POSTTIMUR.COM, TERNATE- Pesona senja di Pantai Kastela kembali menarik perhatian warga. Dalam pantauan Posttimur, kawasan ini dipadati pengunjung yang datang untuk menikmati angin laut, panorama matahari terbenam, hingga suasana santai menjelang malam. Gelak tawa, swafoto, dan aktivitas keluarga menjadi pemandangan yang tak terpisahkan dari geliat wisata sore hari di salah satu destinasi andalan Kota Ternate tersebut.
Namun, di balik keramaian itu, terselip ironi yang sulit diabaikan.
Sepanjang garis pantai, terlihat sampah berserakan—mulai dari plastik kemasan, botol minuman, hingga sisa makanan yang dibiarkan begitu saja. Pemandangan ini kontras dengan keindahan alam yang seharusnya menjadi daya tarik utama Kastela. Alih-alih menghadirkan kenyamanan, kondisi ini justru mencerminkan lemahnya kesadaran kolektif dan minimnya pengelolaan lingkungan di kawasan wisata.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pengembangan wisata di Ternate hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tanpa diimbangi dengan tata kelola yang berkelanjutan?
Sejumlah pengunjung mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Mereka menilai fasilitas tempat sampah masih terbatas, dan pengawasan dari pihak terkait hampir tidak terlihat. Di sisi lain, perilaku sebagian pengunjung yang abai terhadap kebersihan juga memperparah keadaan.
Kastela sejatinya memiliki potensi besar sebagai ikon wisata berbasis alam dan sejarah. Namun, tanpa keseriusan dalam pengelolaan, potensi itu bisa berubah menjadi beban lingkungan. Sampah yang dibiarkan menumpuk bukan hanya merusak estetika, tetapi juga mengancam ekosistem pesisir dalam jangka panjang.
Pemerintah daerah didorong untuk tidak sekadar mempromosikan destinasi, tetapi juga memastikan adanya sistem pengelolaan sampah yang efektif, penyediaan fasilitas memadai, serta edukasi kepada masyarakat dan pengunjung. Pengembangan wisata yang abai terhadap aspek lingkungan hanya akan menciptakan masalah baru di masa depan.
Kastela hari ini adalah cermin: antara keindahan yang dirayakan dan tanggung jawab yang diabaikan. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin pesona itu perlahan pudar, tertutup oleh tumpukan sampah yang seharusnya bisa dicegah. (*)











