Rem Blong di Jalan Kampus: Mahasiswa Kedokteran Nyaris Jadi Korban Kelalaian Sistem

Daerah, Opini, Pendidikan566 Dilihat

Oleh: Putri Amelia Ismail

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun

Satu detik dapat mengubah segalanya. Rem blong bukan sekadar kegagalan mekanis, melainkan cermin dari kelalaian sistemik yang kerap diabaikan hingga seseorang terluka atau nyawa melayang.

Insiden mahasiswa kedokteran yang kehilangan kendali kendaraan akibat rem blong di kawasan Fakultas Teknik bukan hanya kecelakaan nahas yang layak dikasihani sesaat lalu dilupakan. Peristiwa ini seharusnya menjadi tanda tanya besar: siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan di lingkungan kampus?

Jalanan Kampus: Zona Aman yang Semu

Banyak orang, termasuk mahasiswa, menganggap kawasan kampus sebagai zona aman. Kecepatan kendaraan relatif rendah, lingkungan tertutup, dan dipenuhi kalangan terdidik. Namun justru di situlah bahayanya. Rasa aman yang berlebihan sering melahirkan kelengahan.

Jalan menurun yang curam dari kawasan Fakultas Teknik, tanpa rambu peringatan memadai, tanpa jalur pengereman darurat, dan tanpa pagar pembatas yang kokoh, adalah kombinasi berbahaya yang sewaktu-waktu dapat memakan korban. Kampus yang seharusnya menjadi ruang belajar justru berubah menjadi ruang risiko.

Bukan Soal Nasib, Tetapi Soal Sistem

Terlalu mudah menyebut kejadian seperti ini sebagai “musibah” atau “nasib buruk”. Padahal rem tidak blong dengan sendirinya. Ada kemungkinan kendaraan yang kurang dirawat, ada jalur yang tak pernah dievaluasi tingkat bahayanya, serta prosedur keselamatan berkendara di lingkungan kampus yang mungkin hanya sebatas formalitas.

Warung yang dihantam kendaraan bukan hanya mengalami kerusakan fisik. Pemiliknya kehilangan sumber penghasilan, rasa aman, dan kepastian usaha. Kerugian itu lahir karena sistem keselamatan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ironi yang Menyayat

Ada ironi pahit dalam peristiwa ini. Seorang mahasiswa kedokteran—calon tenaga medis yang kelak menyelamatkan nyawa orang lain—justru nyaris menjadi korban akibat minimnya perlindungan keselamatan dasar. Ia mempelajari anatomi tubuh manusia dan cara menyelamatkan pasien, tetapi tidak cukup dilindungi dari ancaman nyata di jalan yang ia lalui setiap hari.

Apa yang Harus Berubah?

Insiden ini tidak boleh berhenti sebagai kabar viral sesaat. Kampus perlu menjadikannya momentum evaluasi menyeluruh. Audit jalur kendaraan berisiko tinggi harus segera dilakukan. Pemeriksaan kondisi kendaraan secara berkala wajib diterapkan, terutama bagi pengguna rute curam. Infrastruktur keselamatan seperti rambu, jalur darurat, pembatas jalan, hingga pencahayaan memadai harus disediakan secara nyata, bukan sekadar slogan atau spanduk imbauan.

Keselamatan bukan kemewahan. Bahkan di kampus yang melahirkan dokter, insinyur, dan calon pemimpin masa depan, keselamatan seharusnya menjadi pelajaran pertama sebelum ilmu lainnya diajarkan.

Sebab tidak ada gelar yang cukup tinggi untuk menggantikan nyawa yang hilang di tikungan tanpa rem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *