Gaya Hidup di Atas Kemampuan: Ketika FOMO Menguasai Dompet Mahasiswa

Oleh: Rahmi Auliah Sampurno

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun

Kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia, termasuk mahasiswa. Media sosial kini tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi cerita atau mencari informasi, tetapi telah berubah menjadi pasar digital raksasa yang menawarkan berbagai produk dengan tampilan menarik dan menggoda. Fitur belanja yang terintegrasi di berbagai aplikasi membuat aktivitas membeli barang dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik. Tanpa disadari, kebiasaan ini perlahan membentuk pola hidup konsumtif di kalangan mahasiswa.

Fenomena tersebut semakin terlihat ketika banyak mahasiswa mulai menjalani gaya hidup di atas kemampuan finansial mereka. Uang saku, bahkan biaya kuliah, sering kali habis hanya untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mendesak. Semua dilakukan demi mengikuti tren, tampil keren, atau sekadar agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Inilah yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal sesuatu yang sedang populer sehingga seseorang terdorong untuk ikut melakukan hal yang sama.

FOMO menjadi salah satu penyebab utama mahasiswa sulit mengontrol pengeluaran. Mereka membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan sosial dan keinginan untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar. Akibatnya, banyak mahasiswa terjebak dalam siklus pemborosan yang terus berulang dan sulit dihentikan.

Kondisi ini semakin dirasakan oleh mahasiswa perantau. Jauh dari keluarga dan hidup di lingkungan baru membuat mereka lebih rentan terpengaruh gaya hidup digital. Paparan konten media sosial yang menampilkan kemewahan, tren fashion, tempat nongkrong, hingga gaya hidup selebritas internet, sering kali menciptakan tekanan tersendiri. Banyak mahasiswa akhirnya membeli barang yang tidak terlalu penting hanya demi gengsi dan ikut-ikutan tren. Padahal, uang yang mereka gunakan berasal dari hasil kerja keras sendiri atau kiriman orang tua yang seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan pokok dan biaya pendidikan.

Fenomena ini sejalan dengan Teori Perilaku Terencana yang menjelaskan bahwa tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan dorongan dari sekitarnya. Ketika media sosial terus membanjiri pengguna dengan diskon, promosi, dan konten gaya hidup mewah, perlahan muncul anggapan bahwa mengikuti tren adalah sebuah keharusan. Tidak heran jika banyak mahasiswa akhirnya berbelanja tanpa perencanaan yang matang dan mengalami peningkatan pengeluaran hanya demi terlihat modern dan gaul.

Dampaknya sangat nyata. Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan di tengah semester karena gagal mengendalikan keinginan berbelanja. Ironisnya, kondisi tersebut terjadi bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan karena gaya hidup konsumtif yang dipelihara terus-menerus. Sebagai mahasiswa, terutama yang masih bergantung pada kiriman orang tua, perilaku boros tentu menjadi tindakan yang tidak bijaksana dan berisiko bagi masa depan.

Meski demikian, media sosial sebenarnya bukan sepenuhnya pihak yang harus disalahkan. Media sosial hanyalah alat yang dapat memberikan manfaat maupun kerugian, tergantung bagaimana seseorang menggunakannya. Persoalannya terletak pada kemampuan individu dalam mengendalikan diri dan membedakan antara kebutuhan serta keinginan. Meniru gaya hidup orang lain tanpa memahami kondisi ekonomi diri sendiri hanyalah jalan menuju tekanan finansial.

Karena itu, mahasiswa perlu belajar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Hidup hemat bukan berarti pelit atau tidak mengikuti perkembangan zaman, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap uang yang diperoleh dengan susah payah. Mengatur prioritas pengeluaran, membuat perencanaan keuangan, dan membatasi perilaku impulsif adalah langkah sederhana yang sangat penting dilakukan.

Pada akhirnya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mahal pakaian yang dikenakan atau seberapa sering mengikuti tren media sosial. Penampilan mungkin menarik perhatian sesaat, tetapi kemampuan mengelola diri dan keuanganlah yang menentukan masa depan. Lebih baik hidup sederhana tetapi tenang, daripada memaksakan gengsi hingga mengorbankan kebutuhan pokok. Jangan sampai gaya hidup mengalahkan logika, dan gengsi justru menghancurkan masa depan mahasiswa itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed