TAUD Bongkar Dugaan 16 Pelaku Terorganisir di Balik Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS

POSTTIMUR.COM, JAKARTA- Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) membeberkan dugaan keterlibatan 16 orang tak dikenal (OTK) dalam kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Eksternal KontraS, Andrie Yunus. Temuan tersebut menunjukkan adanya pola operasi yang terstruktur, rapi, dan terkoordinasi.

Peneliti independen Ravio Patra yang bekerja bersama TAUD menyebut para pelaku dibagi dalam empat kelompok dengan peran berbeda, mulai dari eksekutor hingga tim komando.

Berdasarkan analisis terhadap 34 rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, TAUD mengidentifikasi pembagian peran sebagai berikut:

  • Tim Eksekusi (OTK 1–5): melakukan penyiraman air keras, pengendara motor pemepet, pemindai lokasi digital, hingga pengawal aksi.
  • Tim Pengintai Jarak Dekat (OTK 6–10): berada di titik strategis seperti Halte Megaria, Jalan Mendut, dan Taman Diponegoro.
  • Tim Komando (OTK 11–13): diduga sebagai pemandu lokasi dan koordinator lapangan.
  • Tim Pengintai Jarak Jauh (OTK 14–16): memantau pergerakan di kawasan Jalan Kimia.

“Kami menganalisis 34 CCTV di sekitar YLBHI, KontraS, Lokataru, hingga TKP. Hasilnya ditemukan belasan pelaku yang saling terhubung,” ujar pengacara publik YLBHI, Afif Abdul Qoyyim, Kamis (9/4/2026).

Berdasarkan temuan tersebut, TAUD telah melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri melalui laporan Tipe B nomor LP/B/136/IV/2026/SPKT/Bareskrim Polri. Laporan itu mencantumkan dugaan percobaan pembunuhan berencana serta indikasi terorisme.

Afif menegaskan, keterlibatan sipil dalam peristiwa ini terbuka dan perlu diusut secara transparan. Ia juga menyoroti adanya penanganan sebelumnya yang melibatkan aparat militer.

Sebelumnya, empat anggota BAIS TNI berinisial NDP, SL, BHW, dan ES disebut telah ditahan sebagai pelaku lapangan, dan kasusnya dilimpahkan ke Puspom TNI.

Penelusuran TAUD menemukan sejumlah barang bukti, termasuk wadah air keras, helm yang meleleh, serta kendaraan yang digunakan dalam aksi, yakni 13 sepeda motor dan dua mobil.

“Kami menunjukkan rekaman CCTV dengan kronologi runut. Ada sedikit perbedaan timestamp, tetapi pola pergerakannya jelas menunjukkan tindakan terorganisir,” kata Ravio.

Kasus penyiraman air keras terjadi sekitar tiga pekan lalu setelah korban mengikuti siniar di kantor YLBHI yang membahas isu militerisme. TAUD menekankan pentingnya proses hukum transparan melalui jalur peradilan sipil guna mencegah potensi impunitas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *