Nadhir Wardhana: 16.703 Anak di Maluku Utara Alami Gigi Berlubang, Alarm Lemahnya Perilaku Hidup Sehat Sejak Dini

POSTTIMUR.COM, MALUT– Sebanyak 16.703 anak di Maluku Utara ditemukan mengalami karies atau gigi berlubang berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dirilis Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada awal 2026. Temuan ini menjadi sinyal serius bahwa kesehatan gigi dan mulut anak perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah, sekolah, maupun keluarga.

Analis Kebijakan Kesehatan Masyarakat sekaligus Direktur Beyond Health Indonesia, Nadhir Wardhana, menilai tingginya angka karies harus menjadi momentum untuk memperkuat pembentukan perilaku hidup sehat sejak usia dini.

“Ketika lebih dari 16 ribu anak mengalami gigi berlubang, ini bukan lagi persoalan kesehatan individu. Angka tersebut menunjukkan perlunya gerakan bersama untuk membangun kebiasaan hidup sehat di rumah, sekolah, dan lingkungan tempat anak tumbuh,” ujar Nadhir.

Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dengan peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku itu menjelaskan, karies bukan sekadar persoalan gigi berlubang. Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa nyeri, mengganggu nafsu makan, menurunkan kualitas tidur, hingga memengaruhi konsentrasi anak saat mengikuti proses belajar di sekolah.

Menurutnya, tingginya kasus karies berkaitan dengan kebiasaan menyikat gigi yang belum dilakukan secara benar dan konsisten. Selain itu, tingginya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula di kalangan anak-anak juga menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.

Nadhir yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Research and Policy Center ILUNI FKM UI menegaskan bahwa tanggung jawab membangun perilaku hidup sehat tidak bisa dibebankan hanya kepada anak.

“Anak memang perlu diajarkan menyikat gigi dan membatasi makanan manis. Namun, keluarga harus memberikan teladan, sekolah perlu membangun kebiasaan, dan lingkungan harus menyediakan pilihan yang lebih sehat. Perilaku sehat akan lebih mudah terbentuk ketika pilihan sehat juga mudah dilakukan,” jelasnya.

Selain tingginya angka karies, data CKG juga menunjukkan berbagai persoalan kesehatan lain yang dialami siswa di Maluku Utara. Tercatat 18.337 siswa kurang melakukan aktivitas fisik, 2.840 siswa mengalami prehipertensi, 545 siswa terdeteksi prediabetes, 5.951 siswa berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi, 3.609 siswa mengalami gizi kurang, serta 2.042 siswa memiliki kebiasaan merokok.

Menurut Nadhir, berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan yang memengaruhi kondisi kesehatan telah mulai terbentuk sejak usia sekolah. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memperkuat program promotif dan preventif yang dilaksanakan secara berkelanjutan, terukur, serta melibatkan keluarga dan lingkungan pendidikan.

Ia menyebut sejumlah langkah yang dapat dilakukan, antara lain membiasakan menyikat gigi secara rutin, meningkatkan edukasi kepada orang tua, mengendalikan penjualan makanan dan minuman tinggi gula di lingkungan sekolah, mendorong aktivitas fisik harian, memperkuat penerapan kawasan tanpa rokok, serta memberikan pendampingan kepada siswa yang memiliki faktor risiko kesehatan.

“CKG telah memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi kesehatan anak di Maluku Utara. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan data tersebut menjadi kebiasaan hidup sehat yang dilakukan setiap hari. Perubahan perilaku tidak cukup melalui satu kali sosialisasi, tetapi membutuhkan pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung,” tegas Nadhir. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *