Aksi IWD di Ternate: FPUD Malut Soroti Penindasan Perempuan dan Desak Sejumlah Tuntutan

POSTTIMUR.COM, TERNATE- Front Perjuangan untuk Demokrasi Maluku Utara (FPUD-Malut) menggelar aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD), Minggu (8/3/26), di depan Kantor Wali Kota Ternate. Aksi tersebut diikuti oleh berbagai organisasi yang ada di Kota Ternate.

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan sejumlah spanduk, salah satunya bertuliskan “Perempuan Bersatu Lawan Rezim Prabowo–Gibran, Hancurkan Kapitalisme–Imperialisme.” Aksi berlangsung dengan orasi bergantian yang menyoroti berbagai persoalan penindasan terhadap perempuan serta kondisi sosial-politik di Indonesia.

Koordinator lapangan aksi, Amex, dalam orasinya menyampaikan bahwa peringatan Hari Perempuan Sedunia sering kali hanya dirayakan secara simbolik, seperti melalui pemberian bunga, unggahan media sosial bernuansa pastel, hingga seminar korporasi tentang women empowerment. Menurutnya, bentuk perayaan tersebut justru lebih banyak dinikmati oleh perempuan yang telah memiliki akses dan posisi di ruang publik.

Ia menilai, perempuan yang paling merasakan kerasnya realitas kehidupan justru sering kali tidak terlihat. Mereka adalah pekerja rumah tangga yang bekerja tanpa perlindungan layak, perempuan yang terpaksa menjual tubuh karena keterpaksaan ekonomi, hingga korban kekerasan seksual yang justru menghadapi stigma sosial dan minimnya keadilan hukum.

“Penindasan terhadap perempuan bukanlah kegagalan individual, melainkan sebuah struktur yang menguntungkan sebagian pihak dengan merampas hak pihak lain,” tegasnya dalam orasi.

Amex juga mengkritik kebijakan ekonomi-politik nasional yang dinilai semakin memperkuat kapitalisme global, yang berdampak pada memburuknya kondisi rakyat, terutama perempuan dari kelas pekerja. Ia menyebut patriarki tidak hanya hidup dalam budaya feodal, tetapi juga diperkuat oleh sistem hukum dan kebijakan negara.

Menurutnya, perempuan miskin menghadapi penindasan berlapis, yakni ketidaksetaraan gender, ketimpangan kelas, serta kemiskinan. Ia menegaskan bahwa feminisme yang tidak melihat persoalan kelas hanya akan membebaskan sebagian kecil perempuan.

Dalam orasi tersebut juga diingatkan bahwa Hari Perempuan Internasional lahir dari sejarah panjang perjuangan buruh perempuan. Peringatan itu berakar dari gerakan mogok kerja buruh tekstil di New York serta gerakan perempuan pekerja di Rusia pada awal abad ke-20. Tokoh sosialis Jerman Clara Zetkin kemudian memproklamasikan peringatan tersebut sebagai hari perjuangan perempuan melawan sistem yang menindas.

“International Women’s Day adalah hari perlawanan. Ia lahir dari tekanan kaum perempuan pekerja dari bawah, bukan sekadar pengakuan simbolik dari atas,” ujar Amex.

Selain itu, massa aksi juga menyoroti mandeknya pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT). Mereka menilai selama lebih dari dua dekade pekerja rumah tangga, yang mayoritas adalah perempuan dari desa, masih belum diakui secara hukum sebagai pekerja yang memiliki perlindungan dan hak yang jelas.

Para demonstran menilai lemahnya pengawasan serta lambannya respons negara menunjukkan rendahnya prioritas terhadap nasib jutaan pekerja rumah tangga yang selama ini menopang kehidupan banyak keluarga.

Di penghujung aksi, massa membacakan sejumlah tuntutan, di antaranya:

  • Mendesak pengesahan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT)
  • Penuhi hak maternitas bagi buruh perempuan
  • Tuntaskan kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Maluku Utara
  • Naikan upah buruh
  • Hentikan produksi PT MAI serta menghentikan kriminalisasi warga Sagea-Kiya
  • Usut tuntas kasus pembunuhan di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah
  • Hentikan aktivitas produksi PT MHM dan PT HTE
  • Menolak reklamasi di Maluku Utara
  • Menolak proyek geothermal di Talaga Rano, Halmahera Barat, serta mencabut seluruh IUP di Maluku Utara
  • Berikan kuota 50 persen bagi perempuan di semua tempat kerja
  • Tarik militer organik dan non-organik dari tanah Papua
  • Geratiskan biaya pendidikan dan kesehatan
  • Hapuskan kekerasan berbasis gender
  • Hapuskan praktik prostitusi legal maupun ilegal
  • Kembalikan militer ke barak
  • Menghapus utang luar negeri
  • Wujudkan reforma agraria sejati

Aksi berlangsung secara tertib. Massa aksi menegaskan bahwa peringatan Hari Perempuan Internasional harus menjadi momentum perjuangan untuk menuntut keadilan sosial dan kesetaraan yang nyata bagi seluruh perempuan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *