Indonesia Darurat Membaca: Krisis Sunyi yang Mengancam Masa Depan Bangsa

Nasional, Opini444 Dilihat

Oleh: Mufidah M. Yamin

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun

Di era digital saat ini, masyarakat Indonesia hidup dalam arus informasi yang bergerak sangat cepat. Setiap hari jutaan orang menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar ponsel, menikmati video pendek, mengikuti tren media sosial, hingga berpindah dari satu konten ke konten lainnya tanpa henti. Namun di tengah derasnya perkembangan teknologi tersebut, ada satu kebiasaan penting yang perlahan mulai hilang: membaca.

Kebiasaan mengonsumsi informasi secara instan telah membentuk pola pikir masyarakat yang ingin serba cepat tanpa memahami informasi secara utuh. Banyak orang hanya membaca judul berita tanpa menelusuri isi, membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi, bahkan mudah terpengaruh opini yang beredar di media sosial. Kondisi ini membuat kemampuan berpikir kritis semakin melemah, masyarakat menjadi rentan terhadap hoaks, serta kesulitan membedakan fakta dan opini.

Rendahnya budaya literasi di Indonesia bukan sekadar asumsi. Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis OECD menunjukkan bahwa skor literasi membaca Indonesia hanya mencapai 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di angka 476 poin. Angka tersebut bahkan menjadi skor terendah Indonesia sejak pertama kali mengikuti PISA pada tahun 2000.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, penurunan itu terlihat semakin jelas. Pada tahun 2018, skor membaca Indonesia masih berada di angka 371 poin, sedangkan pada tahun 2009 Indonesia sempat mencatat skor tertinggi sebesar 402 poin. Fakta ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca masyarakat Indonesia belum mengalami perbaikan yang signifikan, bahkan cenderung mengalami kemunduran.

Inilah yang dapat disebut sebagai krisis sunyi. Dampaknya memang tidak langsung terlihat seperti inflasi, pengangguran, atau kenaikan harga kebutuhan pokok. Namun dalam jangka panjang, rendahnya minat baca dapat melemahkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Generasi muda yang tidak terbiasa membaca cenderung memiliki wawasan yang terbatas, kemampuan analisis yang lemah, serta kesulitan beradaptasi dengan perubahan global. Padahal, di tengah persaingan modern, sebuah negara membutuhkan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

Persoalan literasi juga berdampak besar terhadap dunia bisnis dan ekonomi. Saat ini perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu memahami data, mengikuti perkembangan teknologi, serta menciptakan inovasi baru. Akan sulit membangun daya saing ekonomi jika kualitas sumber daya manusia masih lemah akibat rendahnya budaya membaca.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bonus demografi yang seharusnya menjadi peluang menuju Indonesia Emas 2045 justru dapat berubah menjadi ancaman. Indonesia memang memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, tetapi tanpa kualitas literasi yang baik, keunggulan tersebut akan kehilangan maknanya.

Karena itu, membangun budaya membaca tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga harus mulai membiasakan anak membaca sejak dini, pemerintah perlu memperluas akses terhadap buku yang terjangkau, dan masyarakat juga harus mulai mengurangi ketergantungan pada hiburan digital yang berlebihan.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, “Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar, bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar.” Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas diri dan masa depan bangsa.

Jika hari ini kita lebih memilih scroll tanpa batas dibanding membaca satu halaman buku, maka yang perlahan hilang bukan hanya kebiasaan membaca, tetapi juga masa depan bangsa itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *