Oleh: Sahrun Imawan S. Kasim
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa “rakyat di desa tidak pakai dolar” di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terdengar seperti upaya menenangkan publik. Namun, di balik kalimat tersebut tersimpan cara pandang yang problematis: seolah-olah krisis nilai tukar hanyalah persoalan elit kota dan pasar keuangan, bukan persoalan rakyat kecil.
Padahal, rakyat kecil justru menjadi pihak pertama yang merasakan dampak ketika rupiah melemah. Masyarakat desa mungkin tidak memegang dolar di tangan mereka, tetapi kehidupan mereka tetap berada dalam sistem ekonomi yang dipengaruhi kekuatan dolar. Ketika rupiah jatuh, harga pupuk naik, BBM menjadi mahal, ongkos distribusi meningkat, harga sembako melonjak, dan daya beli masyarakat perlahan melemah. Petani tetap menanam padi, nelayan tetap melaut, tetapi biaya hidup mereka terus tertekan oleh ekonomi yang semakin mahal.
Ironisnya, pernyataan semacam ini menunjukkan bagaimana persoalan ekonomi nasional sering disederhanakan menjadi narasi populis yang terdengar merakyat, tetapi miskin substansi. Seolah cukup mengatakan “rakyat tidak pakai dolar”, maka persoalan selesai. Padahal tugas seorang pemimpin bukan hanya menenangkan suasana, melainkan menjelaskan realitas dan menghadirkan solusi yang konkret.
Dalam perspektif ekonomi, nilai tukar rupiah bukan sekadar angka di layar pasar uang. Rupiah adalah cermin kepercayaan terhadap kondisi ekonomi negara. Ketika rupiah melemah, investor mulai ragu, utang luar negeri membengkak, impor semakin mahal, dan tekanan inflasi meningkat. Pada akhirnya, rakyat kecil kembali menjadi pihak yang paling berat menanggung konsekuensinya.
Yang lebih mengkhawatirkan, pernyataan tersebut berpotensi menormalisasi pelemahan rupiah. Seolah-olah jatuhnya nilai mata uang bukan ancaman serius selama rakyat masih bisa bertahan hidup. Cara berpikir seperti ini berbahaya bagi masa depan ekonomi Indonesia. Negara yang kuat bukanlah negara yang terbiasa hidup dalam pelemahan, melainkan negara yang mampu menjaga stabilitas mata uang dan melindungi daya beli rakyatnya.
Kita tidak bisa terus menutupi persoalan kompleks dengan retorika sederhana. Rakyat hari ini tidak hanya membutuhkan kata-kata yang terdengar merakyat, tetapi kebijakan yang benar-benar berpihak pada ekonomi rakyat. Sebab faktanya, rakyat desa memang tidak bertransaksi dengan dolar, tetapi setiap hari mereka dipaksa membayar mahal akibat rupiah yang terus kehilangan harga dirinya.











