Mbak Puan yang Indonesia Banget

Opini124 Dilihat

Mbak Puan yang Indonesia Banget

Oleh: Subhan Hi Ali Dodego

Selamat Datang DI PostTimur.Com – Mba Puan yang Indonesia Banget

Sudah jamak diketahui, bahwa perempuan Indonesia telah mewarnai dan memberi inspirasi kepada dunia. Sebut saja mereka adalah Cut Nyak Dien, Cut Meutia, RA Kartini, Raden Dewi Sartika, Martha Cristhina Tijahahu, Nyi Ajeng Serang, Maria Walanda Maramis, Nyai Ahmad Dahlan, Hajjah Rasuna Said, Hj. Fatimah Siti Hartinah Suharto dan Hj. Fatmawati Soekarno yang telah dikukuhkan menjadi pahlawan nasional. Tentu gelar pahlawan yang dinobatkan kepada mereka bukan tanpa alasan yang jelas melainkan atas dasar jasa dan nilai perjuangan dalam mempertahankan dan memerdekakan Indonesia.

Sederet tokoh tersohor yang disebutkan di atas adalah para pahlawan perempuan pejuang pra kemerdekaan. Sekarang Indonesia telah merdeka sejak 77 tahun yang silam. Tentu situasi sudah jauh berbeda. Kalau dulu para pejuang perempuan harus turun ke medan perang memegang senjata dan bambu runcing, maka sekarang tidak lagi. Perempuan pasca kemerdekaan bertugas mengisi kemerdekaan dengan ilmu dan prestasi di bidangnya masing-masing.

Prestasi dan kontribusi nyata tersebut telah tampak pada perempuan-perempuan di era kemerdekaan saat ini salah satunya adalah Mbak Puan sapaan akrab Puan Maharani Nakhsatra Kusyala Devi. Mbak Puan adalah sosok perempuan langka dan unik yang dimiliki bangsa Indonesia. Boleh dikatakan beliau sangat sesuatu.  Kenapa begitu?  Karena dalam diri Puan mengalir darah Indonesia.

Perempuan kelahiran Jakarta 1973 ini dilahirkan dari keluarga pemimpin bangsa. Ayahnya adalah Muhammad Taufik Kiemas, pernah menjadi Anggota DPR RI selama dua periode berturut-turut dari PDI-P masa bakti 1999-2004 dan 2004-2009 serta Ketua Dewan Permusyawaratan Rakyat RI tahun 2009-2014. Ibunya adalah Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden RI. Dia juga adalah cucu dari Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Jenjang pendidikannya dimulai dari SD Perguruan Cikini 1988, SMP Perguruan Cikini 1988, SMA Peguruan Cikini tahun 1991 dan melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia Jurusan Komunikasi Massa Fakultas FISIP UI Jakarta tahun 1997. Maharani juga pernah dianugerahi gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Diponegoro.

Secara genealogi, Mbak Puan dilahirkan dari keluarga yang cukup kental dan memperjuangkan ideologi marhaenisme. Marhaenisme merupakan paham yang bertujuan untuk mempejuangkan  nasib rakyat kecil untuk memperoleh kesejahteraan hidup. Paham marhaenisme ini  juga berkaitan dengan ideologi politik yang tumbuh dan berkembang di Indonesia berdasarkan Indonesia dengan asas sosionasional,  sosiodemokrasi, gotongroyong,  kebangsaan, kemerdekaan beragama dan kerakyatan (lihat: Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Dapat dikatakan Mbak Puan secara garis keturunan dilahirkan dari keluarga marhaenis dan memiliki gagasan politik kerakyatan. Hal ini dibuktikan dengan Bung Karno lahir di Surabaya Jawa Timur, ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodiharjo yang juga berasal dari Jawa Timur. Sementara Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari bangsawan Bali. Mereka bertemu pada saat sang ayah menjadi guru di Bali.  Ideologinya Bung Karno boleh dikatakan berasal dari  Hos  Tjokroaminoto, karena Soekarno hanya sebentar tinggal bersama kedua orang tuanya di Blitar dan hidup bersama gurunya.

Ibunya Megawati Soekarnoputri lahir di Bengkulu, Bapaknya seorang Tokoh Muhammadiyah. Sedangkan Ibu Megawati Soekarnoputri lahir di Jogyakarta. Dan bapaknya Taufik Kiemas kakek Puan Maharani adalah tokoh Masyumi di Palembang Sumatera Selatan yang memiliki aliran darah Sumatera Barat. Dari silsilah Puan Maharani tersebut, dapat dipahami bahwa darah marhaenisme dan politik kerakyatan ini sudah menjadi darah daging Mbak Puan sejak lahir hingga tumbuh dewasa. Karena dari pelbagai akulturasi kebudayaan dari keluarganya ini menjadikan Mbak Puan sangat nasionalis, pancasilais, berkebudayaan dan religious. Tidaklah berlebihan jika dikatakan dalam dirinya telah terukir Indonesia mini.

Walaupun Mbak Puan lahir dari keluarga termasyhur tetapi bukan berarti beliau  tidak berusaha dan bekerja keras. Hal ini sudah dilalui Mbak Puan sejak kecil hingga dewasa. Mbak Puan merupakan seorang politikus yang terlahir dari keluarga yang sangat kental dengan dunia politik. Boleh dibilang politik menjadi alat untuk menciptakan perubahan bagi masyarakat dan bangsa. Awal karir politiknya, dimulai ketika bergabung dengan PDI-P yang pada saat itu di bawah kepemimpinan ibunya Megawati dan kemudian terpilih sebagai anggota DPR RI. Bahkan dia dipercayakan sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Sebagai anak yang terlahir dalam lingkaran politik, Mbak Puan sejak kecil secara otomatis sudah dihadapkan dengan lambang negara, lambang partai yang menjadi pemandangan sehari-hari ini secara tidak langsung telah membentuk watak dan kepribadiannya. Aliran darah politik kerakyatan dari orang tuanya mengalir deras dalam denyut nadinya dibandingkan dengan anak-anak Megawati yang lain. Bahkan ada Sebagian yang berpendapat bahwa di antara cucu-cucu Bung Karno, Mbak Puan lah yang mewarisi derap perjuangan politik Bung Karno. Sebetulnya wajar jika hal ini terjadi karena Mbak Puan adalah cucu sang Proklamator sekaligus Presiden Pertama Ir. Soekarno dan anak dari Presiden ke-5 yakni Megawati Soekarnoputri.

Mungkin secara fisik kehadiran Soekarno tidak secara langsung, tetapi didikan dari ibunya ini kerap kali memotivasi dan menjadi spirit bagi Mbak Puan hingga akhirnya memutuskan memilih jalan terjal untuk terjun dalam dunia politik dan menjadikan PDI-P sebagai perahu perjuangannya. Selain itu, Puan juga sangat beruntung karena memiliki sosok ayah Taufik Kiemas yang pernah didaulat sebagai ketua MPR RI ke-12 yang memiliki sikap yang sangat moderat, dan mengedepankan politik kerakyatan. Dengan kelenturan ayahnya ini dan ketegasan ibunya menjadi  modal besar bagi dirinya kelak menjadi seorang perempuan hebat di bangsa ini.

Jadi dapat dipahami bahwa, spirit perjuangan sebagai seorang perempuan muda ini telah dipelajari dan digelutinya sejak Mbak Puan berusia belia. Sehingga tidak mengherankan jika dirinya tumbuh dewasa kelak menjadi seorang politisi ulung nan andal. Namun, bukan berarti perjuangan seorang Maharani dalam kancah politik ini semudah yang kita bayangkan. Mbak Puan dengan kegigihannya mampu mendobrak kultur yang selama ini sudah mengakar di masyarakat bahwa hanya laki-laki yang bisa menjadi pemimpin ini dibuktikannya sehingga bisa sukses menjabat Menteri Koordinator dan Ketua DPR RI. Oleh karenanya, dari rekam jejak perjuangan politik Mbak Puan ini tampak dan jelas dia adalah sosok perempuan yang bertaruh nyawanya dalam jalan politik kerakyatan. Politik bagi Puan seakan menjadi nafas dan ruh dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada usia 33 tahun Mbak Puan aktif di dunia politik. Walaupun demikian, bukan berarti dia tidak memahami politik sama sekali. Sejak duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi dia selalu menyaksikan kerasnya politik yang selalu dihadapi keluarganya. Tidak hanya sekadar menyaksikan, tetapi juga mengikuti ibunya melakukan lawatan di dalam dan luar negeri. Karir organisasinya dimulai sejak bergabung di organisasi KNPI bidang luar negeri dan masuk di PDI-P.

Setelah ditempa dan matang secara organisasi, Mbak Puan mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI Dapil Jawa Tengah: Surakarta, Sukoharjo,  Klaten dan Boyolali. Dia akhirnya meraih suara terbanyak.  Pada usia cukup muda 36 tahun Puan dilantik menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014. Kemudian dia didaulat sebagai Ketua Fraksi PDIP di DPR RI menggantikan Tjahjo Kumolo. Dan pada Pemilu berikutnya kembali terpilih menjadi anggota DPR RI.

Kematangan berpolitik dilanjutkan dalam struktur partai politik.  Dia diangkat sebagai Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga DPP PDI-P. Pada Pemilu 2014 Mbak Puan ditunjuk dan mengambil peran sebagai panglima partai. Luar biasa bukan? Pada akhirnya PDI-P menang dan sukses meraih suara terbanyak pada Pemilu 2014.

Karirnya semakin melejit dengan memenangkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dalam pilpres 2014.  Perjuangan kerasnya telah membuahkan hasil yang gemilang. Dia juga didapuk sebagai Menteri termuda pada usia 41 tahun dan orang pertama yang mengisi Kementerian baru yaitu Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan hingga kini menjabat Ketua DPR RI.

Dari pelbagai kemampuan dan prestasi tersebut menunjukkan bahwa Mbak Puan adalah aset masa depan dan sosok perempuan terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia. Dari kualitas diri, kapasitas dalam memimpin organisasi inilah menjadi modal besar bagi Mbak Puan untuk menopang karirnya semakin moncer. Lantas prestasi yang diraih tersebut dengan jalan instan? Jawabnya tentu tidak.

Walaupun dirinya dibesarkan dari keluarga terpandang tetapi Mbak Puan memulai karir politiknya dari nol. Sehingga membentuk pola pikir, sikap dan tindakan Mbak Puan yang semakin matang dan akhirnya menjadi pimpinan srikandi parlemen di bangsa ini. Modal kemampuan tersebut lah dia mampu membawa parlemen menjadi wadah aspirasi yang produktif, adaptif dan mampu mengejawantahkan kepentingan rakyat Indonesia.

Kemampuan dan prestasi Mbak Puan ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi generasi muda Indonesia dan khususnya kaum perempuan. Bahwa sejatinya perempuan juga mampu menjadi pemimpin bangsa. Ini telah dibuktikan oleh Mbak Puan. Yang terpenting adalah tekad dan usaha yang sungguh-sungguh. Selain mendapat pengalaman dari keluarganya dia juga telah ditempa di kampus untuk mengasah intelektualnya, di organisasi intra dan ekstra kampus untuk mengasah pengalamannya, dan memiliki segudang prestasi cemerlang akhirnya mengantarkan Mbak Puan ke senayan sebagai Ketua DPR RI dan menjadi Menteri Koordinator.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *