POSTTIMUR.COM, HALSEL- Di tengah hamparan lahan Desa Soligi, Pulau Obi, harapan tentang masa depan kini tumbuh bersama pembangunan bandara baru. Bagi sebagian warga, proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi pintu menuju kehidupan yang lebih baik—membuka akses, mendekatkan jarak, dan menghadirkan peluang ekonomi baru.
Bagi Ade Ahmad (48), harapan itu dimulai dari keputusan besar: melepas lahan miliknya untuk pembangunan bandara. Keputusan tersebut diambil bukan tanpa pertimbangan, tetapi dengan keyakinan bahwa proyek itu akan membawa manfaat nyata bagi keluarganya dan masyarakat sekitar.
“Saya menjual lahan karena mendukung pembangunan bandara, yang kami harapkan bisa membuka peluang usaha,” ujar Ade, Kamis (23/4/2026).
Dari hasil penjualan lahannya, Ade berhasil membangun rumah, menyiapkan biaya ibadah haji, dan menabung demi masa depan anak-anaknya.
“Manfaatnya besar buat saya. Insya Allah saya berangkat haji tahun 2028,” katanya penuh syukur.
Bagi Ade, pelepasan lahan bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan bagian dari ikhtiar untuk memperbaiki taraf hidup keluarga. Ia percaya, kehadiran bandara akan membawa perubahan besar bagi warga Pulau Obi.
“Dengan adanya bandara, kehidupan masyarakat bisa lebih baik. Nanti ke mana-mana jadi lebih dekat,” tuturnya sambil tersenyum.
Harapan serupa juga dirasakan Siti Aminah (52). Lahan yang dahulu dikelola almarhum suaminya akhirnya dilepas untuk proyek bandara. Meski awalnya berat, ia melihat keputusan itu sebagai langkah untuk masa depan yang lebih baik.
“Perusahaan datang menawarkan, tapi kalau kami tidak mau jual, tidak ada paksaan. Jadi ini karena kesepakatan,” ujarnya.
Siti mengaku sempat enggan melepas kebun yang ditanami langsat, durian, dan cengkeh. Namun, ia akhirnya memilih melihat manfaat jangka panjang yang bisa dinikmati warga desa.
“Kami berharap desa bisa lebih maju dan masyarakat lebih sejahtera,” katanya.
Dari hasil penjualan lahan tersebut, Siti membangun rumah dan membuka kios kelontong yang kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga setelah kepergian suaminya.
Dari Ganti Rugi Menjadi “Ganti Untung”
Cerita warga Soligi memberi sudut pandang berbeda di tengah berbagai narasi tentang pembebasan lahan. Bagi mereka, proses yang dijalani bukan tentang kehilangan, melainkan tentang kesempatan.

Hal senada diungkapkan Nur Eneng Rahmat (33), warga Desa Kawasi, yang beberapa kali melepas lahannya untuk kebutuhan pengembangan kawasan.
“Sebelum pembebasan, tim perusahaan datang menjelaskan. Lahan diukur bersama pemilik yang berbatasan, lalu harga dinegosiasikan sampai sepakat,” ujarnya.
Dana hasil penjualan lahan kemudian ia manfaatkan untuk membangun usaha kos-kosan yang kini menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarganya.
“Menurut saya ini bukan ganti rugi, tapi ganti untung,” katanya.
Sementara itu, Madina Jouronga (55) memilih menggunakan hasil penjualan lahan untuk membeli speed boat, yang kini menjadi usaha utama keluarganya.
“Saya jual karena mereka mau beli dan saya juga mau jual,” tuturnya.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa pelepasan lahan di Soligi dan Kawasi dipahami warga sebagai peluang untuk meningkatkan taraf hidup. Di balik lahan yang berpindah tangan, ada harapan tentang rumah yang lebih layak, usaha yang berkembang, dan masa depan keluarga yang lebih terjamin.

Pihak perusahaan pun menegaskan bahwa proses pembebasan lahan dilakukan secara terbuka dan berdasarkan kesepakatan.
Land Data Management & Advocacy Manager Harita Nickel, Ary Pratama, menjelaskan bahwa seluruh tahapan dimulai dari sosialisasi, pengukuran bersama, pendataan aset, hingga penentuan nilai lahan.
“Seluruh tahapan dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak terkait, sehingga masyarakat memahami proses dan nilai yang disepakati,” ujarnya.
Menurut Ary, prinsip utama dalam proses ini adalah keadilan bagi semua pihak.
“Kesepakatan menjadi dasar dalam setiap pembebasan lahan,” tegasnya.
Bagi warga Soligi dan Kawasi, pembangunan bandara bukan hanya proyek pembangunan fisik. Ia adalah simbol harapan—bahwa dari lahan yang dilepas hari ini, akan lahir akses yang lebih baik, ekonomi yang lebih kuat, dan masa depan yang lebih cerah bagi Pulau Obi.










