POSTTIMUR.com, HALUT- Penutupan turnamen sepak bola gawang sedang di Desa Makaeling, Kecamatan Kao Teluk, Minggu (10/8/2025), berubah menjadi panggung solidaritas. Usai penyerahan hadiah kepada para pemenang, panitia, penonton, dan masyarakat serentak mengangkat poster dan menyuarakan tuntutan pembebasan 11 pejuang lingkungan masyarakat adat Maba Sangaji yang hingga kini masih ditahan.
Turnamen yang digelar oleh mahasiswa KKN Universitas Khairun Tahap I 2025 bersama pemuda desa ini menobatkan Pratama FC (Desa Makaeling) sebagai juara 1, disusul Real Madrid (Desa Tiowor) di posisi 2, dan Fifiyana FC (Desa Makaeling) sebagai juara 3. Penyerahan hadiah dilakukan langsung oleh Kepala Desa Makaeling, Kepala Desa Persiapan Ploly, dan Ketua BPD Desa Makaeling.
Namun, momen kemenangan itu sekaligus menjadi panggilan moral. Rifaldo Jabir, Ketua Panitia Turnamen, menegaskan bahwa seruan ini bukan yang pertama kali disuarakan.
“Kami mendesak Polda Maluku Utara untuk segera membebaskan 11 pejuang lingkungan tanpa syarat. Mereka bukan penjahat, mereka adalah pembela bumi yang tidak layak dipidanakan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Fajrianto Idris, perwakilan pemuda Desa Makaeling, yang mengecam penangkapan tersebut sebagai bentuk kriminalisasi perjuangan lingkungan.
“Mereka ditangkap bukan karena berbuat kejahatan, tapi karena membela tanah leluhur dari ancaman eksploitasi. Negara seharusnya melindungi, bukan menindas. Aktivis lingkungan tidak seharusnya dijerat hukum, karena mereka berjuang demi kepentingan bersama,” ujarnya.
Fajrianto menegaskan bahwa perlindungan bagi aktivis lingkungan sudah diatur jelas dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat 3 dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), yang menjamin hak masyarakat untuk terlibat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Baca Juga:
Mahasiswa KKN dan Pemuda Makaeling Serukan Pembebasan 11 Pejuang Lingkungan Maba Sangaji
“Selama perjuangan dilakukan dalam koridor hukum, tidak ada dasar memidanakan mereka. Tanpa pelanggaran nyata, proses hukum ini justru bisa dianggap sebagai bentuk represi,” tambahnya.
Penutupan turnamen ini pun meninggalkan pesan kuat: sepak bola bukan hanya soal sportivitas di lapangan, tetapi juga tentang keberanian membela keadilan dan lingkungan hidup.











