Foto : Hayrul Raha
Oleh : Hayrul Raha
(Ketua Bidang P.A.O Cabang Sorong)
Kita bersyukur matahari memberikan kehangatan, bertepatan dengan kita berkumpul hari ini untuk memperingati Hari Pahlawan. Pada 10 November 1945, pertempuran sengit terjadi di Indonesia, melawan para penjajah dan para sekutu yang hendak merampas Kemerdekaan Republik Indonesia, negara tercinta.
Di Momentum Hari Pahlawan ini Coba kita renungkan Tentang Indonesia seperti apakah yang diajukan Sukarno? Apakah Indonesia Merdeka itu didirikan untuk orang atau golongan tertentu? Sukarno menegaskan: sudah tentu, tidak! Sukarno menghendaki suatu Negara ‘semua buat semua’. Kebangsaan Indonesia, yang ditawarkan Sukarno sebagai yang pertama dalam dasar negara, dimaksudkan Bukan khusus bagi golongan bangsawan, bukan pula semata demi Golongan kaya. Kebangsaan tersebut didirikan di atas kesatuan bumi Indonesia, dari ujung Sumatera hingga Papua; sekali lagi sebagai suatu Negara ‘semua buat semua’. Spirit kebangsaan yang egaliter dan inklusif tersebut juga Meresapi seluruh sila yang oleh Sukarno dimaksudkan sebagai Suatu philosofiche gronslag bagi Indonesia Merdeka tersebut. Selain Memberi tempat bagi perikemanusiaan demi mengantisipasi agar Nasionalisme tidak meruncing menjadi chauvinisme, Sukarno juga Mengajukan permusyawaratan demokratis yang memungkinkan Paham berlainan bertaruh gagasan. Dengan kesejahteraan sosial, Sukarno juga mengingatkan bahwa permusyawaratan itu mestilah Mampu memberi hidup; tidak ada demokrasi politik tanpa keadilan Sosial. Terakhir, hendaknya Indonesia Merdeka disusun berdasarkan Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dengan cara yang berkeadaban.
Maka dari itu Peringatan Hari Pahlawan dapat kita jadikan sebagai cermin atau refleksi tentang pengorbanan, keteladanan, dan keteguhan untuk menggapai harapan masa depan dengan terus bekerja dan bekerja, dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera sebagai cita-cita perjuangan bangsa.
Sebagaimana bunyi sila kelima Pancasila yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, juga sebagai momentum dalam rangka menumbuh-kembangkan nilai-nilai persatuan, kepahlawanan, keperintisan, dan kesetiakawanan sosial. Apa yang telah dilakukan para pahlawan kiranya dapat menginspirasi dan memotivasi kita semua untuk meneruskan perjuangan mereka. Banyak permasalahan yang negeri ini tengah hadapi, seperti kemiskinan, bencana alam, narkoba, serta paham-paham radikal.
Demikian pula permasalahan yang jelas-jelas tengah kita hadapi, yang butuh kekompakan negeri dan seluruh bangsa, yakni pandemi Covid-19. Meski dalam situasi pandemi, tidak mengurangi arti dari memperingati Hari Pahlawan Negeri. Mari melaksanakan peringatan Hari Pahlawan ini dengan hikmat dan tidak kehilangan makna. Bahkan, diharapkan dapat memberi energi tambahan untuk menggugah kesadaran setiap elemen bangsa untuk terus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa.
Nilai-nilai kepahlawanan seperti percaya kepada Yang Maha Esa, rela berkorban, pantang menyerah suka membantu, bergotong royong perlu terus ditanam dan pupuk agar terus bersemi di dalam hati sanubari rakyat Indonesia. Mari tunjukkan kontribusi kita kepada negeri dengan menjadi pahlawan masa kini, yang memiliki empati, menolong sesama, saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat jasa-jasa para pahlawannya. Maka mari kita dengan hikmat berpartisipasi dalam Hari Pahlawan ini dengan niat diri sendiri. Dimulai dari hal-hal kecil mengamalkan nilai-nilai rohani dan negeri, meneladani semangat para pahlawan demi NKRI.











