POSTTIMUR.com, TERNATE- Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ekonomi Universitas Khairun (Unkhair) menggelar aksi refleksi di dua titik utama, yakni Pasar Barito dan depan Taman Nukila, Kota Ternate, Sabtu (01/11/2025).
Kader dan anggota PMII Rayon Ekonomi turut ambil bagian dalam aksi ini dengan membawa semangat perlawanan terhadap ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih membelenggu bangsa. Massa aksi membentangkan spanduk besar bertuliskan “ANAK MUDA BERGERAK, MELAWAN KAPITALISME DAN REBUT SEKTOR–SEKTOR STRATEGIS” sebagai simbol perlawanan terhadap sistem ekonomi kapitalistik yang dianggap menindas rakyat kecil dan memperlebar jurang kesenjangan sosial.
Dalam keterangannya, Koordinator Lapangan, Arsil Ismail, menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai momentum refleksi dan pembaruan semangat perjuangan pemuda.
“Setiap 28 Oktober, kita memperingati momen bersejarah ketika para pemuda berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Namun, semangat itu tidak cukup hanya dihafal, harus diwujudkan dalam perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan yang masih kita rasakan hari ini,” tegas Arsil dalam orasinya.
Arsil juga menyoroti arah kebijakan ekonomi-politik nasional yang dinilainya semakin tunduk pada kepentingan modal besar dan korporasi asing.
“Sejak masa Orde Baru, lewat kebijakan seperti UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA), negara membuka lebar pintu bagi kepentingan asing seperti PT Freeport di Papua. Sayangnya, kebijakan itu tidak pernah berpihak pada rakyat justru memperparah ketimpangan sosial dan eksploitasi sumber daya alam,” ujarnya lantang.
Dalam aksi tersebut, PMII Rayon Ekonomi Unkhair menyampaikan delapan tuntutan utama yang dianggap penting untuk memperjuangkan keadilan sosial dan ekonomi di Indonesia, khususnya di Maluku Utara:
1. Wujudkan reforma agraria sejati.
2. Cabut seluruh IUP (Izin Usaha Pertambangan) bermasalah di Maluku Utara.
3. Turunkan pajak dan harga sembako.
4. Wujudkan pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat.
5. Hentikan kriminalisasi terhadap masyarakat adat.
6. Tangkap dan adili pelaku kekerasan seksual.
7. Bebaskan seluruh tahanan politik di Indonesia.
8. Evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain Arsil, Tahmid Hakim turut menyuarakan orasi tegas yang mengecam tindakan represif negara terhadap masyarakat adat dan aktivis.
“Kami mendesak pemerintah dan aparat untuk segera membebaskan seluruh tahanan politik di Indonesia, serta menghentikan kriminalisasi terhadap masyarakat adat, seperti yang terjadi pada masyarakat adat Maba Sangaji beberapa waktu lalu. Negara seharusnya menjadi pelindung rakyat, bukan alat penindasan,” seru Tahmid.
Aksi refleksi yang berlangsung damai ini ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dan seruan agar pemuda Indonesia tetap menjadi kekuatan moral dan sosial yang berani berpihak pada rakyat.
“Sumpah Pemuda adalah warisan perlawanan. Tugas generasi hari ini adalah melanjutkan perjuangan itu — bukan dengan senjata, tetapi dengan kesadaran, keberanian, dan solidaritas melawan ketidakadilan,” pungkas Arsil dalam penutupan aksi.
Melalui refleksi Sumpah Pemuda tahun ini, PMII Rayon Ekonomi Unkhair menegaskan komitmennya sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang kritis, progresif, dan konsisten memperjuangkan keadilan sosial dan ekonomi bagi rakyat Indonesia.

















