Oleh: Anara
Komunitas Rakara
Tidak semua perjalanan berakhir ketika kaki tiba di tujuan. Sebagian perjalanan justru dimulai setelah tubuh kembali pulang.
Ada tempat-tempat yang selesai dikunjungi lalu perlahan memudar seperti foto lama yang warnanya dimakan waktu. Namun, ada pula tempat yang menolak pergi. Ia menetap diam-diam di sudut pikiran, muncul kembali pada malam-malam tertentu, atau menyelinap dalam percakapan yang sama sekali tidak berhubungan dengannya. Telaga Rano adalah salah satunya.
Sudah berulang kali aku mencoba menganggapnya sebagai perjalanan biasa. Sebuah perjalanan panjang menuju sebuah danau di pedalaman, menikmati pemandangan, mengambil beberapa foto, lalu pulang membawa kenangan.
Namun, semakin jauh jarak yang memisahkan kami dari tempat itu, semakin jelas aku menyadari bahwa Telaga Rano bukan sekadar tujuan wisata. Ia adalah pengalaman yang terus hidup. Ia tinggal di kepala.
Perjalanan menuju Telaga Rano dimulai ketika matahari belum terlalu tinggi. Delapan orang berjalan bersama, memasuki jalur setapak yang perlahan menelan suara-suara dunia luar.
Semakin jauh melangkah, semakin terasa bahwa kami sedang meninggalkan sesuatu yang akrab dan memasuki wilayah yang memiliki aturan sendiri.
Hutan menyambut kami dengan kesunyian yang tidak benar-benar sunyi.
Di atas kepala, pepohonan raksasa berdiri seperti penjaga zaman. Batang-batangnya menjulang tinggi, sementara akar-akar tuanya mencengkeram tanah dengan keteguhan yang sulit dibayangkan. Beberapa pohon tampak begitu tua hingga terasa seolah mereka telah menyaksikan lebih banyak musim daripada yang bisa dihitung manusia.
Di bawah naungannya, kami hanyalah makhluk-makhluk kecil yang bergerak perlahan. Langkah demi langkah. Jam demi jam. Enam jam perjalanan terbentang di depan kami.
Bagi sebagian orang, enam jam mungkin hanya angka. Namun, di dalam hutan, enam jam terasa seperti memasuki lembar demi lembar buku tua yang setiap halamannya menyimpan cerita berbeda.
Kadang kami berjalan menyusuri tanah yang lembap.
Kadang kami harus menyeberangi sungai kecil dengan air sebening kaca.
Di beberapa titik, akar-akar pohon menjulur melintang seperti tangga alami yang dibangun tanpa campur tangan manusia.
Suara burung terdengar dari kejauhan. Tidak selalu terlihat, tetapi keberadaannya terasa. Mereka bernyanyi dengan ritme yang tak pernah sama, menciptakan orkestra liar yang hanya dapat ditemukan di tempat-tempat yang masih dijaga alam.
Jangkrik mengisi ruang kosong di antara suara-suara itu. Sesekali kupu-kupu melintas di depan wajah kami.
Capung-capung beterbangan di atas aliran air, memantulkan cahaya seperti serpihan langit yang jatuh ke bumi.
Ada saat ketika perjalanan terasa ringan.
Ada pula saat ketika tubuh mulai mempertanyakan keputusan untuk terus berjalan. Tanjakan curam menguji napas, turunan licin menguji keseimbangan, keringat mengalir tanpa henti, betis mulai terasa berat, dan punggung perlahan meminta istirahat.
Namun, hutan memiliki cara yang aneh untuk membuat manusia tetap melangkah.
Ketika rasa lelah datang, selalu ada sesuatu yang membuat kami berhenti sejenak dan kembali terpesona. Entah itu suara air yang jatuh dari sela bebatuan, pohon besar yang bentuknya begitu megah, atau sekadar cahaya matahari yang menembus celah daun dan jatuh ke tanah seperti potongan-potongan emas.
Alam selalu tahu bagaimana cara menghibur manusia yang mulai kehilangan semangat.
Menjelang sore, perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada tujuannya.
Telaga Rano muncul tanpa banyak pengumuman. Tidak ada gerbang besar, tidak ada bangunan megah, tidak ada sesuatu yang berlebihan. Ia hanya hadir begitu saja. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa luar biasa.
Saat pertama kali melihatnya, aku terdiam. Begitu pula yang lain.
Di hadapan kami terbentang hamparan air yang luas dan tenang. Permukaannya memantulkan langit dengan begitu sempurna hingga sulit membedakan mana yang berada di atas dan mana yang berada di bawah.
Udara membawa aroma belerang yang tipis. Bukan aroma yang mengganggu, melainkan pengingat bahwa jauh di bawah permukaan yang tenang itu, bumi masih menyimpan denyut kehidupannya sendiri.
Di tengah telaga berdiri sebuah pulau kecil. Ia tampak sunyi, seperti sebuah titik yang sengaja ditempatkan semesta untuk menyempurnakan pemandangan.
Tak ada yang berbicara banyak saat itu. Kami hanya duduk memandang, membiarkan mata bekerja sementara kata-kata memilih beristirahat. Barangkali memang ada keindahan yang tidak membutuhkan penjelasan.
Malam Datang Perlahan
Gelap turun bersama udara dingin yang merambat dari permukaan air. Langit dipenuhi bintang, sementara danau menjadi cermin raksasa yang memantulkan sebagian cahaya mereka.
Di tempat seperti itu, manusia tiba-tiba menyadari betapa kecil dirinya.
Betapa banyak hal yang selama ini dianggap penting ternyata tidak lebih besar dari setitik debu di tengah semesta.
Suara telepon tidak terdengar. Kebisingan kota menghilang. Yang tersisa hanyalah alam dan pikiran.
Mungkin karena itulah tempat-tempat seperti Telaga Rano terasa begitu kuat. Ia memberi ruang bagi manusia untuk kembali mendengar dirinya sendiri.
Keesokan paginya, keajaiban lain datang.
Kabut turun perlahan menutupi permukaan telaga. Ia bergerak lembut seperti kain tipis yang dibentangkan di atas air. Batas antara langit dan bumi menghilang. Semuanya menjadi samar. Segalanya terasa lebih tenang, lebih lambat, dan lebih damai.
Waktu seakan memilih berhenti sejenak.
Kemudian gerimis turun, halus dan nyaris tak terdengar.
Titik-titik air jatuh perlahan dan menciptakan riak-riak kecil di permukaan telaga.
Dan tepat ketika kami mengira pemandangan itu sudah cukup sempurna, langit memperlihatkan hadiah terakhirnya.
Pelangi muncul. Lengkung warnanya terbentang di kejauhan. Tak lama kemudian, pelangi kedua hadir di atasnya. Dua pelangi berdiri berdampingan, begitu jelas, begitu indah, dan begitu sulit dipercaya.
Delapan orang berdiri memandang dalam diam.
Tidak ada yang buru-buru mengangkat kamera. Tidak ada yang berteriak. Kami hanya menatap dan menyimpan momen itu dalam ingatan. Sebab, ada pengalaman yang terasa terlalu sakral untuk segera diubah menjadi foto.
Namun, justru ketika segala sesuatu tampak sempurna, sebuah kabar datang.
Kabar itu tidak besar dan tidak pula mengejutkan, tetapi cukup untuk menimbulkan gelombang di dalam pikiran. Tentang kemungkinan perubahan. Tentang masa depan yang belum terjadi. Tentang berbagai hal yang mungkin suatu hari menyentuh kawasan ini.
Sejak saat itu, Telaga Rano tidak lagi hadir sebagai pemandangan.
Ia berubah menjadi pertanyaan.
Pertanyaan yang terus tumbuh.
Bagaimana jika suatu hari hutan-hutan ini tidak lagi serimbun sekarang?
Bagaimana jika burung-burung kehilangan tempat bersarang?
Bagaimana jika kabut pagi tak lagi menemukan air yang bisa dipeluknya?
Bagaimana jika pelangi yang pernah kami lihat hanya menjadi cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Bagaimana jika suatu hari nama Telaga Rano masih tercetak di peta, tetapi perlahan hilang dari ingatan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus datang bahkan setelah perjalanan berakhir. Mereka mengikuti hingga ke rumah, hingga ke malam-malam yang tenang, hingga ke saat-saat ketika nama Telaga Rano tidak sedang disebut oleh siapa pun.
Telaga Rano Jangan Dilupakan
Barangkali ketakutan terbesar bukanlah hilangnya sebuah tempat, melainkan ketika tempat itu dilupakan.
Karena sesungguhnya ada kematian yang terjadi jauh sebelum sesuatu benar-benar lenyap. Ia dimulai ketika orang berhenti membicarakannya.
Ketika cerita tentangnya tak lagi diwariskan. Ketika generasi berikutnya tidak lagi mengenal namanya. Ketika sebuah tempat perlahan tenggelam di bawah timbunan waktu dan kesibukan manusia.
Pikiran tentang itulah yang paling sering datang.
Bukan tentang perjalanan enam jam. Bukan tentang tanjakan atau turunan. Bukan pula tentang rasa lelah.
Melainkan tentang kemungkinan bahwa suatu hari nanti keindahan yang pernah kami lihat hanya tinggal jejak samar dalam kenangan beberapa orang.
Kini, setiap kali mengingat Telaga Rano, yang muncul bukan hanya gambar sebuah danau.
Yang muncul adalah perasaan.
Perasaan kagum, perasaan tenang, sekaligus perasaan khawatir.
Telaga itu masih ada di sana. Airnya masih memantulkan langit. Kabut masih turun pada pagi hari. Burung-burung masih bernyanyi di antara pepohonan.
Namun, jauh di dalam hati, selalu ada harapan agar semua itu tetap bertahan. Agar anak-anak yang lahir bertahun-tahun dari sekarang masih dapat menyaksikan pelangi yang sama.
Masih dapat mencium aroma tanah yang sama.
Masih dapat mendengar suara hutan yang sama.
Masih dapat berdiri di tepi telaga dan merasakan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Karena beberapa tempat tidak hanya layak dikunjungi.
Mereka layak diingat.
Dan mungkin itulah sebabnya Telaga Rano masih menetap di kepalaku hingga hari ini.
Bukan semata-mata karena ia indah, melainkan karena aku ingin ia tetap hidup di dalam cerita, di dalam ingatan, dan di dalam hati orang-orang yang suatu hari nanti akan mengenal namanya.
Sebab, selama masih ada yang menceritakannya, Telaga Rano tidak akan benar-benar hilang.













