POSTTIMUR.COM, HALTIM_ Dugaan pencemaran laut akibat aktivitas jety milik PT Jaya Abadi Semesta (JAS) kembali menjadi sorotan setelah puluhan petani rumput laut di Desa Fayaul, Kecamatan Wasile Selatan, melaporkan kerusakan tanaman yang terus berulang kurang lebih dua tahun terakhir. Produksi rumput laut yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi warga kini merosot tajam, membuat banyak keluarga terjebak dalam kesulitan.
Rumput laut yang ditanam petani kerap menghitam, membusuk, dan mati sebelum masa panen. Kondisi air laut diduga telah tercemar akibat aktivitas bongkar muat di jety perusahaan milik PT Jaya Abadi Semesta (JAS).
“Setiap kali perusahaan kerja, air keruh dan rumput laut kami mati. Dua tahun kami terpaksa terima keadaan ini,” ujar seorang petani yang enggan namanya disebutkan.
Upaya pemulihan sebenarnya pernah dilakukan. Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara beberapa waktu lalu telah menyalurkan bantuan bibit rumput laut unggul kepada petani Fayaul. Namun harapan itu tidak bertahan lama. Bibit unggul yang seharusnya memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit dan perubahan lingkungan justru mengalami kerusakan serupa ketika ditanam di perairan Fayaul.
“Bibit bantuan itu sebenarnya bagus. Tapi percuma, begitu masuk laut Fayaul langsung rusak. Hasil panennya tetap sedikit, kami tetap rugi,” ungkap petani tersebut dengan nada kecewa.
Petani menilai bahwa sebaik apa pun bibit yang diberikan, selama kondisi laut terus tercemar, mereka tetap tidak bisa bangkit dari kerugian yang menumpuk setiap musim panen.
Selain kerusakan lingkungan, petani juga mempersoalkan ketidakadilan perlakuan dari perusahaan. PT JAS diketahui memberikan ganti rugi kepada petani rumput laut di Desa Nanas yang masuk kategori “ring satu”. Namun Desa Fayaul yang berada tepat di sebelahnya, dengan jarak laut yang berdekatan dan mengalami kerusakan yang sama, justru tak pernah mendapat kompensasi.
“Kami seperti tidak dianggap. Sama-sama terdampak, tapi hanya Nanas yang dapat ganti rugi. Fayaul tidak,” lanjut petani itu.
Kekecewaan petani juga mengarah ke DPRD Halmahera Timur. Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD bulan lalu bersama PT JAS dinilai hanya seremonial karena tidak menyinggung persoalan yang dialami petani Fayaul.
“Kami kecewa sekali. DPRD bilang dengar aspirasi rakyat, tapi masalah Fayaul tidak disebut sama sekali. Seolah-olah kami ini tidak ada,” kata petani tersebut.
Petani berharap ada langkah tegas dan investigasi menyeluruh, bukan sekadar rapat tanpa hasil dan tanpa keberpihakan pada warga terdampak.
Kini petani Fayaul berdiri di persimpangan sulit. Rumput laut rusak, bibit unggul pun gagal tumbuh, ganti rugi tak kunjung datang, sementara perusahaan dinilai tidak memberikan solusi nyata.
Hingga berita ini diterbitkan, PT JAS belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan pencemaran maupun perlakuan berbeda terhadap wilayah terdampak.(*)










