Oleh: Fikri Ahmad
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Di era digital saat ini, teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Hampir seluruh aktivitas perkuliahan bergantung pada perangkat digital, mulai dari mencari referensi, mengikuti kelas daring, mengerjakan tugas, hingga membangun relasi melalui media sosial. Dalam situasi seperti ini, smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah berubah menjadi kebutuhan utama. Di antara berbagai merek yang beredar, iPhone menjadi salah satu perangkat yang paling banyak diperbincangkan di kalangan mahasiswa. Pertanyaannya, apakah iPhone benar-benar menjadi kebutuhan, atau hanya bagian dari gaya hidup?
Tidak dapat dipungkiri bahwa iPhone memiliki berbagai keunggulan yang mendukung produktivitas. Sistem operasi yang stabil, kualitas kamera yang baik, keamanan data, hingga ekosistem aplikasi yang terintegrasi membuat perangkat ini dianggap mampu menunjang aktivitas akademik maupun pekerjaan digital. Bagi sebagian mahasiswa, terutama yang bergerak di bidang desain, fotografi, videografi, hingga content creator, iPhone memang dapat menjadi alat kerja yang membantu meningkatkan efisiensi dan kualitas hasil kerja.
Namun, jika melihat realitas di lingkungan kampus, kepemilikan iPhone tidak selalu didorong oleh kebutuhan akademik. Ada faktor lain yang cukup kuat memengaruhi, yaitu gaya hidup dan gengsi sosial. iPhone sering kali dipandang sebagai simbol status, modernitas, dan prestise. Tidak jarang seseorang merasa lebih percaya diri ketika menggunakan iPhone karena dianggap mengikuti tren dan berada dalam lingkaran sosial tertentu.
Fenomena ini semakin terlihat di kalangan mahasiswa. Secara tidak langsung, muncul tekanan sosial untuk terlihat “setara” dengan lingkungan pergaulan. Ketika sebagian besar teman menggunakan iPhone, muncul rasa ingin ikut memiliki agar tidak dianggap tertinggal. Padahal, jika dilihat dari fungsi dasarnya, hampir semua smartphone saat ini mampu memenuhi kebutuhan komunikasi dan pembelajaran dengan baik.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 92,14% penduduk usia 15–24 tahun telah memiliki telepon genggam. Selain itu, persentase pemuda Indonesia yang mengakses internet pada tahun 2025 mencapai 96,69%. Angka ini menunjukkan bahwa ketergantungan generasi muda terhadap teknologi digital sangat tinggi. Di sisi lain, minat terhadap smartphone premium seperti iPhone juga mengalami peningkatan, dari 11% pada tahun 2021 menjadi 16,4% pada tahun 2025. Fakta tersebut menunjukkan bahwa penggunaan gadget kini tidak hanya didorong oleh kebutuhan teknologi, tetapi juga dipengaruhi tren konsumsi dan gaya hidup.
Karena itu, yang paling penting sebenarnya adalah kesadaran dalam menentukan prioritas. Mahasiswa seharusnya mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Teknologi memang penting, tetapi bukan berarti harus selalu memilih perangkat paling mahal. Selama smartphone yang digunakan mampu menunjang aktivitas belajar, komunikasi, dan produktivitas sehari-hari, maka perangkat tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan.
Tidak ada yang salah dengan menggunakan iPhone. Namun, akan menjadi masalah ketika seseorang memaksakan diri membeli perangkat mahal demi gengsi atau pengakuan sosial, sementara kondisi ekonomi belum memungkinkan. Sebagai mahasiswa, fokus utama seharusnya bukan pada merek handphone yang digunakan, melainkan pada bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan, kreativitas, dan kualitas diri.
Pada akhirnya, iPhone di kalangan mahasiswa bisa menjadi kebutuhan sekaligus gaya hidup, tergantung pada tujuan penggunaannya. Jika dimanfaatkan untuk menunjang produktivitas dan pengembangan diri, maka iPhone dapat dianggap sebagai kebutuhan. Namun, jika penggunaannya lebih didorong oleh keinginan mengikuti tren dan pencitraan sosial, maka hal tersebut lebih mencerminkan gaya hidup.
Sebagai generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi, mahasiswa dituntut untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Sebab, nilai dan kualitas seseorang tidak ditentukan oleh jenis smartphone yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan, pola pikir, dan cara memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.
















