Nasib Petani Pala di Tengah Gempuran Investasi

Opini1479 Dilihat

Oleh: Riski Ikra

Masih gelap. Udara pagi meneteskan embun di daun pala yang menggantung tenang di tepi hutan. Di sebuah rumah kayu sederhana di lereng Patani, terdengar suara gesekan logam—ayah sedang mengasah parang panjangnya, menyiapkan mata baja yang akan menemaninya ke kebun. Di dapur, ibu telah bangun lebih dulu, merebus air untuk kopi; secangkir hangat yang menjadi bekal tenaga sebelum menapaki jalan kebun yang penuh cerita.

Anak-anak masih terlelap, memeluk dinginnya pagi yang belum bersahabat. Tanpa banyak bicara, ayah dan ibu memulai hari: sang ayah dengan parangnya, sang ibu dengan solohi, keranjang anyaman yang tak hanya memuat hasil kebun, tetapi juga kasih sayang terhadap tanah yang mereka jaga. Mereka berjalan berdampingan, seperti generasi sebelum mereka, menyusuri hutan yang selama ini bukan hanya sumber hidup, tapi juga ruang spiritual, ruang adat, dan ruang sejarah.

Di Weda dan Maba, pemandangan seperti ini adalah napas kehidupan. Dari subuh hingga senja, kebun pala, cengkeh, dan hutan sagu bukan sekadar tempat bekerja—mereka adalah warisan. Di dalamnya tersimpan ilmu tak tertulis, dari cara membaca angin, hingga memahami kapan waktu tanam dan panen.

Namun akhir-akhir ini, jalan hutan itu terasa berubah. Bukan karena alam, tetapi karena manusia. Tanah mulai dipatok, hutan dibelah alat berat, dan cerita pagi yang diwariskan nenek moyang kini terancam digantikan oleh hiruk-pikuk industri dan investasi tambang yang tumbuh tanpa jeda.

Baca Juga:

Pertambangan Mengancam Cadangan Pangan di Halmahera Timur 

KNPI dalam Moncong Politik Pemuda Halmahera Selatan

Dan di sinilah kita harus bertanya: apakah kita masih bisa menyebut tanah ini sebagai rumah, jika pelan-pelan ia dirampas dari tangan yang selama ini merawatnya dengan cinta?

Saya menulis ini bukan untuk menghalangi kemajuan. Bukan pula untuk menutup mata terhadap kebutuhan ekonomi. Tapi saya ingin mengajak kita semua untuk merenung: apakah kemajuan selalu berarti menggusur yang lama? Apakah investasi harus menyingkirkan cinta yang telah dirawat turun-temurun?

Pala Bukan Sekadar Tanaman

Bagi sebagian besar orang luar, pala mungkin hanya hasil kebun yang bisa dijual. Namun bagi orang Patani, Weda, dan masyarakat Maluku Utara secara umum, pala adalah lambang hubungan manusia dengan alam. Sejak kecil, saya sering mendengar pesan leluhur yang diwariskan kepada orang tua kami, dalam bahasa daerah Patani:

“Botong re Olot na Epnu ja tergantung nameule, enberahi re neya kembali namewli jadi fijaga fafi boton re olot ja.”

Pesan ini mengingatkan bahwa hutan dan lautan adalah tempat berpijak bagi kehidupan kita semua. Maka, rawat dan jaga. Jangan dirusak, sebab semua akan kembali kepada kita.

Namun hari ini, suara itu perlahan ditelan deru mesin berat. Beberapa tahun terakhir, masuknya investasi besar seperti PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) telah mengubah wajah kampung. Ada yang senang karena bisa bekerja di perusahaan. Tapi banyak juga yang bingung karena lahannya dibeli murah, atau bahkan digusur tanpa perundingan yang adil.

Di sisi lain, anak-anak muda mulai meninggalkan kebun. Mereka berpikir, lebih baik bekerja di pabrik atau tambang: upah tetap, jam kerja jelas. Tapi apakah itu cukup untuk menggantikan pengetahuan turun-temurun tentang merawat pala, menghitung musim, dan menjaga tanah? Jika semua ini hilang, apa yang tersisa dari identitas kita?

Budaya yang Terancam Tergeser

Saya percaya bahwa tidak semua hal bisa dihitung dengan uang. Ada nilai yang tak tergantikan dalam berkebun, dalam merawat hasil bumi sendiri, dalam mengenal tanah sebagai bagian dari hidup. Pala adalah bagian dari budaya. Dari cerita rakyat hingga ritus adat, rempah ini melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Jika hari ini anak muda tidak lagi mengenal sejarah pala, maka bukan hanya ekonomi kita yang goyah—tetapi juga jati diri kita sebagai orang Halmahera. Ini bukan soal nostalgia, ini soal keberlanjutan hidup yang manusiawi. Sebab yang hilang bukan hanya kebun, tapi akar.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saya tidak sedang menyerukan untuk menolak semua investasi. Tapi kita harus kritis: apakah investasi itu membawa kebaikan jangka panjang, atau hanya kenyang sesaat?

Kita perlu mendorong model pembangunan yang berpihak pada rakyat kecil—yang menghormati tanah, budaya, dan masa depan. Pemerintah daerah memegang tanggung jawab besar. Begitu pula kita: warga kampung, pemuda, dan kaum terpelajar.

Kita bisa mulai dengan memperjuangkan harga pala dan komoditas alam yang adil, membuka akses pasar, dan memperkenalkan teknologi pengolahan rempah yang modern—tanpa kehilangan nilai budayanya.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan soal tinggi gedung atau besarnya pabrik. Tapi soal apakah orang-orang di tanah ini masih bisa hidup dengan martabat, dengan identitas, dan dengan cinta terhadap alam mereka sendiri.

“Jika akar dicabut, pohon tak tumbuh. Jika petani dilupa, tanah pun bisu.”
– R. YHOyphoton

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *