Cermin Diri: Saat Kebaikan Kembali kepada Pemiliknya

Keagamaan, Opini, Sosial53 Dilihat

Oleh: Ibnu Furqan

Layaknya Cermin yang tidak pernah bohong, ia selalu menampakkan bayangan yang sebenarnya. Jika yang berada di depan cermin adalah Bunga maka tampak bayangannyapun Bunga. Namun jika yang berada di depan Cermin adalah Lumpur maka pantulan bayangannya adalah Lumpur dan mustahil menjadi Bunga, itulah gambaran dari setiap perbuatan di dunia ini.

Kita buat permisalan! Seorang pedagang yang setiap pagi membuka lapak kecil di sudut pasar. Dalam aktivitasnya, dia selalu senyum dan ramah terhadap semua pelanggan, dia melakukannya bukan karena hidupnya terasa enteng, tapi karena ada pesan dari orang tuanya dahulu yang kini telah menjadi prinsip dalam kehidupannya. Di suatu waktu ayahnya berpesan: “Nak, apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai”.

Pernah di suatu hari ia kedatangan pembeli yang terlihat sangat tergesa-gesa, saat membeli dagangannya pembeli itu memberikan uang lebih, lalu pergi tanpa menghitung ulang setiap lembaran uang itu. Rekan dagangnya berbisik “Simpan saja, dia tidak sadar”, Pedagang itupun terdiam sejenak. Lalu mengejar pembeli tadi, sang pembeli berkata “Kenapa repot-repot?”, “uang ini bukan hak saya” jawab singkat pedagang itu.

Bertahun-tahun telah berlalu. Lingkungan Pasar mulai berkembang, dipadati oleh pedagang yang datang, ada juga yang pergi, ada yang curang dan menjadi kaya, ada yang jujur namun tetap sederhana. Tapi pedagang itu nampaknya memperhatikan ada yang tidak berubah dari pola ekonomi yang terlihat berkembang pesat itu. Ya, mereka yang curang dengan dagangannya selalu gelisah, takut dan khawatir. Sementara itu, dia (pedagang), selalu merasa tenang sekalipun sederhana.

Pernah, dalam waktu istirahat malam, pedagang itu duduk menyantai didepan rumah bersama seorang rekannya sambil menyeruput kopi hangat sembari rekannya bertanya dengan nada heran. “Pak, apa sih untungnya menjadi orang baik, tapi hidupnya begitu saja tidak ada yang berubah?” Mendengar pertanyaan rekannya, pedagang itu hanya tersenyum dan menjawab “tidak sama, yang berbuat baik mendapatkan ketenangan, sedangkan yang jahat selalu diliputi kegelisahan”

Apa yang bisa kita ambil hikmah dari kisah di atas?

Benar kata Allah;

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ

Kebaikan dan kejahatan tidak kemana-mana, keduanya kembali, cepat atau lambat, nampak maupun tersembunyi, kepada pelaku yang berbuat. Itu artinya, kita adalah cermin dari pilihan-pilihan kita sendiri. Maka bijaklah, sebab pada akhirnya, apa yang kita lakukan, adalah untuk diri kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *