Oleh: Uthmiyana
Mahasiswa Universitas Khairun Ternate, Prodi Manajemen
Pertanian memegang peran vital dalam perekonomian dan ketahanan pangan di Maluku Utara. Sebagian besar penduduk di wilayah ini menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mendorong pengembangan sistem pertanian yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah melakukan kajian mendalam terhadap potensi pertanian, khususnya pada komoditas unggulan seperti kelapa, pala, dan cengkeh.
Sektor pertanian merupakan salah satu dari lima sektor utama penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku Utara. Meskipun kontribusinya terhadap PDRB mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, pertanian tetap menjadi sumber penghidupan utama, terutama di daerah pedesaan. Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa sektor ini masih menyerap sebagian besar tenaga kerja di Maluku Utara. Potensi sumber daya alam wilayah ini juga sangat mendukung, baik dari segi lahan perkebunan maupun perairan untuk subsektor perikanan.
Namun, sektor pertanian kita tidak lepas dari tantangan. Penurunan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) dan dominasi tenaga kerja berusia di atas 45 tahun menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan pertanian ke depan. Minimnya minat generasi muda untuk berkecimpung di dunia pertanian, ditambah tingkat pendidikan tenaga kerja yang relatif rendah, memperburuk situasi ini. Jika tidak segera diatasi, hal ini bisa berdampak serius terhadap ketahanan pangan dan perekonomian daerah.
Baca Juga :
- Pengeluaran Konsumsi dan Kontribusi Terhadap Pembangunan Ekonomi di Maluku Utara
- Mitigasi Resiko Aman Berlayan Dengan Transportasi Laut Lokal Speedboat Yang Menghubungkan Kota Ternate Dan Kota Tidore Kepulauan
Meski demikian, peluang besar tetap terbuka. Permintaan pasar terhadap kelapa, pala, dan cengkeh tetap stabil. Ditambah lagi, masih banyak ruang untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan hasil pertanian menjadi produk turunan yang lebih bernilai ekonomi. Inilah modal berharga yang perlu dimanfaatkan untuk memajukan sektor pertanian Maluku Utara.
Jika ditelaah lebih dalam, kelapa merupakan komoditas tahunan yang paling banyak dibudidayakan oleh petani di Maluku Utara. Produk turunannya seperti minyak kelapa dan tepung kelapa sudah mulai dikembangkan, membuka peluang besar untuk ekspansi pasar. Pala, yang telah lama menjadi identitas Maluku Utara sebagai salah satu penghasil utama di Indonesia, masih memiliki potensi besar jika dikelola secara lebih modern. Sementara itu, luas perkebunan cengkeh terus mengalami peningkatan, menunjukkan adanya tren pertumbuhan yang positif. Meski demikian, pengembangan cengkeh tetap harus mengatasi tantangan seperti fluktuasi harga, keterbatasan infrastruktur, serta gangguan hama dan penyakit.
Menurut saya, pengembangan sektor pertanian Maluku Utara harus diarahkan pada model yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan. Peran pemerintah, dunia akademik, pelaku usaha, serta masyarakat sangat diperlukan untuk mewujudkan pertanian yang lebih maju. Dengan memanfaatkan data, teknologi, dan sumber daya manusia secara optimal, saya yakin pertanian Maluku Utara bisa menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi daerah dan berkontribusi besar bagi ketahanan pangan nasional.










