Oleh: Putri Amalia
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Benteng-benteng tua di Ternate berdiri diam di bawah langit kelabu, seolah menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu yang perlahan dilupakan. Kota ini bukan sekadar titik kecil di peta Maluku Utara, melainkan panggung besar sejarah dunia—tempat perebutan rempah yang pernah mengundang bangsa-bangsa asing datang dan berkuasa. Namun hari ini, ketika kita menyusuri jalanan kota, tampak sebuah kontras yang mencolok dan mengusik nalar.
Di satu sisi, kafe dan tempat nongkrong “viral” tumbuh pesat, dipenuhi gelak tawa anak muda yang mencari ruang aktualisasi diri. Di sisi lain, benteng-benteng peninggalan kolonial justru sepi, sunyi, dan nyaris tak tersentuh. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah kita sedang mengalami krisis identitas, atau sekadar gagal mengemas sejarah agar tetap relevan di era digital?
Salah satu penyebab utama terletak pada apa yang bisa disebut sebagai “perang estetika”. Generasi muda hari ini cenderung memilih tempat yang dianggap menarik secara visual untuk dibagikan di media sosial. Kafe modern dengan desain minimalis, pencahayaan hangat, dan sudut foto yang “Instagramable” jelas lebih unggul dalam hal ini. Sementara itu, benteng-benteng seperti Oranje, Kalamata, dan Tolukko—yang sejatinya menyimpan nilai estetika klasik yang tak ternilai—kurang mendapatkan sentuhan pengelolaan visual yang memadai. Akibatnya, pesona sejarah kalah oleh kemasan modern yang lebih “ramah kamera”.
Namun persoalannya tidak berhenti pada aspek visual. Faktor kenyamanan dan kepraktisan juga memainkan peran besar. Nongkrong di kafe menawarkan kemudahan: makanan dan minuman tersedia, tempat duduk nyaman, serta fasilitas yang mendukung. Sebaliknya, menghabiskan waktu di kawasan benteng sering kali membutuhkan usaha lebih—tidak adanya fasilitas kuliner terintegrasi atau sarana pendukung lainnya membuat pengalaman berkunjung terasa kurang praktis. Dalam konteks gaya hidup yang serba instan, kondisi ini tentu menjadi hambatan tersendiri.
Dari sudut pandang manajemen, persoalan ini mencerminkan minimnya inovasi dalam pengelolaan situs sejarah. Seharusnya, benteng tidak hanya dipandang sebagai objek mati yang dijaga, tetapi sebagai ruang hidup yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Ada peluang besar untuk menggabungkan unsur edukasi sejarah dengan gaya hidup modern, tanpa harus mengorbankan nilai historis yang ada.
Sudah saatnya pemerintah dan para pemangku kepentingan berpikir lebih kreatif. Penataan pencahayaan artistik, penyediaan ruang kuliner yang tertata, hingga pengembangan konsep wisata berbasis pengalaman bisa menjadi langkah konkret. Dengan begitu, aktivitas “nongkrong” tidak lagi terpisah dari proses belajar sejarah, melainkan justru saling melengkapi.
Ternate adalah kota yang besar karena sejarahnya, bukan semata karena tren kafenya. Jika benteng-benteng itu terus dibiarkan sepi, maka kita bukan hanya kehilangan bangunan fisik, tetapi juga kehilangan jati diri sebagai masyarakat yang berakar pada sejarahnya sendiri. Jangan sampai kebanggaan terhadap julukan “Kota Rempah” hanya tinggal slogan, sementara dalam praktik sehari-hari kita justru menjauh dari warisan tersebut.
Kini, pilihan ada di tangan kita: tetap larut dalam gemerlap tren sesaat, atau mulai menoleh kembali pada benteng-benteng yang telah lama menunggu untuk dihidupkan kembali. Sebab jika tidak, yang akan hancur bukan hanya batu-batu tua itu, melainkan juga kesadaran kita sebagai bagian dari sejarah panjang yang seharusnya dijaga bersama.

















