Oleh: Auji Fanma Amana, Magfirah Intani Pora, dan Putri Masse Intan Rustam
Mahasiswa Pemasaran Strategi Universitas Khairun Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Di tengah derasnya persaingan bisnis digital dan gempuran produk modern dari luar daerah, sebuah usaha kecil di Kota Ternate diam-diam sedang berjuang mempertahankan identitas budaya lokal. Usaha bernama Etnik Sablon Ternate membuktikan bahwa budaya daerah bukan sekadar warisan, tetapi juga dapat menjadi kekuatan ekonomi yang menjanjikan.
Di salah satu sudut Kota Ternate, mesin sablon terus bekerja mencetak berbagai desain khas Maluku Utara ke atas kaos, gelang, gantungan kunci, hingga berbagai souvenir daerah. Sekilas, usaha ini tampak seperti tempat sablon biasa. Namun di balik proses produksinya, tersimpan mimpi besar: membawa budaya lokal Maluku Utara dikenal lebih luas hingga menembus pasar nasional.
Etnik Sablon Ternate merupakan usaha kreatif yang berdiri sejak tahun 2011 dan bergerak di bidang sablon serta konveksi. Produk yang paling diminati adalah kaos custom dengan desain budaya lokal maupun desain sesuai permintaan pelanggan. Dalam satu bulan, usaha ini mampu memproduksi sekitar 500 hingga 1.000 kaos yang sebagian besar dipesan oleh komunitas, organisasi, sekolah, hingga instansi pemerintahan.
Di saat banyak pelaku usaha berlomba mengikuti tren luar negeri, usaha ini justru memilih menjadikan budaya daerah sebagai identitas utama produknya. Desain seperti Soya-Soya, Cakalele, hingga nuansa adat Ternate menjadi ciri khas yang membedakan produk mereka dari usaha sablon lainnya.
Namun perjalanan usaha lokal tentu tidak selalu berjalan mudah. Di balik meningkatnya permintaan produk, terdapat persoalan besar yang juga dialami banyak UMKM di Indonesia saat ini, yakni lemahnya pemasaran digital.
Meski telah memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok, promosi usaha ini masih belum berjalan maksimal. Belum adanya tenaga khusus yang menangani pemasaran digital membuat aktivitas promosi kurang konsisten dan sulit menjangkau konsumen baru di luar daerah.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata persoalan yang dihadapi banyak UMKM saat ini. Tidak sedikit usaha lokal yang sebenarnya memiliki kualitas produk baik, tetapi belum mampu berkembang karena kurang memahami strategi digital marketing. Di era media sosial, kualitas produk saja tidak cukup. Produk yang aktif dipromosikan dengan konten kreatif dan menarik jauh lebih cepat dikenal masyarakat dibanding produk yang dipasarkan secara konvensional.
Akibatnya, produk lokal yang memiliki kualitas dan ciri khas budaya justru kalah bersaing dengan produk lain yang lebih agresif di dunia digital. Hal inilah yang membuat banyak UMKM sulit berkembang hingga ke tingkat nasional.
Selain kendala pemasaran, tantangan lain yang dihadapi adalah bagaimana membawa produk budaya lokal agar dapat diterima pasar yang lebih luas. Pengelola usaha mengaku masih mencari cara menyesuaikan desain budaya Maluku Utara dengan selera masyarakat luar daerah. Mereka khawatir identitas budaya yang terlalu kuat justru membuat produk sulit diterima di pasar nasional.
Padahal, justru di situlah letak kekuatannya.
Saat ini masyarakat mulai jenuh dengan produk yang terlihat seragam dan kehilangan identitas. Konsumen mulai mencari sesuatu yang unik, memiliki cerita, dan merepresentasikan nilai budaya tertentu. Produk lokal dengan ciri khas daerah justru memiliki peluang besar menjadi tren baru apabila dikemas secara lebih modern dan kreatif.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan menghilangkan unsur budaya lokal dari produk, melainkan mengemas budaya tersebut dengan tampilan yang lebih modern, minimalis, dan dekat dengan generasi muda. Desain budaya dapat dibuat lebih fashionable tanpa menghilangkan identitas khas Maluku Utara.
Strategi digital juga harus diperkuat agar usaha tetap berkembang. TikTok menjadi salah satu peluang besar yang dapat dimanfaatkan. Konten sederhana seperti proses sablon, cerita di balik desain budaya, aktivitas produksi, hingga hasil pesanan pelanggan dapat menjadi daya tarik kuat di media sosial.
Saat ini masyarakat tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita di balik produk tersebut. Semakin kuat cerita dan identitas yang dibangun, semakin besar peluang sebuah produk dikenal secara luas.
Selain memperkuat pemasaran digital, Etnik Sablon Ternate juga memiliki gagasan pengembangan usaha yang cukup menarik, yakni menghadirkan sablon jersey modern pertama di Maluku Utara. Menurut pengelola usaha, peluang ini masih sangat besar karena belum banyak pesaing di daerah tersebut.
Jika gagasan ini berhasil diwujudkan, usaha ini bukan hanya menjadi tempat sablon biasa, tetapi juga dapat berkembang menjadi pelopor industri kreatif fashion lokal di Maluku Utara.
Dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat, UMKM seperti Etnik Sablon Ternate tentu tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan pemerintah, pelatihan digital marketing, akses teknologi produksi, hingga pendampingan usaha sangat dibutuhkan agar usaha lokal mampu berkembang lebih luas.
Kisah ini menunjukkan bahwa budaya lokal bukan sesuatu yang kuno. Justru dari budaya itulah lahir identitas, karakter, dan nilai yang membuat sebuah produk berbeda dari yang lain.
Dan mungkin, dari sebuah gang kecil di Kota Ternate, akan lahir sebuah brand lokal yang suatu hari nanti dikenal hingga seluruh Indonesia.
















