Iklim Dan Tubuh Kita; Ancaman Besar Wabah Penyakit Menular

Kesehatan, Opini343 Dilihat

Oleh : Ismir (Pegiat Literasi)

Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak langsung dari peningkatan emisi gas rumah kaca sejak era Revolusi Industri, yang telah memicu ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pada tahun 1750, konsentrasi CO2 di atmosfer sekitar 280 ppm, meningkat menjadi 425,7 ppm pada tahun 2025 (Global Carbon Project, 2025). Meskipun beban penyakit global akibat perubahan iklim masih relatif kecil—dibandingkan dengan dampak kesehatan akibat kemiskinan, sanitasi yang buruk, dan konflik—krisis iklim abad ini akan mengakibatkan peningkatan dampak kesehatan yang merugikan, terutama di kalangan masyarakat miskin dan mereka yang tinggal relatif dekat dengan garis khatulistiwa.

Teknologi berbasis bahan bakar fosil yang mendorong industrialisasi telah membawa perubahan lingkungan yang mendalam, termasuk pertumbuhan dan polusi udara, air, dan tanah di kota-kota padat penduduk. Perubahan ini berdampak signifikan terhadap kesehatan manusia. Sepanjang abad ke-20 hingga abad ke-21, dunia telah menyaksikan munculnya kawasan metropolitan padat penduduk seperti Mexico City, São Paulo, Mumbai, Beijing, Shanghai, Jakarta, dan Los Angeles, yang oleh para ilmuwan lingkungan disebut “pulau panas” yang tidak sehat, akibat suhu tinggi yang dihasilkan oleh teknologi, jalan beton, bangunan, hilangnya ruang terbuka hijau, dan pertumbuhan penduduk, serta pemanasan global.

Dalam “The Condition of the Working Class in England”, Engels menggambarkan dampak buruk industrialisasi terhadap lingkungan alam dan kesehatan manusia. Sebagaimana Marx memberikan banyak contoh polusi kapitalis seperti, produk sampingan kimia dari produksi industri, serbuk besi dari industri peralatan mesin, limbah rami, sutra, kayu, dan katun dari industri pakaian, kain perca dan pakaian bekas dari konsumen, dan polusi Sungai Thames di London oleh limbah manusia (Merchant, 1992).

John Bellamy Foster dan Brett Clark (2020), menguraikan konsep Marx tentang retakan metabolik dan membahas secara rinci bagaimana kapitalisme menjarah alam melalui produksi komoditas yang menyebabkan ancaman antropogenik terhadap sistem Bumi sebagaimana kita kenal. Berbagai ekonom lingkungan memperlakukan kerusakan ekologis sebagai eksternalitas yang dapat diperhitungkan dalam analisis pasar biaya-manfaat dan menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dipisahkan dari polusi dan emisi gas rumah kaca.

Upaya untuk ‘menghijaukan’ kapitalisme dan menjadikannya ‘ekologis’, pada dasarnya pasti akan gagal, sebab ia merupakan sistem akumulasi yang terus-menerus. Di sisi lain, kapitalisme industri sangat bergantung pada bahan bakar fosil, batu bara, minyak dan gas alam, untuk memproduksi mesin dan berbagai macam barang konsumsi, baik yang esensial maupun mewah—dengan tujuan menggerakkan kapal, kereta api, kendaraan bermotor, pesawat terbang, serta menggerakkan dan memperluas pertanian mekanis.

Lebih lanjut, proyek pembangunan kapitalis di belahan bumi Selatan—seperti pembangunan bendungan, reklamasi lahan, pembangunan jalan, pertanian dan perkebunan, serta pemukiman kembali—telah berkontribusi pada penyebaran penyakit menular seperti malaria dan skistosomiasis. Berbeda dengan modifikasi lingkungan yang relatif kecil yang dilakukan masyarakat adat, perubahan lingkungan yang ekstensif yang diperkenalkan oleh sistem dunia kapitalis—dengan penekanan pada produksi dan konsumsi yang terus meluas—mengakibatkan kontaminan lingkungan yang sama sekali baru, termasuk polutan, bahan kimia beracun, pestisida, dan plastik, yang mengganggu proses biokimia alami.

Sebab, kapitalisme mengandalkan apa yang disebut Jason Moore (2015), sebagai “Empat Murah”: bahan baku murah, batu bara murah, besi murah, dan baja murah, yang semuanya tersedia dalam jumlah terbatas. Perusahaan multinasional, badan usaha milik negara, dan usaha patungan di masyarakat pasca-revolusi, telah menciptakan pabrik-pabrik global (termasuk peternakan pabrik) dan ekosistem global baru yang mencakup polusi industri dan kendaraan bermotor, limbah beracun dan radioaktif, deforestasi, hilangnya spesies dan keanekaragaman hayati, serta perubahan iklim, yang berkontribusi pada apa yang oleh berbagai akademisi disebut sebagai ekosida (Whyte, 2020).

Sistem produksi pangan global yang intensif energi, meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor, sistem pendingin udara, unit hunian skala besar, dan beragam barang konsumsi untuk kalangan kaya, serta meningkatnya penggunaan perjalanan udara untuk bisnis dan liburan, di antara perkembangan lainnya, telah membebani ekosistem yang rapuh dan pada akhirnya mengancam kesehatan manusia (Baer, 2019-2020).

Michael Klare (2019), dalam tulisan bertajuk “All Hell Breaking Loose: The Pentagon’s Perspective on Climate Change”, membahas bahaya penyakit mematikan akibat penyebaran yang ditularkan melalui vektor ke wilayah-wilayah baru seperti virus Zika, demam berdarah dan lain-lain. Lebih lanjut, Klare menjelaskan bahwa bahaya pandemi di masa depan semakin diperparah oleh runtuhnya sistem kesehatan masyarakat di banyak negara miskin dan terdampak konflik. Epidemi yang dapat dikendalikan secara efektif oleh pengobatan tradisional di masyarakat yang berfungsi dengan baik kemungkinan akan meningkat seiring runtuhnya sistem kesehatan—sebuah hasil yang akan semakin mungkin terjadi seiring dengan semakin banyak negara yang terdampak krisis iklim.

Maka, Merrill Singer (2009), mengembangkan sebuah istilah yang disebut ‘ekosindemik’ untuk menggambarkan peran perubahan antropogenik di lingkungan dan iklim dalam meningkatkan frekuensi interaksi penyakit yang merugikan dan, akibatnya, meningkatkan beban kesehatan pada populasi yang terdampak. Ekosindemik kemungkinan besar terkonsentrasi di kalangan masyarakat miskin dan terpinggirkan, yang tidak mampu mengakses nutrisi, sanitasi, tempat tinggal, pengalaman hidup bebas stres, serta layanan kesehatan preventif dan kuratif yang memadai.

Dengan demiikian, meski semua negara dan kawasan di dunia mengalami dampak buruk perubahan iklim akan tetapi negara-negara miskin dan penduduk miskin yang harus menanggung konsekuensinya secara tidak proporsional (Singer, 2021). Singkatnya, ketidakadilan sistem dunia kapitalis—yang mengakibatkan terjadinya polusi, degradasi lingkungan, serta krisis ekologi—telah menjadi masalah kesehatan masyarakat internasional yang utama di dunia kontemporer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *