POSTTIMUR.COM- Dunia intelektual internasional berduka atas wafatnya filsuf dan sosiolog terkemuka asal Jerman, Jürgen Habermas, pada usia 96 tahun, Sabtu (14/3/2026). Habermas meninggal di Starnberg, kota yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak 1971.
Habermas dikenal luas sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam filsafat sosial dan teori demokrasi modern. Gagasan-gagasannya tentang komunikasi, rasionalitas, dan ruang publik telah membentuk diskursus akademik serta politik selama lebih dari setengah abad.
Salah satu warisan intelektual terbesarnya adalah Teori Tindakan Komunikatif yang dipublikasikan pada 1981. Melalui teori tersebut, Habermas menegaskan bahwa inti masyarakat yang sehat terletak pada komunikasi yang bertujuan mencapai kesepahaman bersama, bukan sekadar memanipulasi orang lain demi kepentingan pribadi.
Tokoh Penting Mazhab Frankfurt
Habermas dikenal secara internasional sebagai penerus dan pengembang teori kritis yang sebelumnya dirintis oleh para pemikir seperti Theodor Adorno dan Max Horkheimer dalam lingkaran intelektual Frankfurt School.
Kelompok pemikir ini terkenal karena pendekatan teori kritis, yaitu cara memahami masyarakat dengan tujuan tidak hanya menjelaskan realitas sosial, tetapi juga mengkritik dan mengubah struktur kekuasaan, ideologi, serta hubungan dominasi dalam masyarakat modern.
Dalam pandangan mereka, masyarakat kapitalis sering kali justru menjadikan warga negara sebagai konsumen pasif, sementara ruang debat publik yang kritis semakin tergerus oleh industri media dan budaya populer.
Habermas sendiri kerap mengkritik komodifikasi media massa dan hiburan yang menurutnya dapat merusak kualitas diskusi publik dalam demokrasi.
Konsisten Mengawal Demokrasi
Sepanjang hidupnya, Habermas tidak hanya dikenal sebagai akademisi, tetapi juga intelektual publik yang aktif terlibat dalam berbagai perdebatan politik di Jerman dan Eropa.
Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, ia mengkritik proses penyatuan kembali Jerman yang dinilai terlalu cepat menyerap Jerman Timur ke dalam sistem Barat. Ia juga memperingatkan potensi bangkitnya kembali nasionalisme sempit.
Dalam perdebatan sejarah Jerman yang dikenal sebagai Historikerstreit, Habermas menentang pandangan sejarawan konservatif seperti Ernst Nolte yang berusaha menempatkan kejahatan Nazi dalam konteks perbandingan dengan rezim lain. Habermas menegaskan bahwa kekejaman rezim Nazi memiliki karakter yang unik dan tidak boleh direlatifkan.
Baginya, upaya menghadapi masa lalu—atau Vergangenheitsbewältigung—harus menjadi bagian penting dari identitas moral bangsa Jerman.
Masa Kecil hingga Menjadi Pemikir Dunia
Habermas lahir di Düsseldorf pada 18 Juni 1929 dan tumbuh di Gummersbach dalam keluarga kelas menengah. Ia lahir dengan kondisi bibir sumbing yang membuatnya harus menjalani beberapa operasi saat kecil.
Pengalaman tersebut kemudian diyakini memengaruhi ketertarikannya pada persoalan komunikasi dan bahasa. Ia melihat bahasa sebagai dasar penting yang memungkinkan manusia membangun kesepahaman sosial.
Setelah Perang Dunia II, Habermas menempuh studi filsafat dan meraih gelar doktor dari Universitas Marburg sebelum bergabung dengan Institut Penelitian Sosial di Universitas Frankfurt. Karier akademiknya berkembang pesat sejak 1960-an ketika ia mulai mengajar filsafat dan sosiologi.
Habermas juga dikenal sebagai intelektual yang mendukung gerakan mahasiswa pada era 1960-an, meskipun ia menolak radikalisasi dan penggunaan kekerasan dalam perjuangan politik.
Produktif Hingga Usia Senja
Meski telah melewati usia 90 tahun, Habermas tetap aktif menulis. Ia menerbitkan karya besar dua jilid setebal sekitar 1.700 halaman berjudul This Too a History of Philosophy, yang mengkaji evolusi rasionalitas dalam sejarah pemikiran manusia.
Karya terakhirnya, Things Needed to Get Better, terbit pada Desember 2025. Dalam buku tersebut, Habermas menolak sikap pesimistis terhadap masa depan dan menegaskan bahwa berbagai krisis global harus dihadapi secara aktif melalui dialog publik dan demokrasi yang sehat.
Sepanjang kariernya, ia menerima berbagai penghargaan internasional, termasuk Holberg Prize pada 2007. Namun pada 2021, ia menolak penghargaan dari Uni Emirat Arab karena dinilai bertentangan dengan prinsip kebebasan berpendapat yang ia perjuangkan.
Warisan Intelektual
Habermas akan selalu dikenang sebagai pemikir yang memperkenalkan konsep “ruang publik”, yakni ruang di luar kontrol negara dan pasar tempat warga negara dapat berdiskusi secara bebas dan rasional mengenai kepentingan bersama.
Baginya, demokrasi hanya dapat bertahan jika ruang publik tersebut tetap hidup dan diisi oleh debat yang terbuka serta rasional.
Habermas meninggalkan tiga anak: Tilmann, Judith, dan Rebekka. Istrinya, Ute Habermas-Wesselhoeft, meninggal dunia lebih dulu pada tahun 2025.
Kepergian Habermas menandai berakhirnya sebuah era penting dalam pemikiran filsafat sosial modern—namun gagasannya tentang komunikasi rasional dan demokrasi deliberatif dipastikan akan terus hidup dalam perdebatan intelektual dunia.
















