Oleh: Avi Cahdini Sebe, Jummiyati Ridwan, dan Mastia Aslan
Mahasiswa Pemasaran Strategi Universitas Khairun Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Di tengah melimpahnya potensi hasil laut di Kota Ternate, usaha pengolahan ikan sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi produk unggulan daerah. Salah satu contohnya adalah UMKM Abon Ikan Bubula, sebuah usaha kecil yang bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan dengan produk utama berupa abon ikan. Usaha ini lahir dari kreativitas masyarakat pesisir dalam memanfaatkan hasil tangkapan nelayan agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Bubula tidak sekadar menjadi kegiatan ekonomi biasa. Kehadirannya juga mencerminkan semangat pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu nelayan di Kelurahan Jambula, Ternate Selatan. Mereka berupaya mengolah ikan segar menjadi produk yang lebih tahan lama, praktis, dan bernilai tambah dibandingkan menjual ikan mentah secara langsung. Langkah ini menunjukkan bahwa masyarakat pesisir sebenarnya memiliki kemampuan untuk menciptakan inovasi berbasis potensi lokal.
Namun, di balik kualitas produk yang cukup menjanjikan, UMKM Abon Ikan Bubula masih menghadapi persoalan serius pada aspek pemasaran. Hingga saat ini, produk tersebut masih minim dikenal masyarakat luas. Konsumen Bubula sebagian besar hanya berasal dari warga lokal atau wisatawan yang secara kebetulan menemukan produk tersebut di toko oleh-oleh tertentu. Kondisi ini membuat perkembangan usaha berjalan lambat dan sulit bersaing dengan produk abon ikan lain yang sudah lebih dulu membangun identitas merek.
Kurangnya promosi menjadi salah satu hambatan utama. Produk Bubula belum memiliki identitas visual yang kuat, baik dari sisi desain kemasan, logo, maupun strategi branding. Selain itu, belum adanya kampanye pemasaran yang konsisten membuat produk ini sulit menjangkau pasar yang lebih luas. Padahal, di era digital saat ini, kekuatan promosi sangat menentukan keberhasilan sebuah produk UMKM untuk bertahan dan berkembang.
Persoalan tersebut tidak terlepas dari keterbatasan kemampuan digital para pengelola usaha. Sebagian besar ibu-ibu pelaku UMKM Bubula masih belum terbiasa menggunakan teknologi digital dan media sosial sebagai sarana pemasaran. Keterbatasan ini menyebabkan mereka kesulitan membuat konten promosi, mengelola penjualan online, hingga memperkenalkan produk kepada konsumen di luar wilayah lokal. Akibatnya, pemasaran masih bergantung pada sistem penjualan langsung yang jangkauannya sangat terbatas.
Karena itu, diperlukan langkah strategis agar UMKM Bubula tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang menjadi produk unggulan daerah. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah memberikan pelatihan digitalisasi secara intensif kepada para pelaku usaha. Pelatihan tersebut dapat mencakup penggunaan platform sederhana seperti WhatsApp Business, Instagram, Facebook, hingga TikTok sebagai media promosi dan penjualan.
Selain pelatihan, kolaborasi dengan generasi muda dan mahasiswa juga menjadi hal yang penting. Anak muda dapat berperan sebagai jembatan digital yang membantu mengelola media sosial, membuat desain promosi, mengambil foto produk yang menarik, hingga menciptakan konten kreatif yang mampu menarik perhatian konsumen. Dengan pola kerja sama seperti ini, para ibu-ibu pengelola tetap dapat fokus menjaga kualitas produksi abon ikan, sementara strategi pemasaran digital dijalankan secara lebih profesional.
Jika promosi dan pemasaran digital dapat dimaksimalkan, bukan tidak mungkin Abon Ikan Bubula akan berkembang menjadi salah satu produk khas Ternate yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Potensi lokal sebenarnya sudah tersedia, tinggal bagaimana semua pihak, baik pemerintah, akademisi, maupun generasi muda, ikut mengambil peran dalam mendukung UMKM agar naik kelas dan mampu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat pesisir.












