Fort to Fort Nusantara Raya Run 2026: Pemkot Ternate dan Harita Nickel Dorong Sport Tourism

POSTTIMUR.COM, TERNATE – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate menggandeng Harita Nickel dalam penyelenggaraan Fort to Fort Nusantara Raya Run 2026, sebuah ajang olahraga yang dikemas untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Kota Ternate melalui konsep sport tourism.

Kegiatan yang mengusung kategori lari 5K dan 10K tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Sabtu (29/8/2026). Sekitar 900 pelari dari berbagai wilayah Indonesia turut ambil bagian dalam ajang tersebut.

Berbeda dari lomba lari pada umumnya, Fort to Fort Nusantara Raya Run membawa peserta menyusuri sejumlah situs bersejarah di Kota Ternate. Rute perlombaan melewati sejumlah benteng peninggalan sejarah, di antaranya Benteng Kalamata, Benteng Oranje, dan Benteng Toloko.

Peserta dari berbagai usia bersiap di garis start Benteng Kalamata, Ternate, dalam ajang Fort to Fort Nusantara Raya Run 2026.

Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, mengatakan olahraga lari kini semakin diminati masyarakat dan telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Tingginya antusiasme tersebut menjadi salah satu alasan Pemkot Ternate menetapkan Fort to Fort Run sebagai agenda pariwisata tahunan.

“Fort to Fort Run kami tetapkan sebagai kalender kegiatan tahunan Kota Ternate. Kami berharap ajang sport tourism ini terus mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan destinasi wisata sejarah Ternate ke tingkat nasional maupun internasional,” ujar Tauhid.

Sementara itu, Ketua Panitia Rakernas XII JKPI yang juga Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menilai Fort to Fort Run menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan Ternate sebagai kota pusaka kepada masyarakat dari berbagai daerah.

Menurutnya, dari sekitar 900 peserta, hampir separuh merupakan pelari dari luar Ternate. Bahkan, sejumlah kepala daerah dan pejabat pemerintah daerah turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

“Dari 900 runners yang berpartisipasi, hampir separuhnya berasal dari luar Ternate, termasuk jajaran kepala daerah seperti Wali Kota Surakarta, Wali Kota Probolinggo, hingga Sekda Blitar. Ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan warisan budaya Ternate kepada lebih banyak orang,” ungkap Rizal.

Rizal juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan sektor swasta dalam mengembangkan pariwisata serta kebudayaan daerah.

Ia mengapresiasi keterlibatan Harita Nickel dalam penyelenggaraan Fort to Fort Run sebagai bentuk dukungan terhadap upaya Pemkot Ternate memperkenalkan sejarah dan budaya daerah melalui olahraga.

“Pengembangan pariwisata dan kebudayaan perlu kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Kami mengapresiasi Harita Nickel yang telah menjadi bagian dari penyelenggaraan Fort to Fort Run sekaligus mendukung upaya kami memperkenalkan warisan sejarah dan budaya Ternate melalui sport tourism,” ujar Rizal.

Harita Nickel: Olahraga Bisa Jadi Ruang Promosi Potensi Daerah

Executive Vice President External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam Fort to Fort Run merupakan bagian dari dukungan terhadap berbagai inisiatif masyarakat dan pemerintah di Maluku Utara, khususnya di bidang pariwisata dan pelestarian warisan budaya.

Menurut Latif, Maluku Utara memiliki kekayaan sejarah, budaya, alam, dan kehidupan masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata daerah.

“Bagi Harita Nickel, Maluku Utara adalah rumah. Karena itu, ketika ada inisiatif yang mengajak masyarakat untuk mengenal dan merawat kekayaan sejarah serta budaya daerah ini, kami ingin menjadi bagian di dalamnya. Fort to Fort Run menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi cara untuk membawa orang lebih dekat dengan sejarah dan karakter sebuah daerah,” kata Latif.

Ia menilai kegiatan tersebut juga memberikan gambaran bahwa olahraga dapat menjadi medium untuk mengangkat potensi daerah sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat.

Pendekatan serupa, kata Latif, dapat dikembangkan di wilayah operasional Harita Nickel di Pulau Obi, tentunya dengan menyesuaikan karakter dan potensi masing-masing wilayah.

“Kegiatan seperti Fort to Fort Run menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi ruang untuk mengangkat potensi daerah sekaligus membuka keterlibatan masyarakat. Pendekatan serupa juga dapat dikembangkan di wilayah lingkar operasional kami di Pulau Obi dengan menyesuaikannya pada karakter dan potensi setempat,” ujarnya.

Latif menegaskan, pengembangan kegiatan tidak harus dibuat seragam. Setiap daerah memiliki kekuatan, karakter, dan cerita masing-masing.

Jika Ternate memiliki kekuatan pada sejarah dan warisan budayanya, Pulau Obi memiliki potensi berbeda, terutama kekayaan pesisir, perairan, serta kehidupan masyarakatnya.

“Di Ternate, kekuatan itu salah satunya ada pada sejarah dan warisan budayanya. Di Obi, kami melihat kekuatan yang berbeda, seperti kekayaan pesisir, perairan, dan kehidupan masyarakatnya,” jelas Latif.

Menurutnya, yang terpenting adalah memastikan masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan keinginannya, ikut menentukan bentuk kegiatan, serta mengambil bagian secara bermakna dalam pembangunan daerah.

Obi Fishing Tournament Jadi Contoh

Latif menyebut, salah satu kegiatan yang telah berjalan di wilayah operasional Harita Nickel di Pulau Obi adalah Obi Fishing Tournament yang telah diselenggarakan sejak 2022.

Kegiatan tersebut mempertemukan masyarakat Desa Kawasi dan Soligi bersama karyawan Harita Nickel melalui olahraga dan rekreasi yang memanfaatkan potensi perairan setempat.

“Kami berharap Obi Fishing Tournament dapat kembali diselenggarakan dalam waktu dekat dan terus memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat. Bagi kami, kegiatan seperti ini bukan hanya tentang penyelenggaraannya, tetapi tentang bagaimana masyarakat dapat ikut mengambil peran, menunjukkan potensi daerahnya, dan menjadi bagian dari proses membangun daerah,” ujar Latif.

Ia menambahkan, pengembangan kegiatan berbasis potensi lokal dapat disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing daerah.

“Ternate punya sejarah dan warisan budayanya, sementara Obi memiliki potensi pariwisata berbasis pesisir, serta kehidupan dan budaya masyarakatnya. Kami ingin mendukung ruang yang memungkinkan potensi tersebut dikenal dan tumbuh bersama masyarakat Maluku Utara,” tutup Latif. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top