Oleh: Abd. Khaliq Abdullah
Mahasiswa Universitas Khairun Ternate, Prodi Manajemen
PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) terus memperkuat langkah-langkah strategis dalam menghadapi tantangan geografis dan cuaca ekstrem di wilayah perairan antara Maluku Utara dan Sulawesi. Upaya ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya mobilitas penumpang dan intensitas perubahan cuaca yang dipengaruhi fenomena iklim global.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap keselamatan pelayaran, PELNI secara konsisten menjalankan program perawatan armada melalui docking rutin dan pemeriksaan kelayakan berlayar (ramcheck), sesuai dengan standar internasional SOLAS. Pada 2025, seluruh kapal penumpang dan perintis telah dilengkapi sistem evakuasi modern, jumlah alat pelampung yang melebihi kapasitas penumpang, serta teknologi pelacakan digital seperti voyage data recorder (VDR) yang berfungsi layaknya “kotak hitam” pada pesawat.
Dalam upaya mengantisipasi cuaca ekstrem, PELNI menjalin kerja sama intensif dengan BMKG melalui sistem host-to-host, yang memungkinkan akses data prakiraan cuaca secara real-time. Data ini menjadi acuan penting bagi para nakhoda dalam mengambil keputusan, khususnya di jalur pelayaran rawan badai dan gelombang tinggi. Dukungan ruang operasi 24 jam yang dilengkapi alat pemantauan dan komunikasi terkini turut memperkuat sistem pengawasan seluruh rute aktif.
Kolaborasi PELNI dengan BPBD dan BMKG Provinsi Maluku Utara juga difokuskan pada penguatan sistem peringatan dini terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Wilayah ini berada di atas lempeng tektonik aktif, sehingga pendekatan berbasis komunitas dan literasi kebencanaan menjadi bagian penting dari agenda nasional pengurangan risiko bencana di sektor pelayaran.
Sementara itu, Kantor KSOP Ternate turut berkontribusi melalui sistem buka-tutup pelabuhan saat cuaca ekstrem terjadi. Gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter selama musim angin timur menjadi alasan utama penerapan kebijakan ini demi menjamin keselamatan seluruh penumpang dan awak kapal.
Melalui integrasi teknologi, sinergi antar lembaga, dan standar keselamatan internasional, PELNI menegaskan bahwa mitigasi risiko bukan sekadar kewajiban operasional, melainkan bentuk nyata pelayanan publik yang mengedepankan keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Strategi ini mencerminkan transformasi digital yang adaptif dalam sistem transportasi laut nasional.









