Oleh: Rizqiah Nurannisa Sangaji
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Sejarah perkembangan ekonomi Indonesia pada dasarnya adalah cermin dari perjalanan panjang bangsa dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan arus globalisasi. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu dipengaruhi oleh kekuasaan, kebijakan, dan kondisi dunia. Oleh karena itu, memahami sejarah ekonomi Indonesia bukan sekadar melihat masa lalu, tetapi juga menjadi kunci dalam menentukan arah pembangunan di masa depan.
Jika menengok ke masa kolonial, jelas terlihat bahwa struktur ekonomi Indonesia dibentuk untuk kepentingan penjajah. Sistem tanam paksa (cultuurstelsel) menjadi bukti nyata bagaimana rakyat dipaksa memproduksi komoditas ekspor demi keuntungan pemerintah kolonial Belanda. Kebijakan ini tidak hanya menciptakan ketimpangan ekonomi yang tajam, tetapi juga meninggalkan luka sosial yang mendalam. Dalam pandangan saya, fondasi ekonomi yang eksploitatif ini menjadi akar dari berbagai persoalan ketidakadilan yang masih terasa hingga saat ini.
Memasuki awal kemerdekaan, Indonesia dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Kondisi ekonomi yang belum stabil, inflasi yang tinggi, serta belum adanya sistem keuangan yang kuat menjadi hambatan besar. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, langkah penerbitan ORI (Oeang Republik Indonesia) menunjukkan tekad kuat bangsa untuk membangun kedaulatan ekonomi. Meskipun masih penuh kekurangan, fase ini menjadi titik awal penting dalam membangun identitas ekonomi nasional yang lepas dari bayang-bayang kolonialisme.
Pada masa Orde Baru, arah pembangunan ekonomi mulai menunjukkan perubahan signifikan. Pemerintah berfokus pada stabilisasi dan pertumbuhan melalui industrialisasi serta pembukaan investasi asing. Tidak dapat dipungkiri, periode ini berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Namun, menurut saya, keberhasilan tersebut dibayar mahal dengan munculnya praktik korupsi, ketimpangan sosial, dan ketergantungan pada kekuasaan yang terpusat. Krisis moneter 1997 menjadi bukti nyata rapuhnya fondasi ekonomi yang dibangun, sekaligus menjadi titik balik menuju perubahan besar dalam sistem pemerintahan.
Era reformasi kemudian membawa angin segar dengan berbagai kebijakan yang lebih terbuka dan berorientasi pada mekanisme pasar. Liberalisasi ekonomi dan integrasi dengan pasar global menjadi strategi utama untuk memulihkan kondisi ekonomi nasional. Hasilnya memang cukup positif, terlihat dari pemulihan ekonomi yang relatif cepat. Namun demikian, saya melihat bahwa keterbukaan ini juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya ketergantungan pada pasar internasional serta masih lebarnya kesenjangan pendapatan di dalam negeri.
Di era modern, perkembangan teknologi dan globalisasi semakin mempercepat transformasi ekonomi Indonesia. Digitalisasi membuka peluang baru, terutama bagi generasi muda dan pelaku usaha kecil untuk berkembang. Namun, di sisi lain, tantangan juga semakin kompleks. Pandemi COVID-19, misalnya, menunjukkan betapa rentannya sistem ekonomi terhadap guncangan global. Aktivitas produksi dan distribusi yang terganggu menyebabkan perlambatan ekonomi yang signifikan. Dalam situasi ini, peran pemerintah melalui kebijakan stimulus menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan.
Sebagai penutup, menurut saya, sejarah ekonomi Indonesia adalah kisah tentang perjuangan menuju kemandirian yang belum sepenuhnya selesai. Dari sistem kolonial yang eksploitatif hingga ekonomi modern yang terbuka, setiap fase membawa pelajaran berharga. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, tantangan seperti ketimpangan sosial, ketergantungan global, dan potensi krisis masih menjadi pekerjaan rumah besar. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada keadilan dan keberlanjutan, agar masa depan ekonomi Indonesia dapat lebih inklusif dan stabil.

















