Oleh : Kakang Teluk
Ucapan Doland Trump, ini justru membingkai ketakutan dalam dirinya sendiri, bahwa dia seolah mengancam posisi basis di wilayah timur tengah akan tetapi ini bukanlah hal baru, dia hanya seperti orang yang dua kali lipat berkeringat ketakutan.
Berikut beberapa postingan Donald Trump melalui media sosialnya: ingat.!
“Saya memberi Iran kesempatan untuk membuat kesepakatan. Saya mengatakan kepada mereka, dengan kata-kata terkuat, untuk melakukannya saja, tetapi tidak peduli seberapa keras mereka mencoba, tidak peduli seberapa dekat mereka, mereka tidak bisa menyelesaikannya.”
“Saya mengatakan kepada mereka bahwa akan jauh lebih buruk daripada apa pun yang mereka ketahui, diantisipasi, atau diberitahu, bahwa Amerika Serikat membuat peralatan militer terbaik dan paling mematikan di mana pun di dunia, dan Israel memiliki banyak peralatan militer, dengan lebih banyak lagi yang akan datang, dan mereka tahu bagaimana untuk menggunakannya.”
“Beberapa garis keras Iran berbicara dengan berani, tetapi mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka semua sudah mati sekarang, dan itu hanya akan bertambah buruk!”
“Sudah ada kematian dan kehancuran yang besar, tetapi masih ada waktu untuk melakukan pembantaian ini, dengan serangan yang sudah direncanakan berikutnya menjadi lebih brutal, berakhir.”
“Iran harus membuat kesepakatan, sebelum tidak ada yang tersisa, dan menyelamatkan apa yang dulunya dikenal sebagai Kerajaan Iran. Tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi kehancuran. Jalani saja sebelum terlambat. Tuhan memberkati kalian semua!”
Ucapan-ucapan ini adalah fakta yang menunjukan kekhawatiran Amerika atas upaya dari basis antitesanya. Kami justru melihat ini dalam kacamata politik dan ekonomi bahwa situasi dunia dalam krisis yang mendalam, kapitalisme global yang di monitoring oleh Amerika telah mencapai limit overprodueksi-nya sendiri, sehingga untuk menjawab krisis mendalam ini, hanyalah dengan brutalisme serta ancaman politik yang di arahkan pada peperangan.
Pada analisis yang kami gunakan kian bukan lagi moral dan pandangan kosong Borjuis, melainkan pandangan kelas yang sebetulnya akan menghimpun kekuatan melawan kapitalisme yang kejam.
Trump sendiri adalah antek kapitalisme, baru-baru ini artikel yang kami luncurkan mengenai upaya tarif Trump, justru demikian adalah jawaban atas ekonomi dan politik yang tidak bisa lagi di prediksi sebagai keselamatan kekuasaan kapitalisme. Benar kata Marx bahwa pada situasi yang panjang “kapitalisme akan mengali liang kuburnya sendiri” dan yang menguburnya adalah kelas proleletariat.
Kini Trump dengan aneh mengancam dan seolah membredel situasi Dinia dengan segalah bentuk teror terhadap orang-orang di timur tengah, Trump dengan ambisi dan keras kepalanya, tanpa sadar dia telah mengubur dirinya hidup-hidup. Iran telah lama menjadi jawaban sikap kerasnya sebagai negara yang pernah menantang Amerika.
Baca Juga:
Genosida Ekologis di Indonesia Timur: Pembangunan atau Penindasan?
Kebijakan Hilirisasi Nikel: Ketimpangan Struktural yang Merampas Kedaulatan Rakyat Maluku Utara
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dimulai sejak Revolusi Iran tahun 1979 dan terus berlanjut hingga saat ini. Konflik ini dipicu oleh berbagai faktor, antara lain yakni perebutan legitimasi di Timur Tengah, misi nuklir Iran, dan sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS.
Berikut dengan singkat telah teruraikan, kontradiksi Iran dan AS ini adalah polemik politik, bermula dari kudeta yang didalangi CIA, Melansir Al Jazeera, kebanyakan pakar berpendapat bahwa rivalitas Teheran vs Washington berawal dari kudeta di Iran pada 1953 didalangi CIA. Kudeta tersebut menggulingkan perdana menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mossadegh yang berupaya menasionalisasi industri minyak Iran.
Dengan panjang kami melihat Ketegangan Politik ini justru pada Kudeta pemimpin monarki Iran, disaat demikian, Syah Mohammad Reza Pahlevi kembali ke tampuk kekuasaan. Pada 2013, CIA pun mengonfirmasi keterlibatannya dalam peristiwa ini. “Kudeta itu adalah awal dari sekuens tragedi yang menghalau AS dan sekutunya di Timur Tengah hingga hari ini,” kata mantan agen CIA, Robert B. Baer pada 2013 silam menyebut, “Itu adalah sumber kunci sentimen anti-Amerika yang pecah selama Revolusi Iran 1979,”
Kembali berkuasanya Pahlevi membuat Iran mengubah haluan politik menjadi pro-Amerika. Selama kekuasaan Pahlevi, Iran berhubungan mesra dengan AS selama kurang-lebih dua dekade hingga revolusi meletus.
Revolusi 1979
Pemerintahan monarki Syah Reza Pahlevi digulingkan melalui Revolusi Islam yang meletus pada 1979. Revolusi ini sekaligus menghasilkan pemerintahan teokratis Iran yang bertahan hingga sekarang.
Usai digulingkan, Pahlevi awalnya kabur ke Mesir, tetapi kemudian pergi ke AS. Washington berdalih memberi suaka kepada Pahlevi atas alasan “kemanusiaan”. Pada akhir 1979, pelajar yang mendukung Revolusi Islam menduduki gedung Kedutaan Besar AS di Teheran. Mereka menyandera 52 diplomat dan warga AS selama 444 hari. Insiden ini membuat presiden AS saat itu, Jimmy Carter memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada 1980. Hubungan keduanya tak kunjung pulih saat tindakan pemerintahan Carter ini.
Pada 1980, hubungan Teheran-Washington juga memburuk akibat Perang Iran-Irak. AS secara sembunyi-sembunyi menyokong Baghdad dalam perang yang merenggut ratusan ribu jiwa ini.
Pada 1990-an dan 2000-an, sejumlah insiden yang menandai buruknya hubungan Iran-AS pun terjadi. Terkini, kedua negara berselisih mengenai program nuklir Iran yang menjauh dari poin-poin kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Teheran semakin intensif menjalankan program nuklir, termasuk memperkaya uranium hingga mendekati level senjata nuklir, usai pemerintahan AS di bawah Donald Trump keluar dari JCPOA dan menyanksi Iran.
Pada pergolakan-pergolakan tersebut tentu tak cukup untuk menjawab bagimana posisi kelas yang di hisap disaat ketegangan politik ini di mulai, dengan sederhana kami melihat Ketegangan dan perselisihan ini antara lain adalah industri yang di mainkan, produksi senjata, obat-obatan untuk menyediakan peperangan dan lain sebagainya, justru kelas buruh lah yang manjadi korban dan penghisapan semakin membabi-buta. Ratusan bahkan jutaan kelas pekerja telah mengalami depresi serta luka mendalam atas kepentingan politik kapitalisme.
Itulah sebabnya kami menyerukan sikap bahwa tidak ada lagi hal lain, selain memposisikan diri untuk menantang kapitalisme, dengan cara memperkuat kekuatan proleletariat dengan kekuatan partai revolusionernya untuk menciptakan kekuatan revolusi bagi umat manusia yang di pimpin dengan kediktatoran proleletariat.










