Seri 2 Edukasi Investasi: Ilusi Return yang Tinggi dan Risiko yang Disalahpahami

Oleh: Hartaty Hadady

Akademisi Manajemen Investasi, Universitas Khairun 

Banyak orang tertarik pada investasi bukan karena memahami risikonya, tetapi karena tergiur oleh besarnya keuntungan yang dijanjikan. Masalahnya, semakin tinggi return yang diharapkan, semakin besar pula risiko yang menyertainya dan kondisi ini sering kali diabaikan.

Dalam teori keuangan modern, hubungan antara risiko dan return bersifat linier yaitu semakin tinggi potensi keuntungan, semakin besar ketidakpastian yang harus ditanggung. Prinsip ini bukan sekadar konsep akademik, tetapi fondasi utama dalam setiap keputusan investasi.

Namun dalam praktiknya, banyak investor justru membalik logika tersebut. Mereka menginginkan return tinggi dengan risiko rendah, hal ini adalah kombinasi yang secara teoritispun hampir tidak mungkin terjadi. Ketika ada tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi dan risiko yang diklaim “aman”, seharusnya yang muncul bukanlah ketertarikan, melainkan kecurigaan. Disinilah muncul apa yang dapat disebut sebagai ilusi return.

Ilusi ini terjadi ketika individu lebih fokus pada potensi keuntungan tanpa memahami sumber dan struktur risiko dibaliknya. Yang diperhatikan hanya angka keuntungan, sementara probabilitas kerugian diabaikan. Fenomena ini diperkuat lagi oleh cara informasi yang disampaikan di ruang publik. Testimoni keberhasilan, grafik keuntungan, dan narasi “cuan cepat” lebih dominan dibandingkan edukasi mengenai volatilitas, diversifikasi, atau manajemen risiko.

Akibatnya, persepsi masyarakat terhadap investasi menjadi bias. Investasi tidak lagi dipahami sebagai proses pengelolaan risiko, tetapi sebagai alat untuk memaksimalkan keuntungan dalam waktu singkat. Padahal, dalam kerangka keuangan yang sehat, fokus utama justru bukan pada seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh, melainkan seberapa baik risiko dapat dikelola.

Lebih jauh lagi, kesalahan memahami risiko ini sering kali berujung pada keputusan yang tidak rasional. Individu cenderung menempatkan dana pada instrumen yang tidak sesuai dengan profil risikonya. Mereka yang seharusnya berada pada kategori konservatif justru masuk ke instrumen berisiko tinggi, tanpa kesiapan mental maupun finansial. Ketika kerugian terjadi, respons yang munculpun sangat emosional yaitu panik, menarik dana secara tiba-tiba, atau bahkan menyalahkan pihak lain. Padahal, masalah utamanya bukan pada instrumen investasi, melainkan pada cara memahami risiko itu sendiri.

Selama masyarakat masih terjebak pada ilusi bahwa keuntungan dapat dipisahkan dari risiko, maka investasi akan terus diperlakukan sebagai perjudian yang dibungkus dengan istilah finansial. Dimana hal ini terlihat sangat meyakinkan, tetapi rapuh secara logika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *