Hujan Telah Padamkan Api di Lima Desa Taliabu, Akademisi Soroti Belum Hadirnya Gubernur Sherly

TALIABU, POSTTIMUR.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda perkebunan cengkeh di lima desa di Pulau Taliabu, Maluku Utara, menyisakan duka mendalam bagi ratusan keluarga petani. Puluhan ribu pohon cengkeh yang selama ini menjadi sumber utama penghidupan masyarakat hangus terbakar.
Setelah hampir satu bulan warga berjibaku memadamkan api dengan peralatan seadanya, hujan deras akhirnya turun dan membantu memadamkan kebakaran yang melanda kawasan perkebunan tersebut.
Namun, di tengah berakhirnya perjuangan warga menghadapi kobaran api, muncul sorotan terhadap belum hadirnya Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak di Pulau Taliabu.
Sorotan tersebut disampaikan akademisi Universitas Khairun, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Muammil Sun’an, SE., M.AP., melalui tulisan opininya berjudul “Hujan Sudah Turun di 5 Desa, Gubernur Provinsi Maluku Utara yang Belum Turun”.
Menurut Muammil, kebakaran perkebunan cengkeh tersebut bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan juga ancaman serius terhadap keberlangsungan ekonomi dan masa depan ratusan keluarga petani.
Ia menggambarkan penderitaan masyarakat sebagai luka yang tidak berdarah, tetapi meninggalkan beban emosional mendalam akibat kehilangan sumber penghidupan.
Musim kemarau berkepanjangan, ditambah sulitnya akses menuju lokasi perkebunan, membuat masyarakat kesulitan mengendalikan kobaran api. Warga bahkan harus menghabiskan tenaga dan waktu untuk bertahan di lokasi kebakaran dengan peralatan pemadaman yang sangat terbatas.
Di tengah situasi tersebut, Muammil menilai perhatian Pemerintah Provinsi Maluku Utara terhadap masyarakat terdampak perlu dipertanyakan.
Ia menyoroti respons Gubernur Sherly Tjoanda yang sebelumnya mengunjungi lokasi kebakaran di Kelurahan Takome, Kota Ternate, serta memberikan bantuan sebesar Rp1 miliar untuk penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya, kepedulian terhadap daerah lain merupakan hal positif. Namun, masyarakat Maluku Utara yang sedang menghadapi bencana juga membutuhkan perhatian dan kehadiran langsung pemerintah daerah.
“Di saat yang sama, 53 ribu pohon cengkeh milik rakyatnya sendiri di Taliabu dibiarkan menghitam tanpa kehadiran pemimpinnya,” demikian kritik yang disampaikan Muammil dalam tulisannya.
Ia menegaskan, Pulau Taliabu merupakan bagian dari wilayah Provinsi Maluku Utara sehingga masyarakat yang terdampak bencana juga membutuhkan perhatian pemerintah provinsi, terutama dalam memberikan bantuan dan memastikan pemulihan ekonomi warga.
Menurut Muammil, selama kebakaran berlangsung, masyarakat tidak hanya kehilangan tanaman produktif, tetapi juga harus mengorbankan waktu bersama keluarga demi berupaya menyelamatkan sisa perkebunan dari amukan api.
Kini, setelah hujan deras turun dan api berhasil dipadamkan, masyarakat dapat meninggalkan lokasi perkebunan. Namun, persoalan yang lebih besar justru menanti, yakni bagaimana memulihkan kehidupan ekonomi keluarga yang kehilangan puluhan ribu pohon cengkeh.
Bagi masyarakat di lima desa tersebut, hujan memang telah menjadi jawaban atas doa panjang mereka untuk menghentikan kobaran api. Akan tetapi, hujan tidak serta-merta mengembalikan pohon cengkeh yang telah terbakar maupun pendapatan keluarga yang hilang.
Karena itu, Muammil menyoroti pentingnya kehadiran Gubernur Maluku Utara untuk melihat langsung kondisi masyarakat sekaligus memastikan adanya perhatian dan langkah konkret pemerintah dalam membantu warga terdampak.
Hingga opini tersebut disampaikan, Muammil menilai Gubernur Sherly Tjoanda belum turun langsung ke lokasi kebakaran di Pulau Taliabu.
Kini api telah padam, tetapi penderitaan masyarakat belum berakhir. Hujan sudah turun di lima desa, sementara masyarakat masih menantikan kehadiran pemerintah untuk membantu memulihkan kehidupan mereka. (*)

