POSTTIMUR.COM- Di tengah teriknya matahari dan suara khas denting bel es keliling, sosok Ili (62) tetap setia mendorong gerobaknya menyusuri gang-gang sempit di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Bagi sebagian orang, ia hanyalah pedagang es mung-mung biasa. Namun di balik rutinitas sederhana itu, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, harapan, dan mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Puluhan tahun menjalani hidup sebagai pedagang kecil, Ili kini bersiap menapaki perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Kediamannya di Jalan Dewi Sartika, suasana rumah Ili tampak sederhana namun penuh kehangatan. Perlengkapan haji seperti kain ihram, tas, dan kebutuhan pribadi telah tertata rapi. Di sampingnya, sang istri, Yayah (49), setia mendampingi sekaligus membantu mempersiapkan keberangkatan yang telah lama dinantikan.
Di halaman rumah, sebuah motor dengan gerobak es berwarna mencolok terparkir tenang. Benda itu bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan saksi bisu perjalanan panjang seorang lelaki yang tak pernah berhenti bermimpi.
Menabung dari Recehan, Merangkai Harapan
Es mung-mung yang dijajakan Ili merupakan jajanan tradisional khas pesisir Jawa. Dibuat dari bahan sederhana seperti santan, gula, dan tepung, es ini dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000.
Namun bagi Ili, setiap porsi es yang terjual bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari perjalanan menuju Baitullah.
“Dulu datang ke Cirebon tidak bawa apa-apa, susah sekali. Ikut kakak. Tapi alhamdulillah bisa nabung sedikit demi sedikit,” kenangnya.
Sejak 2005, keinginan untuk berhaji mulai ia tanamkan. Dengan disiplin tinggi, ia menyisihkan penghasilan harian—meski hanya Rp 10.000 hingga Rp 20.000.
“Kalau ada lebih bisa Rp 50.000. Kadang musim hujan cuma Rp 30.000. Tapi kalau ramai, bisa sampai Rp 500.000,” ujarnya.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Hujan sering kali menjadi penghalang, bahkan terkadang membuatnya kesulitan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau musim hujan sedih, untuk makan saja kadang susah. Tapi tetap diniatkan, alhamdulillah selalu ada jalan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Dari Pedagang Kecil ke Pengusaha Sederhana
Kerja keras Ili perlahan membuahkan hasil. Usahanya berkembang hingga pada 2010 ia mampu mempekerjakan 19 karyawan. Ia juga berinovasi, beralih dari gerobak dorong ke motor agar jangkauan penjualan semakin luas.
Dari ribuan porsi es mung-mung yang ia jual selama bertahun-tahun, Ili akhirnya mendapatkan nomor porsi haji pada 2013. Setelah penantian panjang, ia dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 19 Mei 2026.
Rasa haru dan bahagia tak bisa ia sembunyikan.
“Bahagia sekali, seperti orang-orang lain, seperti bos-bos. Padahal saya cuma jualan es,” ucapnya sambil tersenyum.
Mimpi yang Menular
Bagi Ili, perjalanan ini bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahwa mimpi besar tidak harus dimulai dari hal besar.
“Mudah-mudahan anak cucu, keluarga, dan teman-teman juga bisa ke Baitullah,” harapnya.
Kisah Ili adalah pengingat sederhana: bahwa ketekunan, kesabaran, dan keyakinan mampu mengubah langkah kecil menjadi perjalanan besar. Dari denting bel es keliling di sudut kampung, kini langkahnya akan bergema di Tanah Suci. (*)











![IMG_20211028_164734[1]](https://www.posttimur.com/wp-content/uploads/2021/10/IMG_20211028_1647341-scaled-e1635507299319-1024x473.jpg)
![IMG_20211028_215508[1]](https://www.posttimur.com/wp-content/uploads/2021/10/IMG_20211028_2155081-scaled-e1635493935243-1024x473.jpg)



