POSTTIMUR.COM, TERNATE- Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Maluku Utara menggelar peluncuran buku bertajuk “Pendidikan Inklusif” yang ditulis oleh Irfandi Mustafa, Bahtiar Malawan, dan Ikhlashul Ihsan. Kegiatan ini berlangsung di Rotasi Cafe, Kelurahan Kayu Merah, Rabu (06/05/2026).
Peluncuran buku tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi, organisasi kepemudaan (OKP), guru sekolah, hingga unsur pemerintah daerah. Kehadiran lintas sektor ini mencerminkan besarnya perhatian terhadap isu pendidikan inklusif di Maluku Utara.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis GP Ansor Maluku Utara dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Momentum ini dimanfaatkan untuk menegaskan komitmen organisasi dalam mendorong penguatan literasi serta praktik pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Diskusi peluncuran buku berlangsung dinamis dengan menghadirkan sejumlah tokoh sebagai pembedah, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, Gufran Ali Ibrahim, Ade Ismail, serta Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara. Berbagai pandangan kritis mengemuka, terutama terkait tantangan implementasi pendidikan inklusif di daerah.
Ketua PW GP Ansor Maluku Utara, Syarif Abdullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran buku ini merupakan bentuk kontribusi nyata kader Ansor dalam bidang literasi dan pendidikan.
“Ini merupakan kontribusi kader Ansor lewat literasi dan pendidikan nyata. Ansor bukan hanya kuat di lapangan, melainkan juga kuat pada aspek gagasan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu penulis buku, Irfandi Mustafa, menekankan pentingnya peran sekolah sebagai agen perubahan sosial yang mampu menanamkan nilai toleransi serta menghapus stigma sejak dini.
“Sekolah seharusnya menjadi agen perubahan yang menanamkan nilai toleransi, membentuk pola pikir antistigma, dan menghapus diskriminasi sejak dini. Jika pendidikan terus abai terhadap realitas sosial dan kultur, maka inklusivitas hanya akan menjadi jargon tanpa makna nyata,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan harus berdiri sebagai alat pembebasan, bukan justru memperkuat ketimpangan sosial yang ada.
Kegiatan peluncuran buku ini berlangsung lancar dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Para peserta berharap buku “Pendidikan Inklusif” dapat menjadi referensi penting dalam mendorong praktik pendidikan yang lebih adil, merata, dan berkeadilan di Maluku Utara. (*)
















