Sejumlah Aktivis Mahasiswa Turun ke Jalan, Serukan Perlindungan Masyarakat Adat Papua

POSTTIMUR.COM, SORONG – Sejumlah aktivis mahasiswa turun ke jalan memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia yang diperingati setiap 9 Agustus. Aksi tersebut menjadi ruang untuk menyuarakan perlindungan hak masyarakat adat Papua sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga tanah, hutan, budaya, dan identitas masyarakat adat di tengah perubahan zaman. Minggu (9/8/2026).

Bagi para aktivis, 9 Agustus bukan sekadar momentum seremonial untuk merayakan keberadaan masyarakat adat. Hari ini menjadi pengingat bahwa jauh sebelum batas-batas negara dan kepentingan modal hadir, masyarakat adat telah hidup dan menjaga tanah, hutan, sungai, laut, serta berbagai sumber kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Sejumlah Aktivis mahasiswa turun ke jalan, menyuarakan hak masyarakat adat Papua.

Mereka menilai perjuangan masyarakat adat tidak dapat dipandang sebagai perjuangan individual. Dengan merujuk pada gagasan filsuf Hannah Arendt mengenai kekuatan yang lahir ketika manusia berkumpul dan bertindak bersama, perjuangan masyarakat adat merupakan kekuatan kolektif untuk mempertahankan tanah, martabat, identitas, kebudayaan, dan masa depan.

“Di Papua, tanah bukan sekadar tempat berpijak. Tanah adalah mama. Hutan adalah rumah. Sungai adalah kehidupan. Leluhur adalah ingatan, dan adat adalah identitas,” menjadi pesan yang disuarakan dalam momentum tersebut.

Menurut mereka, ketika tanah adat terancam atau dirampas, persoalannya tidak berhenti pada hilangnya sebidang tanah. Yang ikut terancam adalah hubungan masyarakat dengan leluhur, kebudayaan, identitas, serta ruang hidup generasi mendatang.

Karena itu, perjuangan masyarakat adat Papua dipandang sebagai perjuangan untuk tetap menjadi tuan di tanah sendiri. Menjaga hutan agar tidak habis, mempertahankan budaya agar tidak hilang, serta memastikan generasi muda tetap mengenal identitas dan akar sejarahnya.

Semangat tersebut juga sejalan dengan pemikiran Vandana Shiva mengenai pentingnya menjaga keberagaman, kehidupan, dan kedaulatan masyarakat atas alam. Mempertahankan tanah adat, menurut para aktivis, bukan berarti menolak pembangunan atau masa depan, melainkan memperjuangkan masa depan yang tetap menghormati manusia, alam, dan akar kebudayaan.

“Masyarakat adat bukan sisa masa lalu. Masyarakat adat adalah bagian penting dari masa depan,” tegas mereka.

Momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia juga menjadi penghormatan kepada mama-mama Papua yang terus menjaga tanah, para kepala suku dan tua-tua adat yang merawat pengetahuan leluhur, serta generasi muda Papua yang terus berdiri mempertahankan identitas dan ruang hidup masyarakat adat.

Pesan yang mereka bawa sederhana, tetapi sarat makna: Tanah adalah hidup. Adat adalah martabat. Budaya adalah identitas. Dan perjuangan akan terus diwariskan.

Reporter: Aldi Haris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed