Oleh: Windi M. Totou, Naysila Abubakar, dan Andi Muh.Fadhil
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan. Kondisi ini nyata dirasakan oleh masyarakat, terutama pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Di Maluku Utara, khususnya Kota Ternate, pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap kenaikan harga bahan baku, biaya distribusi, hingga menurunnya daya beli masyarakat.
Ketergantungan terhadap pasokan barang dari luar daerah membuat pelaku UMKM di wilayah timur Indonesia berada pada posisi yang cukup rentan. Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku ikut meningkat. Situasi ini memaksa para pelaku usaha untuk mencari berbagai strategi agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.
Kondisi tersebut dirasakan oleh RM Azzahra yang berlokasi di Pelabuhan Feri Bastiong. Usaha makanan dan minuman milik Ibu Santi yang telah berjalan selama 25 tahun itu menghadapi tantangan serius akibat naiknya harga bahan baku dan biaya operasional. Menurutnya, pelaku usaha harus lebih cermat dalam mengelola penggunaan bahan baku agar tidak terjadi pemborosan.
“Kami berusaha mencari pemasok dengan harga yang lebih terjangkau tetapi kualitasnya tetap baik. Selain itu, penggunaan bahan baku juga harus diatur supaya tidak terbuang sia-sia,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Ibu Santi juga mengaku pernah mengurangi margin keuntungan demi mempertahankan pelanggan. Baginya, menjaga kepercayaan konsumen jauh lebih penting dibanding menaikkan harga secara drastis yang justru berpotensi menurunkan jumlah pembeli.
Tantangan serupa juga dialami Linda Bakery, usaha kue khas Bugis milik Ibu Linda di kawasan Bastiong. Usaha yang telah berjalan selama sembilan tahun tersebut menghadapi kenaikan harga bahan baku sekaligus ketidakstabilan penjualan. Untuk bertahan, strategi yang dilakukan adalah menyesuaikan jumlah produksi dan memilih bahan baku dengan harga yang lebih stabil tanpa mengurangi kualitas produk.
“Kami lebih fokus menjaga kualitas supaya pelanggan tetap puas dan terus membeli,” katanya.
Persaingan usaha kuliner di Kota Ternate yang semakin ketat membuat pelaku UMKM dituntut lebih kreatif. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, strategi harga dan inovasi produk menjadi langkah penting agar usaha tetap diminati masyarakat.
Hal yang sama juga dirasakan HALL-U, usaha kuliner milik Furqan Mahri yang berada di kawasan Taman Fitnes. Usaha yang telah berjalan sekitar 3,3 tahun ini menghadapi kenaikan biaya operasional akibat mahalnya bahan baku di wilayah timur Indonesia. Menurut Furqan, salah satu strategi yang dilakukan adalah melakukan riset bahan baku yang tetap sesuai standar kualitas usaha namun masih dapat disesuaikan dengan Harga Pokok Produksi (HPP).
“Kami melakukan riset bahan baku dengan kualitas dan harga yang masih bisa disandingkan dengan HPP yang sudah ada,” jelasnya.
Berbeda dengan beberapa pelaku UMKM lainnya, HALL-U memilih untuk tidak mengurangi keuntungan karena margin usaha dinilai sudah disesuaikan dengan kebutuhan operasional. Furqan menilai tantangan terbesar UMKM di Ternate saat ini bukan hanya pelemahan rupiah, tetapi juga tingginya biaya distribusi dan minimnya pabrik produksi bahan baku di kawasan timur Indonesia.
“Kurangnya pabrik produksi bahan baku di daerah timur menambah budget operasional sehingga bahan baku lebih mahal dibanding daerah Jawa. Ditambah lagi daya beli masyarakat beberapa tahun terakhir menurun, namun masih bisa diatasi dengan inovasi produk agar lebih efisien sesuai target market,” ungkapnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah memang memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan UMKM, terutama sektor kuliner yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Ketika biaya produksi meningkat, pelaku usaha berada pada situasi dilematis antara menaikkan harga jual atau mempertahankan loyalitas pelanggan.
Meski demikian, UMKM di Maluku Utara menunjukkan kemampuan adaptasi yang cukup baik. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari efisiensi penggunaan bahan baku, pengurangan margin keuntungan sementara, menjaga kualitas produk, inovasi usaha, hingga mencari pemasok alternatif agar usaha tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Namun, kemampuan bertahan UMKM tidak bisa hanya dibebankan kepada pelaku usaha semata. Pemerintah juga memiliki peran penting dalam menciptakan stabilitas ekonomi daerah, terutama melalui pengendalian harga, kemudahan akses modal, serta penguatan sektor produksi lokal di wilayah timur Indonesia. Ketergantungan terhadap distribusi dari luar daerah harus mulai dikurangi dengan mendorong pembangunan industri bahan baku dan rantai pasok lokal yang lebih kuat.
Pada akhirnya, UMKM bukan sekadar unit usaha kecil, melainkan fondasi penting perekonomian daerah. UMKM menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan menjadi penopang kesejahteraan banyak keluarga. Karena itu, menjaga keberlangsungan UMKM di tengah melemahnya rupiah merupakan tanggung jawab bersama agar ekonomi daerah tetap tumbuh, mandiri, dan stabil di tengah ketidakpastian global.
















