Aksi Mahasiswa di DPRD Ternate Ricuh, 14 Orang Diamankan Polisi

Breaking News937 Dilihat

POSTTIMUR.com, TERNATE- Gelombang aspirasi mahasiswa yang memadati depan Kantor DPRD Kota Ternate pada Senin (1/9/2025) berujung ricuh. Aparat kepolisian mengamankan sedikitnya 14 mahasiswa setelah dua kali bentrokan pecah di lokasi aksi.

Awalnya, demonstrasi berlangsung damai ketika massa menyuarakan kritik terhadap kebijakan DPR yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Namun, ketegangan meningkat saat polisi mencoba membubarkan massa dengan tembakan gas air mata. Sejumlah mahasiswa jatuh pingsan akibat sesak napas, bahkan beberapa mengalami tindak kekerasan fisik oleh aparat.

Bentrokan pertama terjadi sekitar pukul 14.47 WIT, lima orang langsung digelandang ke mobil polisi, salah satunya diduga masih berstatus pelajar SMP. Sementara bentrokan kedua pecah sekitar pukul 17.25 WIT, menambah sembilan mahasiswa lain yang ikut diamankan.

Baca Juga:

‎Bawaslu Haltim Gelar Penguatan Kelembagaan, Bahas Evaluasi dan Proyeksi Pengawasan Pemilu

PC PMII Ternate Instruksikan Anggota dan Kader untuk Kawal Isu Nasional dan Lokal

Rafindra, salah satu peserta aksi, menyebutkan bahwa demonstrasi ini adalah bentuk perlawanan mahasiswa atas kebijakan DPR yang dinilai hanya menguntungkan elite.

“Kami menolak segala kebijakan yang merugikan masyarakat. DPR harus transparan soal tunjangan rumah, gaji, dan rencana kenaikan gaji anggota dewan. Ini bukan soal kesejahteraan mereka, tapi tentang keadilan rakyat yang terabaikan,” tegasnya.

Selain menyoroti DPR, mahasiswa juga mengecam praktik kekerasan yang kerap dipertontonkan aparat kepolisian. Menurut mereka, polisi lebih sering menghadirkan rasa takut ketimbang memberikan perlindungan. Massa aksi juga menuntut keadilan bagi 11 pejuang lingkungan dari masyarakat adat Maba Sangaji yang hingga kini masih ditahan.

Insiden ini menambah daftar panjang praktik represif aparat dalam merespons aspirasi publik. Pertanyaan mendasar pun kembali mengemuka: apakah ruang demokrasi di negeri ini masih aman bagi rakyat yang bersuara, atau justru semakin dipersempit dengan pentungan dan gas air mata?

Reporter: Ikhy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *