Luka Yang Didandani Dengan Retorika: Konsekuensi Pembangunan 

Oleh: Hantu Laut

Pada tahun 1990 istilah deforestation seperti menampar dan memberi alarm bahaya dibelahan bumi barat. Seperti Ada tamparan yang membuka mata umat manusia bahwa bumi ini bukan tempat kosong yang tak berujung. Kata itu muncul dari kecemasan atau kewaspadaan tentang karbon yang semakin hilang, suatu wasiat gelap masa depan yang selama ini disimpan hutan. Di Indonesia kita lebih suka menggunakan kata yang dihiasi sedemikan rupa dan dibenarkan oleh hukum seperti Perizinan usaha, pengembangan kawasan dan atau perluasan lahan.

Pada akhir tahun 1990 ada sebuah konferensi di kyoto, dimana dunia dibuat kaget seakan alam sedang memberi teguran pada khalifa di bumi untuk mengukur dosa emisi, karbon deforestation. Tetapi kita melupakannya. Mengutip T Rahadji ; Paradigma pembangunan kita, sejak era Hindia Belanda, berdiri di atas fondasi yang sama: ekonomi ekstraktif. Sebuah pola tua yang diwariskan tanpa wasiat, tetapi dijalankan dengan kepatuhan yang mengejutkan. Seakan-akan republik ini dibangun bukan dari kemerdekaan, melainkan dari kelanjutan tata kelola kolonial yang disahkan ulang dengan bahasa modern dan peraturan baru. karena arus geopolitik membawa aroma lebih kuat ketimbang aroma tanah basah setelah hujan.

Di negeri ini orang merusak hutan tak pernah di anggap sebagai kejahatan, komplotan para perusak dan perampas itu, mereka menghindari kata “kejahatan” dan mereka menyebutnya sebagai “konsekuensi pembangunan”, Mereka memberi nama lain agar tak terasa bahwa mereka sedang merusak. Sementara kita lebih suka menyebutnya ekonomi Ekstraktif, sebuah terobosan yang dibangun sudah sejak Lama bahkan pada jaman dimana kekayaan sumberdaya alam dilihat sebagai kekayaan kerajaan.

Anehnya Adalah justru petani yang berjuang melawan kerakusan para perampas, petani yang berjuang mempertahankan tahan sebagai sumber penghidupan, mereka berjuang agar airnya tidak dirusak oleh Limbah, tanahnya tidak dikeruk oleh mesin teknologi tinggi, udaranya tidak dirusak oleh debu dan polusi mesin pabrik. karena dari Sana mereka makan, mereka hidup dan beranak pinang Sebelum negara hadir merampasnya.

Petani yang berjuang mempertahankan Tanah malah di cap sebagai penjahat yang anti pembangunanisme, diadili di pengadilan lalu dijebloskan ke penjara. Tak jarang banyak Petani yang ditakut-takuti dengan cara diintimidasi, dipukuli, disiksa lalu dibuang begitu saja, sebagai peringatan agar mengikuti kehendak mereka.

Sejak Soeharto mengendarai rezim, jargon pembangunanisme menjadi visi utama dan para teknokrat Orde baru seperti dewa yang menentukan nasib jutaan rakyat, atas nama “pembangunan’ mereka menebang hutan, menelanjangi tanah, menggunduli hutan tanpa bertanya pada satwa dan Mata air. Kita mewarisi pola yang sama dengan lebih radikal tanpa menunggu pohon Tumbuh. Kita hidup diantara dua himpitan Masa lalu kolonial yang tanpa ragu menebang, dan Masa kini yang menebang lalu membuat laporan tentang kelayakan. Ambisi liar mereka untuk menjadi modern itu sekaligus menolak membayar Luka ekologi dan ekosistem. Sekali lagi mereka menyebutnya sebagai ” Konsekuensi pembangunan”.

Seperti yang disampaikan oleh T. Rahardjo “Deforestasi mungkin istilah akademik, tapi kisahnya bukan teori: ia adalah bau tanah basah yang hilang setelah hujan pertama, sungai yang berubah warna, kabut tipis yang bukan lagi embun pagi. Ia adalah metafora tentang bangsa yang berjalan cepat tanpa melihat bayangan nya sendiri. Istilah bisa direvisi, tetapi jejaknya di tanah dan di udara yang makin panas tak bisa dihapus seperti menghapus kata di kertas. Dan pada akhirnya, seperti mozaik yang pecah, kita bertanya: apakah kita mengubah hutan, atau hutan yang pelan-pelan mengubah kita menjadi bangsa yang terbiasa kehilangan?

Dari deretan peristiwa sejarah kita, ruang hidup memang selalu tumbang lebih cepat dari kesadaran kita. Kita seperti mengulangi pola yang sama, mengundang kebinasaan dengan nama yang santun, sambil menjaga ilusi bahwa semua ini demi menuju Indonesia emas tapi yang terjadi adalah Indonesia cemas.

Kalau generasi sekarang melakukan semacam napak tilas sejarah, perjalanan kembali menengok sejarah. Ternyata Indonesia pernah punya napas sosialisme, mulai dari sekolah Rakyat, ekonomi kerakyatan bahkan ada upaya yang benar-benar dan bahkan dengan sangat seriusnya menjadikan petani sebagai pemegang sah atas kedaulatan tanahnya, dimana petani disediakan lahannya secara cuma-cuma dan petani menjadi kekuatan penyelamat dari ancaman krisis pangan.

Napas sosialisme itu berubah 120 derajat setelah terjadi kudeta 1965, Indonesia dikudeta secara Ideologis, ekonomi, politik dan budaya. Napas sosialisme itu kemudian dicekoki oleh kapitalisme dengan kemasan pembangunanisme. Sejak saat itu Rakyat hanya jadi slogan di spanduk-spanduk, dan di janji-janji kampanye lima tahunan sekali. Rakyat bukan lagi subjek pembangunan melainkan makanan empuk bagi korporasi Neolib untuk semakin mempertahankan status quo agar terus menikmati keuntungan dari penderitaan rakyat.

Kalau sekarang ada aktivis yang bilang Reforma agraria itu cuma mimpi, kita boleh menjawabnya dengan: Dulu itu sudah hampir diwujudkan menjadi kenyataan. Tetapi telah digusur oleh mimpi orang lain yang lebih licik, lebih biadab karena lebih mementingkan kepentingan kelompok mereka. Para korporasi itu merubah segalanya untuk menjadikan bangsa ini bangga menjadi hanya sekedar penjaga pintu investor. Hukum pun diubah untuk melayani kepentingan mereka dalam merampas apa yang sebelumnya menjadi milik petani, milik rakyat. Itulah Kapitalisme-Neoliberalisme yang dibanggakan pemerintah saat ini.

Sistem ini juga merevisi sejarah dengan gaya manipulasi mereka dengan tujuan menciptakan satu tatanan kehidupan dimana rakyat menjadi terlalu cepat amnesia alias pelupa. Saya pikir tugas generasi kita sekarang adalah hentikan segala kenyamanan menjadi pelupa. Karena kalau rakyat masih mau belajar dari akar sejarahnya sendiri, masih ada harapan, walau kecil dan tersembunyi di balik rimbunnya kebun sawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *