POSTTIMUR.COM, TERNATE- Menjelang bulan suci Ramadhan, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate didesak untuk segera menyiapkan langkah antisipatif guna menghadapi lonjakan timbulan sampah yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Berdasarkan tren tiga tahun terakhir (2022–2025), volume sampah selama Ramadhan meningkat signifikan hingga mencapai 100–200 ton per hari, atau hampir dua kali lipat dibandingkan hari normal. Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate tahun 2025 mencatat, timbulan sampah tersebut didominasi sampah organik, khususnya sisa makanan.
Pengamat Kebijakan Publik bidang Kesehatan Masyarakat, Nadhir Wardhana, menilai kondisi ini mencerminkan lemahnya kebijakan pengelolaan sampah yang masih bersifat reaktif dan belum ditopang perencanaan yang kuat serta terukur.
“Lonjakan sampah saat Ramadhan bukanlah anomali, melainkan fenomena yang berulang dan dapat diprediksi. Jika setiap tahun terus terjadi tanpa intervensi kebijakan yang memadai, maka persoalannya bukan lagi teknis, melainkan menyangkut tata kelola,” ujar Nadhir Wardhana, alumni Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekaligus Wakil Kepala Research and Policy Center ILUNI FKM UI.
Menurutnya, Pemkot Ternate perlu menggeser pendekatan dari sekadar penanganan menuju pencegahan melalui instrumen kebijakan yang jelas dan terukur. Penataan UMKM, khususnya pedagang makanan dan takjil, harus menjadi prioritas dengan mewajibkan pemilahan sampah sejak dari sumber serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Namun demikian, kebijakan di hulu tersebut harus diimbangi dengan kesiapan sistem di hilir, termasuk penyediaan armada pengangkut sampah yang mampu memisahkan jenis sampah.
Dari sisi masyarakat, perubahan perilaku konsumsi dinilai menjadi kunci utama. Kebiasaan membawa wadah sendiri saat membeli makanan berbuka maupun sahur perlu dilembagakan, tidak hanya sebatas imbauan. Di pusat-pusat keramaian, pengawasan juga harus diperketat dan disertai sanksi bertahap, seperti pembatasan minuman kemasan plastik sekali pakai serta kewajiban penggunaan tumbler.
Lebih lanjut, Nadhir menyoroti dominasi sampah makanan sebagai indikator kuat maraknya perilaku mubazir selama Ramadhan. Padahal, perilaku membuang-buang makanan bertentangan dengan nilai dan spirit bulan suci yang menekankan pengendalian diri dan kepedulian sosial.
“Peningkatan sampah makanan menunjukkan sebuah ironi. Di satu sisi Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, namun di sisi lain justru terjadi pemborosan. Di sinilah peran tokoh agama menjadi sangat strategis untuk terus mengingatkan masyarakat secara konsisten dan masif,” katanya.
Ia menegaskan, momentum Ramadhan seharusnya dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terpadu di tengah masyarakat. Upaya ini tidak hanya bertujuan menekan lonjakan sampah jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi perubahan perilaku dan tata kelola sampah yang berkelanjutan di Kota Ternate.
“Jika dikelola secara serius, Ramadhan dapat menjadi laboratorium sosial untuk membangun kesadaran kolektif serta sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, efisien, dan berkelanjutan,” pungkasnya.(*)










