Warga Patani Barat Turun ke Jalan, Desak Pengusutan Tuntas Kasus Pembunuhan di Hutan

POSTTIMUR.COM, HALTENG- Ratusan warga dari Desa Banemo, Bobane Jaya, dan Bobane Indah tumpah ruah ke jalan dalam aksi massa besar-besaran pada Sabtu, 18 April 2026. Demonstrasi ini menjadi puncak kemarahan warga atas lambatnya pengungkapan kasus pembunuhan tragis yang menimpa tokoh agama sekaligus mantan Kepala Desa Bobane Jaya, almarhum Ustad Ali Abas.

Korban, yang dikenal luas sebagai figur panutan masyarakat, ditemukan tewas mengenaskan pada 2 April lalu di area perkebunan warga. Kondisi jasad yang menunjukkan dugaan penyiksaan berat oleh pihak tak dikenal meninggalkan luka mendalam dan trauma kolektif bagi warga di wilayah yang dikenal sebagai Bumi Fagogoru tersebut.

Hutan Tak Lagi Aman, Ekonomi Lumpuh

Bagi masyarakat Patani Barat, tragedi ini bukan sekadar tindak kriminal, melainkan ancaman nyata terhadap ruang hidup mereka. Hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan—tempat warga berkebun dan membiayai pendidikan anak-anak—kini berubah menjadi wilayah yang menakutkan.

“Kedamaian bagi kami adalah hutan yang aman. Sekarang, di tengah musim panen pala, warga justru takut ke kebun sendiri,” ujar salah satu perwakilan massa dalam orasi di atas mobil komando.

Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Banyak kebun ditinggalkan, panen tertunda, dan roda kehidupan masyarakat seakan terhenti oleh rasa takut yang terus menghantui.

Empat Tuntutan Tegas Warga

Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan pernyataan sikap yang berisi empat tuntutan utama:

  1. Mendesak aparat segera mengungkap dan menangkap pelaku pembunuhan pada 2 April 2026.
  2. Menuntut jaminan keamanan bagi warga, khususnya di area hutan dan kebun.
  3. Meminta kepolisian menghentikan pemanggilan warga sebagai saksi ke Sofifi yang dinilai memberatkan.
  4. Mengancam akan melakukan blokade jalan serta menghentikan aktivitas pemerintahan di Patani Barat jika tuntutan tidak dipenuhi.

Warga juga menyoroti langkah aparat yang dinilai tidak tepat sasaran, termasuk pemanggilan sejumlah warga yang dianggap tidak berkaitan langsung dengan kasus tersebut.

“Bumi Fagogoru Harus Bersih dari Teror”

Aksi ditutup dengan pernyataan moral yang menggema di tengah massa. Warga menegaskan bahwa kekerasan dan teror tidak memiliki tempat di tanah mereka.

“Teror dan pembunuhan di hutan harus dihapuskan. Ini tidak sesuai dengan nilai perikemanusiaan dan perikeadilan,” demikian seruan yang disampaikan dalam aksi tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, konsentrasi massa masih terlihat di sejumlah titik strategis di Patani Barat. Warga menunggu respons nyata dari aparat penegak hukum dan pemerintah daerah.

Situasi ini menjadi ujian serius bagi otoritas terkait untuk segera bertindak cepat, transparan, dan adil, demi meredam ketegangan serta mengembalikan rasa aman di tengah masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *