Peristiwa Sejarah dan Kearifan Universal

Pergi Melaut, Tak Pernah Kembali: Misteri Hilangnya Dua Nelayan Taliabu

Kalah tanpa pernah bertanding adalah bentuk penghinaan terhadap semangat olahraga itu sendiri.

Saya, dan banyak warga Taliabu lainnya, merasa kecewa dan terluka. Bukan karena hasil pertandingan, tetapi karena sekali lagi, kami dihadapkan pada kenyataan pahit: bahwa sistem yang ada belum mampu memberi ruang yang adil bagi semua. Kami tidak menuntut kemenangan. Kami hanya meminta satu hal: kesempatan yang setara. Hak untuk dihargai, hak untuk tampil, hak untuk tidak diperlakukan diskriminatif hanya karena kami berasal dari daerah yang jauh dari pusat.

Melalui tulisan ini, saya menyerukan kepada Gubernur Maluku Utara, Dinas Pemuda dan Olahraga, serta panitia pelaksana turnamen untuk mengevaluasi keputusan yang telah dibuat. Jangan sampai turnamen semacam ini hanya menjadi milik mereka yang tinggal dekat dengan pusat kekuasaan dan kemudahan. Jika dibiarkan, anak-anak dari daerah seperti Taliabu akan terus tertinggal
bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena sistem tak memberi mereka ruang untuk tumbuh.

Keadilan dalam olahraga adalah bagian dari keadilan sosial. Jika sejak dini anak-anak diajarkan bahwa aturan lebih penting daripada kebenaran, maka kita sedang membesarkan generasi yang patah sebelum sempat berlari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *