POSTTIMUR.COM, JAKARTA– Sejumlah tokoh asal Maluku Utara mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat kebangsaan, serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi provokatif yang berpotensi memecah belah bangsa dan mengganggu stabilitas keamanan nasional.
Seruan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang berlangsung pada Rabu, 1 Juli 2026. Di Provinsi Maluku Utara, peringatan berlangsung aman dan kondusif dengan dipusatkan melalui upacara di Markas Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara.
Dalam amanatnya, Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Arif Budiman, menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai Tri Brata sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Menurutnya, keamanan dan ketertiban masyarakat hanya dapat terwujud melalui sinergi yang kuat antara Polri dan seluruh elemen bangsa.
“Kolaborasi antara Polri, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh komponen bangsa harus terus diperkuat demi menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang tetap kondusif,” ujarnya.
Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Mahasiswa Pascasarjana Maluku Utara (Formapas Malut), Riswan Sanun, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi arus informasi, khususnya yang beredar di media sosial. Ia menilai penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dapat memicu polarisasi dan mengganggu persatuan.
“Persatuan bangsa merupakan tanggung jawab bersama. Jangan sampai ruang publik dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi yang memicu perpecahan atau bertentangan dengan semangat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang harus kita kedepankan adalah semangat persaudaraan dan nasionalisme,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara (PB Formmalut) se-Jabodetabek, Reza A. Sadik, menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian dari demokrasi. Namun, menurutnya, setiap aspirasi harus disampaikan secara bertanggung jawab, menghormati hukum yang berlaku, serta tidak mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, tetapi penyampaiannya harus dilakukan secara bertanggung jawab, sesuai ketentuan hukum yang berlaku, serta tetap mengedepankan kepentingan persatuan bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh pemuda Maluku Utara, Rizky Pratama, mengajak generasi muda menjadi garda terdepan dalam menjaga ruang digital dari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, maupun konten yang bersifat provokatif.
Menurutnya, media sosial harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyebarkan informasi yang edukatif, memperkuat toleransi, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air.
“Generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan. Jangan mudah mempercayai ataupun menyebarluaskan informasi yang belum jelas kebenarannya. Mari isi ruang digital dengan konten yang memperkuat persaudaraan dan kebangsaan,” tuturnya.
Para tokoh Maluku Utara tersebut sepakat bahwa menjaga keamanan dan keutuhan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, pemerintah daerah hingga masyarakat luas.
Mereka juga mengajak masyarakat Maluku Utara untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila, semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta budaya gotong royong sebagai fondasi dalam memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Melalui momentum Hari Bhayangkara ke-80, masyarakat diharapkan terus menjaga kondusivitas daerah, menghormati hukum yang berlaku, serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi provokatif yang berpotensi mengganggu kerukunan, stabilitas, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)











