Foto : Muhammad Rafiea
Oleh : Muhammad Rafiea
Mahasiswa : Teknik Lingkungan (STITEK NUSINDO MAKASSAR)
“Duka di tanahku akankah terus terjadi? Hei..aku bertanya padamu. Anak muda sepertiku akan terus bertarung dengan bisingnya kota. Ia ingin berbicara di permukaan sana, walau suaranya di bunuh oleh suara-suara doser yang menggusur pohon-pohon kehidupan. Salam, aku adalah anak dari bumi Fagogoru. Tidak bisa berbuat apa-apa dalam kemarahan, tangisan dan renungan, kecuali terus menulis dan terus menulis. Mengintaimu”. (Cantatan di bumi perantauan)
Penjiwaan leluhur yang tertuang dalam falsafah Fagogoru, penulis memaknai dalam tinjauan filosofisnya tidak terlepas dengan cinta dan kebijaksanaan. Keyakinan tanpa sekat ini terpatri dalam enam rukun (rukun ponom) Fagogoru, yaitu “sopan santun, ngaku rasai, budi re bahasa, mtat re mimoi”. Yang artinya, sopan santun, satu rasa semua rasa (tidak pilih kasih), baik dalam berucap, takut dan malu (orang punya orang punya, torang punya torang punya).
Nilai-nilai Fagogoru ini di praktekkan oleh para leluhur dalam kehidupan sehari-hari pada kala itu, yang melahirkan gotong royong, persatuan, persaudaraan, saling mengingatkan, saling kasih dan sayang. Kurang lebih dalam bahasa orang Patani (poton) dan juga Maba (mobon) adalah “bari re falgali, fatut re faddel, fattelem re faysayang”. Dalam bahasa Weda (sawai) “yoma bot falgali re faysayang.
Menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kasih sayang terhadap sesama. Jika yang baik menjadi panutan, maka yang salah harus di tegur dan di perbaiki.
Masih banyak makna dan nilai yang menjadi bagian integral dalam falsafah Fagogoru. Sebab Fagogoru sendiri berasal dari kata “gogoru” yang berarti merangkul dan tidak mengenal pecah belah diantara sesama.
Fagogoru jika di tinjau dalam Filsafat yang lebih luas, ternyata kesannya lebih ke holistik dan ekologis. Memandang bahwa kehidupan itu adalah satu kesatuan yang tak dapat di pisahkan. Antara hubungan baik manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.
Oleh karena itu, bagi penulis, di tengah era modernisme saat ini, generasi di tuntut agar terus melestarikan budaya dan tradisi, menjaga keluhuran nilai-nilai dan merawat alam dengan menanam, tetapi bukan menanam investasi yang tumbuh pabrik-pabrik.
Dalam menghadapi perkembangan zaman, nilai-nilai Fagogoru adalah arah dan tujuan mencapai manusia yang beradab. Bagaimana jadinya kalau cara hidup orang Fagogoru tidak lagi mengarah pada nilai-nilai Fagogoru itu sendiri?
Masa depan Fagogoru adalah masa depan pecah belah, masa depan terjal menuju kehancuran. Ini jawaban dari pertanyaan diatas, apabila falsafah Fagogoru mulai terguncang oleh ego kepentingan kekuasaan dan politik kubu-kubuan yang beriringan dengan arus modernisasi yang berhasil menggerogoti nilai-nilainya. Enam rukun (rukun ponom), akan menjadi sekadar jargon penguasa dalam setiap agenda politik demi memuluskan investasi asing di sektor industri pertambangan dan membiarkan bumi Fagogoru di jarah.
Disini terbukti lahirlah politik kubu-kubuan yang penulis maksud diatas, dan oleh karena kepentingan individualistik dilibatkan di rana publik, tujuan Fagogoru akhirnya berubah dari makna filosofisnya dan tampil sebagai tameng demi membelah kepentingan diri sendiri ataupun kepentingan golongan. Ini semacam pementasan komedi, yang lucu sekaligus menyedihkan.
Hal ini mulai tampak beriringan dengan isu-isu politis atas pengklaiman Fagogoru yang seolah-olah di predikatkan menjadi identitas kekuasaan, sehingga memicuh perdebatan sentimental di masing-masing kubu hingga berujung pada pendiskriminasian nilai-nilai dan makna Fagogoru yang sebenarnya. Hampir tidak ada upaya penyelesaian yang edukatif generasi tuah untuk generasi muda saat ini.
Apalagi mental generasi muda, yang mengaku diri adalah Fagogoru tapi erat dengan perpecahan. Mirisnya, karena ada juga Generasi pesanan yang punya hubungan erat dengan emosional kekuasaan, tampil dengan jubah generasi Fagogoru, lantang seolah-olah paling heroik di depan masyarakat tetapi ujung-ujungnya kembali berkhianat pada Fagogoru.
Kita adalah generasi yang bermental arogan, anti kritik, dan merasa diri paling benar. Lebih-lebih generasi tuah. Karena di latar belakangi fanatisme politik kubu-kubuan, akhirnya membuat dayung Fagogoru itu patah di tengah gelombang zaman yang penuh duka cita. Fagogoru di bantai, di perkosa, dan di diskriminasi. Pecahlah sudah kita. Di hantam krisis ekologis dan krisis kemanusiaan. Di susul krisis-krisis lainnya.
Untuk melihat urgensi persoalan di bumi Fagogoru, krisis kemanusiaan dan krisis moral itu terjadi karena nilai-nilai dalam Falsafah Fagogoru mulai mengalami kepunahan. Mirisnya karena alam Fagogoru di eksploitasi, maka masyarakatnya, perempuannya, dan keadilanpun di eksploitasi. Memahami persoalan dengan memakai kacamata Fritjof Capra, ternyata semua itu lahir dari satu residu peradaban yang bernama Modernisme.
Silahkan lontarkan kritikan, saran, dan solusi, sebab penulis masih butuh banyak belajar.











