Oleh: Muh. Fitriyadi Arief
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Khairun Ternate
Pasar tradisional kerap dipandang sebelah mata dalam struktur ekonomi modern, namun di banyak daerah, termasuk di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara, keberadaannya justru menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan ekonomi mikro. Pasar-pasar seperti Pasar Labuha, Babang, Obi, dan Kayoa adalah bukti nyata bagaimana interaksi ekonomi tumbuh dari bawah, dari tangan-tangan kecil pelaku usaha lokal yang menopang perputaran uang dan kehidupan masyarakat.
Pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang sosial dan ekonomi di mana petani, nelayan, pedagang kecil, hingga ibu rumah tangga bertemu dalam satu ekosistem yang hidup. Barang yang dijual pun sebagian besar berasal dari sumber daya lokal—mulai dari ikan hasil tangkapan nelayan, sayur-mayur kebun rakyat, hingga makanan olahan skala rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa pasar tradisional memainkan peran strategis dalam menggerakkan ekonomi berbasis komunitas dan sumber daya lokal.
Namun, dinamika ekonomi mikro di Halsel masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Fasilitas pasar yang tidak memadai, dari sanitasi hingga atap pelindung masih menjadi keluhan klasik. Distribusi barang dari desa-desa ke pusat pasar pun belum efisien. Lebih dari itu, pelaku usaha mikro kerap berjalan sendiri tanpa pendampingan serius dari pemerintah. Ketimpangan ini diperparah oleh masuknya produk industri luar daerah yang mendominasi pasar dan menekan produk lokal.
Baca Juga:
Tanah yang Dirampas, Kriminalisasi Rakyat
Kepala Dinas Kesehatan Halsel dan Kepala Puskesmas Pulau Makian Didemo IPMM di Kantor Kejati Malut
Situasi ini menggambarkan betapa pentingnya peran negara, khususnya pemerintah daerah, dalam menciptakan ruang tumbuh yang sehat bagi pelaku usaha kecil. Intervensi kebijakan harus diarahkan pada revitalisasi pasar tradisional secara bertahap tidak hanya memperbaiki fisiknya, tetapi juga sistem dan tata kelolanya. Pelatihan bagi pedagang kecil, pemberdayaan UMKM, dan penguatan akses permodalan melalui koperasi atau BUMDes harus menjadi prioritas.
Di era digital, transformasi teknologi juga menjadi kebutuhan. Pasar tradisional tak boleh tertinggal. Digitalisasi sistem transaksi, promosi online, hingga integrasi dalam platform perdagangan lokal harus mulai dikenalkan. Hal ini bukan sekadar untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga sebagai strategi agar pasar tradisional tetap relevan dan kompetitif di tengah arus modernisasi.
Pasar tradisional di Halsel menyimpan potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi mikro yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang berpihak serta keterlibatan aktif masyarakat, pasar-pasar lokal ini bukan hanya bisa bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi pilar ekonomi daerah yang kokoh membangun dari bawah, memberdayakan yang kecil, dan menjangkau yang paling dekat.










