Mengapa Orang Pintar Pun Bisa Salah Membuat Keputusan Investasi?

Opini557 Dilihat

Mengapa Orang Pintar Pun Bisa Salah Membuat Keputusan Investasi?

Hartaty Hadady
(Akademisi Manajemen Investasi, Unkhair)

Kita sering berasumsi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin rasional pula keputusan keuangannya. Namun realitas menunjukkan hal yang sebaliknya seorang individu berpendidikan tinggi pun bisa terjebak dalam keputusan investasi yang keliru.

Dalam kerangka teori ekonomi klasik, individu diasumsikan sebagai makhluk rasional yang mampu mengolah informasi secara objektif dan mengambil keputusan optimal. Namun, asumsi ini semakin sulit dipertahankan ketika dihadapkan pada realitas perilaku investor modern.

Banyak kasus menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas keputusan finansial. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui pendekatan behavioral finance, yang menyoroti bagaimana bias kognitif dan emosi mempengaruhi pengambilan keputusan. Salah satu bias yang paling dominan adalah overconfidence, yaitu kecenderungan individu untuk melebih-lebihkan kemampuan dan pengetahuannya. Orang yang merasa “lebih tahu” sering kali justru mengambil keputusan dengan tingkat kehati-hatian yang lebih rendah.

Mereka percaya mampu membaca pasar, mengidentifikasi peluang, bahkan mengantisipasi risiko. Padahal, pasar keuangan adalah sistem yang sangat kompleks yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi, bahkan oleh para profesional sekalipun.

Selain itu, terdapat pula confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk mencari dan mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinan awal, sambil mengabaikan informasi yang bertentangan. Dalam konteks investasi, hal ini membuat individu hanya fokus pada narasi yang mendukung keputusan mereka, tanpa mempertimbangkan risiko secara objektif.

Akibatnya, keputusan yang diambil bukan lagi berbasis analisis menyeluruh, melainkan pembenaran atas keyakinan pribadi. Lebih jauh lagi bahwa individu berpendidikan tinggi sering kali memiliki akses informasi yang lebih luas. Namun ironisnya, banyaknya informasi tidak selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik. Tanpa kemampuan menyaring dan mengevaluasi informasi secara kritis, justru terjadi information overload yang membingungkan.

Dalam kondisi ini, individu cenderung kembali pada intuisi atau bahkan mengikuti opini yang dianggap “meyakinkan”. Disinilah paradoks itu terjadi: semakin tinggi pengetahuan, semakin besar pula potensi bias jika tidak disertai dengan kesadaran reflektif.

Masalah lainnya adalah ilusi kontrol. Individu merasa memiliki kendali atas hasil investasi, padahal banyak faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan seperti kondisi pasar global, kebijakan ekonomi, hingga sentimen investor lain. Ketika hasil tidak sesuai harapan, yang muncul bukan evaluasi objektif, melainkan rasionalisasi. Semua ini menunjukkan bahwa kesalahan investasi bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga oleh cara individu memproses pengetahuan tersebut.

Dan pada akhirnya kecerdasan mungkin membantu seseorang memahami investasi, tetapi tanpa kesadaran atas bias diri sendiri, kecerdasan yang sama justru dapat menjadi sumber kesalahan yang paling meyakinkan. (bersambung)

Penulis Hartaty Hadady adalah Akademisi Manajemen Investasi, Universitas Khairun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *