Minim Promosi Digital, Rumah Makan Pupeda Ci Yati Masih Sulit Menjangkau Pasar Lebih Luas

Oleh: Febi Trisa dan Maulana Lidana

Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Khairun

Di tengah berkembangnya industri kuliner dan pariwisata di Kota Ternate, keberadaan UMKM lokal yang mempertahankan identitas budaya daerah menjadi sangat penting. Salah satu usaha kuliner yang hingga kini tetap eksis menjaga cita rasa tradisional adalah Rumah Makan Pupeda Ci Yati. Rumah makan yang berlokasi di kawasan Ternate Timur, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara ini dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner khas yang menyajikan pupeda dan aneka hidangan tradisional Maluku Utara.

Pupeda sebagai makanan pokok berbahan dasar sagu bukan hanya sekadar sajian kuliner, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Maluku. Di Rumah Makan Pupeda Ci Yati, makanan khas tersebut disajikan bersama kuah kuning berbumbu rempah, kuah soru, ikan bakar segar, sambal roa, gohu ikan, hingga boboto yang memperkaya pengalaman kuliner pengunjung. Ditambah dengan suasana makan di tepi laut yang sederhana namun hangat, rumah makan ini berhasil menghadirkan pengalaman bersantap yang autentik dan penuh nuansa tradisional.

Selama ini, Rumah Makan Pupeda Ci Yati telah menjadi tujuan favorit masyarakat lokal maupun wisatawan yang datang ke Ternate. Sistem makan sepuasnya dan cita rasa khas yang dipertahankan membuat rumah makan ini memiliki pelanggan setia. Tidak sedikit wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang untuk menikmati langsung sensasi menyantap pupeda dengan cara tradisional menggunakan sumpit kayu.

Namun, di balik popularitas tersebut, Rumah Makan Pupeda Ci Yati masih menghadapi persoalan serius dalam aspek pemasaran. Hingga saat ini, promosi usaha masih sangat bergantung pada metode dari mulut ke mulut dan kunjungan langsung pelanggan. Di era digital yang serba cepat, kondisi ini menjadi hambatan besar bagi pengembangan usaha, terutama dalam menjangkau pasar yang lebih luas di luar Maluku Utara.

Ketiadaan pengelolaan media sosial yang aktif dan konsisten menyebabkan potensi besar rumah makan ini belum terekspos secara optimal. Padahal, saat ini wisatawan cenderung mencari referensi tempat makan melalui platform digital seperti Instagram, TikTok, Google Maps, maupun TripAdvisor sebelum berkunjung ke suatu daerah. Sayangnya, Rumah Makan Pupeda Ci Yati belum memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal.

Minimnya pengetahuan mengenai strategi pemasaran digital, pembuatan konten kuliner yang menarik, hingga pengelolaan ulasan pelanggan menjadi faktor utama yang menghambat perkembangan promosi usaha ini. Akibatnya, meskipun memiliki kualitas rasa dan pengalaman kuliner yang kuat, eksistensi Rumah Makan Pupeda Ci Yati di ruang digital masih kalah dibandingkan tempat makan lain yang lebih aktif memanfaatkan media sosial.

Di sisi lain, tingginya jumlah pengunjung pada jam makan siang menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap kuliner tradisional khas Ternate sebenarnya sangat besar. Bahkan, tidak jarang calon pelanggan kesulitan mendapatkan tempat duduk akibat keterbatasan kapasitas. Kondisi ini memperlihatkan bahwa rumah makan tersebut memiliki potensi berkembang lebih jauh apabila didukung dengan inovasi pelayanan dan strategi pemasaran yang lebih modern, seperti sistem reservasi daring maupun layanan pemesanan digital.

Karena itu, diperlukan langkah strategis untuk membangun ekosistem promosi digital yang lebih terarah dan berkelanjutan. Pengelola Rumah Makan Pupeda Ci Yati perlu mendapatkan pendampingan dalam mengelola media sosial secara aktif dan profesional. Konten promosi dapat difokuskan pada keunikan pupeda, suasana makan tepi laut, proses memasak tradisional, serta kekayaan rempah khas Maluku Utara yang menjadi ciri utama setiap hidangan.

Selain itu, kolaborasi dengan generasi muda dan komunitas kreatif di Kota Ternate juga menjadi hal penting. Anak muda dapat berperan sebagai mitra digital yang membantu memproduksi konten video kuliner, mengelola ulasan positif di platform wisata, hingga memperluas jangkauan promosi melalui media sosial. Dengan demikian, pengelola rumah makan tetap dapat fokus menjaga kualitas rasa dan keaslian tradisi kuliner, sementara aspek promosi dan branding dikembangkan secara lebih modern.

Pada akhirnya, penguatan promosi digital bukan sekadar upaya meningkatkan keuntungan usaha, tetapi juga bagian dari strategi memperkenalkan budaya kuliner Maluku Utara kepada masyarakat luas. Rumah Makan Pupeda Ci Yati memiliki potensi besar menjadi ikon wisata kuliner Ternate yang dikenal secara nasional. Namun, tanpa dukungan promosi digital yang memadai, potensi tersebut akan sulit berkembang secara maksimal di tengah persaingan industri kuliner yang semakin kompetitif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *