Bekasi dan Politik Domestik-Internasional: Ketika Tragedi Lokal Menjadi Sorotan Global

Nasional, Opini465 Dilihat

Oleh: Luisa Alya Revaline

Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang

Kecelakaan kereta di Bekasi yang menelan korban jiwa bukan sekadar peristiwa transportasi biasa. Jika dilihat dari perspektif studi politik domestik-internasional, tragedi ini menunjukkan bahwa persoalan dalam negeri kini memiliki dampak langsung terhadap posisi Indonesia di mata dunia. Di era globalisasi, batas antara urusan domestik dan internasional semakin tipis. Apa yang terjadi di satu kota dapat memengaruhi citra satu negara secara keseluruhan.

Dahulu, hubungan internasional sering dipahami sebatas perang, diplomasi, dan kerja sama antarnegara. Kini, cakupannya jauh lebih luas. Kebijakan transportasi, kualitas birokrasi, penanganan bencana, keamanan publik, hingga pelayanan masyarakat menjadi bagian dari penilaian global. Negara lain tidak hanya melihat bagaimana Indonesia berbicara di forum internasional, tetapi juga bagaimana Indonesia mengelola rumah tangganya sendiri.

Kasus Bekasi menjadi contoh nyata. Ketika kecelakaan terjadi, perhatian publik tidak berhenti di tingkat nasional. Media asing dapat memberitakan, investor bisa menilai ulang tingkat risiko, wisatawan mempertanyakan keamanan transportasi, dan lembaga internasional menyoroti kesiapan infrastruktur Indonesia. Artinya, kejadian domestik dapat memunculkan konsekuensi internasional.

Dalam kajian ekonomi politik internasional, stabilitas dalam negeri sangat menentukan arus investasi. Indonesia saat ini bersaing dengan Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina untuk menarik modal asing. Investor tentu mempertimbangkan banyak hal: besarnya pasar, tenaga kerja, regulasi, dan infrastruktur. Namun ada satu faktor penting lain, yaitu keandalan sistem. Jika transportasi umum dianggap belum aman atau tata kelola publik dinilai lemah, maka kepercayaan investor pun ikut tergerus.

Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan domestik sejatinya merupakan bagian dari diplomasi ekonomi. Jalan raya, pelabuhan, bandara, dan kereta api bukan hanya fasilitas publik, tetapi juga wajah negara di mata dunia. Negara dengan sistem transportasi yang tertib dan aman biasanya dipandang lebih siap menerima investasi serta menjalin kerja sama jangka panjang.

Dari sisi soft power, tragedi seperti ini juga berdampak besar. Soft power adalah kemampuan negara menarik simpati dunia melalui citra positif, budaya, tata kelola, dan reputasi. Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang ramah, stabil, dan berkembang pesat. Namun jika berita yang muncul justru soal kecelakaan, lemahnya pengawasan, atau buruknya pelayanan publik, maka citra positif itu perlahan memudar.

Di era digital, reputasi negara sangat mudah berubah. Satu video kecelakaan, satu berita viral, atau satu kritik dari media asing dapat menyebar luas hanya dalam hitungan jam. Karena itu, keamanan transportasi hari ini bukan hanya urusan teknis, melainkan juga urusan reputasi internasional.

Dari perspektif global governance, kejadian Bekasi juga menegaskan pentingnya standar keselamatan internasional. Banyak negara telah menerapkan sistem transportasi berbasis teknologi tinggi, audit berkala, serta manajemen risiko yang ketat. Indonesia perlu menyesuaikan diri dengan standar global jika ingin dipandang sejajar dengan negara-negara maju. Dunia saat ini tidak menilai niat, tetapi hasil nyata.

Selain itu, tragedi ini menunjukkan hubungan erat antara politik domestik dan legitimasi negara. Ketika masyarakat merasa tidak aman menggunakan fasilitas umum, kepercayaan kepada pemerintah menurun. Jika kepercayaan publik melemah, maka posisi negara di luar negeri pun ikut terdampak. Negara yang kuat di mata internasional biasanya ditopang oleh kepercayaan masyarakat di dalam negeri.

Dalam teori two level game, pemerintah bermain di dua arena sekaligus: domestik dan internasional. Pemerintah harus menjaga dukungan rakyat di dalam negeri, sambil tetap membangun kepercayaan dunia luar. Jika persoalan domestik tidak terselesaikan, maka ruang gerak internasional pun ikut terbatas. Bekasi menjadi contoh bagaimana satu tragedi lokal dapat memengaruhi dua arena tersebut sekaligus.

Indonesia saat ini memiliki ambisi besar menjadi kekuatan menengah dunia. Kita aktif di G20, ASEAN, dan berbagai forum global. Namun status internasional tidak dibangun hanya lewat pidato di luar negeri. Status itu dibangun dari kualitas negara sehari-hari: apakah kereta aman, apakah birokrasi cepat, apakah hukum ditegakkan, dan apakah rakyat merasa terlindungi.

Karena itu, tragedi Bekasi seharusnya menjadi titik refleksi. Pemerintah tidak cukup hanya melakukan investigasi teknis, tetapi juga harus melihat dampak strategisnya. Perbaikan sistem transportasi berarti memperbaiki citra negara. Meningkatkan keselamatan publik berarti menambah kepercayaan global. Membenahi birokrasi berarti memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan internasional.

Pada akhirnya, studi politik domestik-internasional mengajarkan bahwa kekuatan luar negeri selalu berakar dari kondisi dalam negeri. Negara yang ingin dihormati dunia harus terlebih dahulu tertib di rumah sendiri. Bekasi memberi pesan jelas bahwa urusan lokal kini bukan sekadar masalah daerah, melainkan bagian dari masa depan Indonesia di panggung global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *