Simbolik Tiang Alif Masjid Al-Muhajirin dalam Khazanah Filsafat Islam

Oleh: Sahib Munawar.S.Pd,I.M.,Pd

Dalam Khazanah Filsafat IsIam dan tradisi Arsitektur, secara simbolik bahwa: Tiang Alif dan Kubah Masjid merupakan representasi mendalam mengenai ketauhidan, spiritualitas, dan hubungan antara pencipta (Ilahi) dan makhluk. Khusus di wilayah Indonesia bagian Timur yakni di Maluku Utara.

Tiang Alif adalah mahkota Masjid yang memiliki makna yang begitu sakral yang diyakini oleh umat muslim didunia dan merupakan peradaban IsIam pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW waktu hijrah ke Madinah.

Secara Arsitektural dan filosofis, kubah adalah melambangkan kubah langit secara spesifik, yang menciptakan suasana spiritual yang membawa manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam perspektif lain bahwa: Tiang Alif menghubungkan wujud fisik masjid (bumi) secara materiil dengan alam ruhani (langit) dengan non materiil. Ia adalah mahkota yang menandakan bahwa tempat tersebut adalah ruang sakral pertemuan kehendak Ilahi dan manusia, seperti halnya perjalanan Nabi kita” Muhammad SAW yang disebut dengan Mi’raj yang secara transendental sebagai puncak tertinggi, perjalanan yang begitu dahsyat dan jauh dari pandangan dan nalar manusia biasa yang secara logika ditolak.

Hari ini tepatnya Hari Jum’at 16 Januari 2026 , bertempat di Salah satu Desa, ( Desa Pelita) kecamatan Mandioli Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Masyarakat Desa Pelita turut Menyaksikan salah satu peristiwa Agung , yang secara harfiah yakni Dalam tradisi lokal yang kita sebut dengan pemasangan Tiang Alif, diikuti dengan zikir dan selawat, menunjukkan perjalanan spiritual (prosesi naik) dari material menuju esensi ruhaniah (kenaikan wujud).

Simbol Kuba Mesjid ( Mesjid Al Muhajirin Desa Pelita), dalam perspektif Filsafatnya Al Farabi, yakni sebagai Wahdatu al wujud dalam arsitektur Islam yang melambangkan langit atau kubah langit.

Secara esoteris yang berarti tersembunyi dalam relung jiwa yang sedang berkhalwat dengan Tuhan secara hakikat. Sederhananya Tiang Alif dipandang sebagai perantara atau penghubung antara kehendak Ilahi (langit) dan manusia (bumi). Ia merupakan representasikan hubungan vertikal manusia dengan pencipta-Nya secara esoteris.

Penyaksian masyarakat Desa Pelita dalam pemasangan tiang Alif mesjid Al Muhajirin dan hadirnya Ouu( Sultan Bacan) adalah merupakan satu wujud yang disebut Dalam khazanah Filsafat IsIam oleh Al Farabi sebagai Wahdatu al wujud, sultan adalah simbolik Khalifah yang perwakilan dari Tuhan, dan Kuba/ tiang Alif kubah melambangkan tempat bermulanya pendakian spiritual (al-mi’raj) Nabi Muhammad SAW menuju hadirat Tuhan. Ini mewakili tujuan tertinggi seorang sufi/muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah (secara transendental).

Ini bukan hanya penyaksian secara fisik tapi bentuk dari lahirnya nilai nilai spiritual. Dan menjadi satu kebangaan bagi masyarakat Desa Pelita sebagai salah satu bangunan IsIam ( fondasi) yang mengandung nilai kearifan lokal dan spiritual. Hal ini mengandung pesan moral yang secara simbolik sebagai

lambang terhadap ajaran-ajaran Islam yang berisikan nilai-nilai akidah yang ditunjukkan kepada manusia, khususnya masyarakat Desa Pelita dan pada umumnya umat manusia untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT.

Simbol pemasangan tiang Alif dan Kuba Mesjid Al Muhajirin Desa Pelita menunjukkanbahwa : Masjid bukan hanya sekedar bangunan biasa, tetapi memiliki nilai-nilai kesakralan dan didalamnya dan harus di hormati dan Dilestarikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *