Hamba Menggugat Tuhan: 500 Tahun yang Sia-Sia di Ambang Firdaus

Opini692 Dilihat

Oleh: Ibnu Furqan, S.Hum

Senja merambat turun, langit memerah di ufuk barat. Dalam suasana yang hening dan penuh takzim, beberapa sahabat duduk melingkari Rasulullah. Mereka menanti petuah agung, atau mungkin sebuah kabar dari langit. Wajah sang Nabi berseri, lalu beliau membuka sebuah kisah luar biasa yang disampaikan oleh Jibril. “Ia datang membawa kisah seorang hamba dari masa lampau. Sebuah kisah yang membuka kesadaran kita tentang hakikat amal dan luasnya rahmat Tuhan,” sabda Rasul.

(Kisah ini dinukil dari kitab at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Hafiz al-Mundziri, yang mengutip riwayat dari Imam al-Hakim).

Di tengah samudera luas, berdiri sebuah gunung batu kecil yang menjulang. Luasnya hanya sekitar 13,5 meter persegi. Namun untuk mencapainya, seseorang harus menempuh perjalanan sejauh 22.164 kilometer dari segala penjuru arah jarak mustahil bagi manusia biasa.

Gunung itu menjadi saksi bisu bagi kesalehan seorang hamba. Selama 500 tahun, ia menjalani hidup hanya untuk menyembah Tuhan: berdzikir, berdoa, menjauh dari dunia dan gemerlapnya. Ia hidup dalam sunyi, namun diberi kemurahan ilahi. Dari sela batu, memancar air jernih seukuran ibu jari. Sebatang pohon delima tumbuh dan berbuah setiap malam, meski normalnya hanya sekali dalam setahun.

Setiap senja, sang hamba turun untuk mengambil air dan memetik buah itu. Setelah menyantapnya, ia kembali ke tempat ibadahnya dan tenggelam dalam salat hingga fajar menyingsing. Begitulah kehidupannya selama lima abad. Hingga suatu hari, ia merasa ajalnya mendekat.

Ia pun berdoa, “Ya Tuhanku, jika Engkau berkenan, wafatkanlah aku dalam keadaan bersujud kepada-Mu. Dan jagalah jasadku, agar kelak aku dibangkitkan dalam keadaan yang sama.” Tuhan mengabulkan doa itu. Ia wafat dalam sujud, seperti yang dimintanya.

Baca Juga:

Mahasiswa Kubermas Unkhair Gandeng PKK Kelurahan Fitu: Manfaatkan Lahan Pekarangan untuk Budidaya Sayur Organik

Hilirisasi Nikel Mengubah Wajah Maluku Utara, Masyarakat Obi Tuntut Keadilan Pembangunan

Hari kebangkitan tiba. Sang hamba dibangkitkan dalam keadaan bersujud, sebagaimana doanya. Ia berdiri di hadapan Tuhan. Lalu terdengar seruan Ilahi, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku.”

Namun sang hamba justru menolak. Ia berkata, “Tuhanku, masukkan aku ke surga karena amalku!”

Tuhan kembali bersabda dengan lembut, “Tidak. Masuklah karena rahmat-Ku.”

Namun ia kembali membantah, “Tidak, Tuhanku. Aku ingin masuk karena amal yang telah kulakukan selama 500 tahun.”

Dengan kasih-Nya yang luas, Tuhan pun mengabulkan permintaan sang hamba. Maka diperintahkanlah kepada para malaikat: “Timbanglah semua nikmat yang telah Aku berikan kepadanya di satu sisi, dan seluruh amalnya di sisi yang lain.”

Timbangan pun dilakukan. Ternyata, seluruh amal ibadah selama 500 tahun tidak sebanding bahkan dengan satu nikmat saja yaitu penglihatan matanya. Belum lagi jika semua nikmat lain ditimbang: air yang mengalir, buah delima setiap malam, kekuatan untuk beribadah, tempat sunyi yang terjaga.

Mengetahui itu, sang hamba menjadi cemas. Kesombongan runtuh seketika. Lalu Tuhan berfirman tegas: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam neraka!”

Para malaikat menyeretnya. Di tengah perjalanan menuju neraka, dengan penuh penyesalan, sang hamba menangis dan berteriak, “Tuhanku! Engkau benar. Masukkan aku ke surga karena rahmat-Mu! Bukan karena amalku!”

Seruan tulus itu mengguncang langit. Tuhan memanggilnya kembali. Sang hamba dihadapkan kepada-Nya, dalam keadaan gemetar dan penuh penyesalan.

Tuhan bertanya:

“Siapa yang menciptakanmu ketika engkau belum menjadi apa-apa?”

“Engkau, wahai Tuhanku.”

“Apakah karena usahamu sendiri, atau karena rahmat-Ku?”

“Semata-mata karena rahmat-Mu.”

“Siapa yang memberimu kekuatan untuk beribadah selama 500 tahun?”

“Engkau, Tuhanku.”

“Siapa yang menempatkanmu di atas gunung di tengah lautan, mengalirkan air jernih, memberimu buah setiap malam, dan mengabulkan doamu untuk wafat dalam sujud?”

“Engkau, wahai Tuhanku. Semua adalah dari-Mu.”

Tuhan pun berkata:

“Ketahuilah, semua itu karena rahmat-Ku. Dan hanya dengan rahmat-Ku engkau masuk ke dalam surga. Masuklah, wahai hamba-Ku. Sungguh, engkau adalah hamba yang paling banyak menerima kenikmatan.”

Dengan air mata yang tak terbendung, syukur yang menggunung, dan kerendahan hati yang baru saja ia temukan, sang hamba itu pun melangkah masuk ke dalam surga—bukan karena amalnya, tetapi karena rahmat Tuhan. Sekali lagi, karena rahmat Tuhan-nya.

Kisah ini menjadi titik tolak kesadaran paling mendasar bagi kita. Bahwa amal sebesar apapun takkan pernah cukup membayar satu nikmat Tuhan, apalagi keseluruhan hidup yang telah Ia karuniakan.

Ia juga menjadi tamparan bagi jiwa-jiwa yang merasa bangga atas amalnya sendiri, lalu menatap orang lain dengan sinis. Bukankah semua kekuatan, kesempatan, dan hidayah untuk berbuat baik pun adalah karunia Tuhan?

Di hadapan Tuhan, tak ada tempat untuk kesombongan amal. Sebab keselamatan, hanya karena rahmat. Dan surga, tak pernah bisa dibeli dengan 500 tahun sujud, jika tanpa kasih dari Sang Pencipta.

Tetaplah bersandar pada rahmat Tuhan. Bukan pada kuasa “tuan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *