Oleh: Aziza Hamid
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Khairun
Bahasa Kayoa merupakan salah satu kekayaan budaya yang hidup dan berkembang di Desa Guruapin, Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan. Bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi wadah penyimpan sejarah, nilai adat, kearifan lokal, serta identitas masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, realitas saat ini menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Semakin sedikit anak muda yang mampu dan mau menggunakan Bahasa Kayoa dalam kehidupan sehari-hari. Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin bahasa daerah tersebut akan terancam punah.
Fenomena ini terjadi karena berbagai faktor. Salah satu penyebab utamanya adalah dominasi Bahasa Indonesia dalam dunia pendidikan, lingkungan kerja, dan ruang publik. Selain itu, perkembangan teknologi dan derasnya arus budaya luar melalui media sosial turut memengaruhi pola pikir generasi muda. Banyak di antara mereka yang menganggap penggunaan bahasa daerah sebagai sesuatu yang kuno, tidak modern, bahkan memalukan ketika bergaul dengan teman dari daerah lain. Padahal, anggapan tersebut sangat keliru. Bahasa daerah justru menjadi kekayaan budaya yang membedakan suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
Faktor lain yang mempercepat hilangnya penggunaan Bahasa Kayoa adalah perubahan pola komunikasi dalam keluarga. Saat ini, banyak orang tua lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia di rumah dengan alasan agar anak lebih mudah beradaptasi dalam pendidikan dan kehidupan sosial. Akibatnya, Bahasa Kayoa tidak lagi diwariskan secara alami kepada generasi berikutnya. Ditambah lagi, minimnya materi pembelajaran dan kurangnya perhatian terhadap pengajaran bahasa daerah di sekolah membuat anak muda semakin sulit mengenal dan memahami Bahasa Kayoa secara baik.
Menurut saya, kondisi ini merupakan kerugian besar bagi masyarakat Kayoa, khususnya Desa Guruapin. Bahasa bukan hanya sekadar rangkaian kata, tetapi juga simbol identitas dan jati diri suatu suku atau bangsa. Ketika sebuah bahasa hilang, maka hilang pula cerita rakyat, petuah leluhur, nilai adat, dan berbagai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Selain itu, akan muncul jurang pemisah antar generasi, di mana anak muda tidak lagi mampu memahami pesan-pesan bijak dari orang tua maupun leluhur mereka.
Melestarikan bahasa daerah bukan berarti menolak kemajuan zaman. Sebaliknya, menjaga bahasa daerah adalah bentuk penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus upaya mempertahankan identitas di tengah arus globalisasi. Generasi muda tetap bisa maju, modern, dan mengikuti perkembangan teknologi tanpa harus meninggalkan bahasa daerahnya sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk menjaga keberlangsungan Bahasa Kayoa. Orang tua perlu kembali membiasakan penggunaan Bahasa Kayoa di lingkungan keluarga agar anak-anak terbiasa mendengarnya sejak kecil. Pemerintah dan pihak sekolah juga harus memberikan perhatian lebih dengan memasukkan pembelajaran bahasa daerah ke dalam kurikulum atau kegiatan budaya yang menarik bagi generasi muda. Selain itu, anak muda Desa Guruapin harus mulai menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri menggunakan Bahasa Kayoa dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan sampai warisan berharga dari para leluhur hilang begitu saja hanya karena kelalaian generasi sekarang. Bahasa Kayoa adalah identitas masyarakat Guruapin yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
















